KEAJAIBAN SERANGGA

mencari tahu tentang serangga

FENOMENA LARON

Laron ….. adalah seekor hewan yang banyak dikenal orang, saya yakin anda tahu hewan laron ini. Laron atau dalam bahasa indonesia anai-anai adalah hewan yang cukup unik untuk diamati. Kebetulan saya terlintas tentang hewan ini. Coba anda renungkan …. laron … hidupnya untuk apa? Lintasan bayangan saya hidup laron adalah untuk kebaikan pihak lain atau makhluk lain. Marilah kita sedikit melihat kedalam. Laron atau anai-2 biasa hidup didalam tanah, kayu, dinding dsb, dengan membuat rumah disana. Dengan keajaiban liurnya anai-2 kecil/rayap bisa melapukan sebuah kayu bahkan kayu terkuat sekalipun, mereka memiliki seorang ratu yang sangat dihormati. Mereka terbiasa dengan kerjasama dan gotong royong dalam habitatnya untuk membangun sebuah peradaban yang sangat berguna bagi bangsanya. Setelah musimnya tiba, biasanya musim hujan para ratu (laron) tumbuh dan berkembang yang sangat dihormati kaumnya. Ia dilindungi dalam komunitasnya sehingga tumbuh dan berkembang dengan pesat. Setelah tiba saatnya, maka laron tersebut akan keluar dari sarangnya. Akan terbang kemana ia suka, ia akan terbang dan mencari lampu-2 terang dari tempat gelapnya. Tapi apa yang terjadi …? Laron ini akan diambil manusia untuk dimasak, laron akan dimakan oleh cicak, laron akan dimakan oleh ayam, laron akan dimakan oleh burung, laron akan dimakan oleh katak, dsb… bila tidak ada yang memakannya ia akan jatuh kehilangan bulu dan mati. Coba anda bayangkan kehidupan laron tersebut ? … Adakah hikmah disana ? ….. Semoga kita bisa memberikan kehidupan yang bermanfaat kepada orang/pihak lain, …. wallohu’alam bishowab.

Agustus 1, 2009 Posted by | rayap | Tinggalkan komentar

BELALANG vs BELALANG ?

mantis-religiosa Pernah liat binatang ini? Apakah namanya? Mungkin sejak kecil kamu mengenal binatang itu sebagai Belalang. Begitukah?  Coba amati sekali lagi deh, Berjalan merayap pelan, menagkap magsanya dengan kedua lengan kuatnya, dan ah dia ternyata pemakan binatang juga.

th_17824_HPIM1960_122_387loMemang belalang dan binatang ini, keduanya sama-sama termasuk dalam Kelas INSECTA, namun mereka berbeda ordo.

Ada yang mengenalnya dengan nama Congcorang, atau walang sembah, atau Belalang Sentadu, dalam bahasa inggris kerap disebut ”praying mantis” yang artinya kira-kira nabi yang sedang berdoa (karena memang posisi binatang ini seperti sedang berdoa)

th_17906_HPIM4591_122_421loBelalang termasuk serangga herbivora alias pemakan tumbuh-tumbuhan,

Sqeat2 Sementara itu binatang ini bernama congcorang, adalah pemakan serangga, sehingga dapat dimanfaatkan oleh para petani sebagai pembasmi hama tertentu (disebut sebagai pembasmi hama biologis)

Kalau congcorang dimanfaatkan sebagai pembasmi hama, justru belalang adalah hama serius bagi pertanian, karena termasuk hama yang memiliki daya jelajah yang luas dan daya merusak yang tinggi. Beberapa daerah di Indonesia pernah merasakan bahaya hama yang terkenal dengan nama belalang kembara.

Nah sudah tidak salah kaprah lagi kan? Mana yang congcorang dan mana yang belalang?***

(dari berbagai sumber)

Agustus 1, 2009 Posted by | belalang | Tinggalkan komentar

Racun Kumbang Bunuh 1.000 Spesies Asli

LONDON – Lebih dari 1.000 spesies asli berpotensi terkena serangan racun yang menyebar dari  kumbang harlequin.

Hasil studi para peneliti ini mengungkapkan bahwa seekor kumbang harlequin berpotensi membahayakan serangga, parasit dan jamur yang hidup di sekitarnya.

Sejak kemunculannya di Inggris Utara pada 2005, harlequin langsung membentuk koloni dan berkembang sangat pesat. Sekarang, habitat harlequin dapat ditemukan di penjuru daerah Inggris mulai dari Essex hingga Orkney. Demikian keterangan yang dikutip dari Daily Mail, Selasa (30/6/2009).

Dr Helen Roy, dari Centre for Ecology and Hydrology, mengatakan keberadaan serangga asli akan semakin tersisih dan menyusut seiring dengan kian gencarnya peningkatan jumlah harlequin.

“Kami percaya, jika tidak segera ditindaklanjuti, dampak negatif harlequin di Inggris akan semakin memburuk, bahkan berpotensi memusnahkan lebih dari 1.000 spesies asli,” kata Helen.

Tahun ini, diperkirakan ada sekira satu miliar harlequin mengancam keselamatan telur kumbang berlainan jenis, larva kupu-kupu dan telur hewan serangga lainnya.

Awalnya, kumbang harlequin berasal Asia dan dibawa ke AS 25 tahun lalu. Jenis serangga ini diperkenalkan ke Inggris sebagai pest controller ramah lingkungan.

Namun rupanya, perkembangan harlequin menjadi kian pesat dan tak terkendali. Serangga ini terutama mengeluarkan racun yang menginvasi makhluk hidup di sekitarnya.

Agustus 1, 2009 Posted by | kumbang | Tinggalkan komentar

Belajar Terapi Pengobatan dari Belalang

Manusia dan serangga memiliki kemiripan dalam hal gangguan otak yang menyebabkan penyakit migren, stroke dan epilepsi. Oleh karenanya, ilmuwan memanfaatkan kemiripan ini dengan menganalisa belalang sebagai petunjuk untuk menemukan terapi pengobatan yang cocok untuk penyakit-penyakit tersebut.
Ahli biologi dari Queen’s University menemukan bahwa gangguan kesehatan ini terkait erat dengan gangguan fungsi otak yang terjadi akibat penutupan sel syaraf. Demikian keterangan yang dikutip dari Machine Like Us, Sabtu (4/7/2009).

Rupanya, hal ini juga dirasakan oleh belalang ketika mereka mengalami koma setelah terpapar kondisi cuaca yang sangat ekstrim seperti suhu panas dan kekurangan oksigen.

Uniknya serangga memiliki kemampuan bertahan pada saat memasuki kondisi koma. Serta merta mereka langsung melakukan pemulihan secara mandiri. Cara ini bekerja seperti obat yang mengarah langsung pada salah satu target sel yang menyebabkan rasa sakit.

“Inilah yang tengah kami kembangkan. Kami meniru apa yang dilakukan belalang dan menerapkan metode ini untuk pengobatan migren, stroke dan epilepsi pada manusia,” kata salah satu ilmuwan dalam penelitian ini, Gary Armstrong.

“Yang membuat saya sangat takjub adalah, belalang memiliki kemampuan dalam menekan serangan rasa sakit dan meminimalisir dampak gangguan otak hingga 70 persen,” tambahnya.

Hasil studi ini memperlihatkan bahwa belalang mengalami koma sebagai upaya beristirahat sejenak dan mengumpulkan kembali energi di saat kondisi tubuhnya sedang gawat. Respon sel otak yang terjadi pada belalang ini serupa dengan yang terjadi pada manusia pada saat mengalami migren. (srn)

Agustus 1, 2009 Posted by | belalang | Tinggalkan komentar

Serangga Terpanjang di Dunia dari Kalimantan

« Hide related posts

Serangga berbentuk batang dari Kalimantan ditetapkan sebagai serangga terpanjang di dunia oleh ilmuwan Inggris awal pekan ini. Spesimen tersebut ditemukan oleh warga setempat dan diteliti oleh naturalis amatir Malaysia, Datuk Chan Chew Lun tahun 1989. Menurut Philip Bragg yang secara resmi mengidentifikasi serangga ini di jurnal Zootaxa, spesies ini diberinama Phobaeticus chani, alias “Chan’s megastick”.

Pecahkan Rekor

Paul Brock dari Natural History Museum in London mengatakan bahwa itu adalah jenis serangga terpanjang yang pernah ditemukan selama ini. Pernyataan ini dibenarkan juga oleh Marco Gottardo, pakar etimologi dari Natural History Museum of Ferrara, Italia, dan Aaron T. Dossey, ilmuwan asalUniversity of Florida .

Menyerupai pensil kurus dari bambu, serangga ini memiliki panjang sekitar 22 inchi jika diukur beserta kakinya. Panjang tubuhnya saja sekitar 14 inchi. Panjangnya rubuh serangga tersebut mengalahkan serangga panjang yang pernah dijumpa sebelumnya, Phobaeticus kirbyi, yanh hanya satu inchi.
Serangga panjang ini memiliki kemampuan berkamuflase untuk membela diri. Ia juga mampu menyemprotkan cairan beracun untuk melawan predatornya.

Agustus 1, 2009 Posted by | serangga lain (1) | Tinggalkan komentar

CARA MAKAN DAN BERBURU ALA SEMUT

Setiap makhluk hidup menggunakan cara yang berbeda untuk memuaskan kebutuhan pangannya. Bab ini membahas taktik semut ketika mencari makanan, cara komunikasi mereka, dan persaingan dalam mendapatkan makanan. Semua taktik yang di-gunakan seekor serangga kecil dalam mendapatkan makanan ini me-nunjukkan kebesaran, keagungan, dan kekuasaan Allah Yang Maha Mengetahui, yang telah menciptakan makhluk ini.

Bagaimana “keluarga” yang beranggota ratusan ribu memperoleh makanan? Satu hal yang paling penting bagi kelangsungan hidup koloni adalah kemampuannya memecahkan masalah makanan. Setiap semut dalam koloni memiliki kewajibannya masing-masing.

Sebagaimana aspek kehidupan mereka yang lain, semut bekerja secara sistematis dalam menyelesaikan masalah pangan. Semut pekerja tua ditugaskan sebagai penjelajah yang menyurvei tanah di sekitar sarang untuk mendapatkan sumber makanan bagi koloni yang populasi-nya mencapai ratusan ribu (bahkan terkadang jutaan). Ketika para pen-jelajah menemukan sumber makanan, mereka mengumpulkan teman-teman sesarang di sekitar makanan. Jumlah semut yang berkumpul bergantung pada besar dan kualitas sumber pangan ini. Semut menye-lesaikan masalah makanan dengan jaringan komunikasi yang sangat kuat dan juga dengan kemurahan hati mereka; semut tidak pernah berkata “Hanya aku”.

Semut yang Saling Memberi Makan

Semut dari spesies yang berlainan berusaha tidak saling bertemu selagi mencari makanan. Setiap spesies mencari jalan masing-masing untuk mencapai sumber makanan. Jika semut tidak sengaja memasuki wilayah kekuasaan koloni lain, perang pun terjadi. Dalam situasi seperti ini, semut penjelajah segera kembali ke sarangnya dan menutup pintu masuknya, sedangkan seluruh anggota koloni berkumpul dan bersama-sama melindungi koloni dari bahaya.

Jadi, bagaimana semut makan selama pertempuran, padahal mereka tidak sempat mencari makanan?

Pada saat ini, muncullah keistimewaan semut yang tidak ada pada makhluk hidup lainnya. Selama mereka tidak dapat mencari makanan, semua anggota koloni memakan cadangan makanan yang tersimpan da-lam tembolok semut pekerja muda.

Sebenarnya, teknik pembagian makanan ini dilakukan tidak hanya pada saat-saat tertentu, tetapi sepanjang hidup mereka. Semut tidak hanya membawa butiran makanan di dalam tubuhnya, tetapi juga saling memberi makan dari mulut ke mulut. Ketika semut pemburu pulang membawa makanan cair, ia menggelengkan kepalanya ke kanan-kiri untuk menarik perhatian kawan-kawannya atau langsung menghampiri mereka dan menunjukkan butiran makanan di mulutnya.84 Makanan cair dipompa dari tembolok sehingga pembagian makanan berlangsung cepat. Pertukaran makanan ini merupakan contoh berbagi yang luar biasa. Sekam dan biji-bijian yang dibawa ke sarang juga dimakan semua semut bersama-sama. Oleh karena itu, kebutuhan makanan seluruh koloni dapat dipenuhi tanpa masalah.

Sistem ini menjadi bukti yang tidak dapat disanggah akan keberada-an sosok “perancang yang agung”. Tidak mungkin sistem penyimpanan yang begitu rumit dan membutuhkan pengorbanan besar ini dapat ter-bentuk tanpa direncanakan. Selain itu, setiap semut yang lahir menge-tahui sistem ini. Oleh karena itu, keharusan membagi makanan pastilah telah diketahui semut sebelum ia menetas, bukan dipelajari sesudahnya. Semut tidak saja diilhami dengan rasa rela berkorban, tapi juga di-anugerahi dengan struktur tubuh yang sesuai, sehingga ia dapat membagi makanan yang sudah disimpannya di dalam tembolok. Sebuah “kebetulan” tentunya tidak mungkin menjadi penyebab fenomena ini, melihat tingginya pengorbanan diri yang ada. Sebagaimana ditekankan berulang kali dalam buku ini, teori evolusi senantiasa menggambarkan bahwa semua makhluk hidup bersaing dan berjuang mempertahankan hidupnya. Oleh karenanya, teori ini sangat sulit menjelaskan contoh pengorbanan yang dilakukan spesies semut. Semut hidup dalam sistem yang membuat mereka saling berbagi makanan. Ini membuktikan bahwa tingkah laku mereka berbeda dengan apa yang disodorkan teori evolusi. Semut tidak “bertempur” demi keselamatan dirinya, tetapi menjalankan tugas yang diberikan kepadanya (sebagaimana dikatakan dalam Al Quran, “diilhamkan kepada mereka”), sehingga dapat mengubah koloninya yang beranggotakan ratusan ribu atau bahkan jutaan semut menjadi masya-rakat sejati.

Dalam Al Quran surat An-Nahl, Allah menggambarkan Dia memberi “wahyu” kepada hewan, sehingga hewan menjalankan kewajiban sesuai perintah-Nya:

“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu).” Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesung-guhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.” (QS. An-Nahl, 16: 68-69) !

Tentu saja, tidak semua tugas hewan tertulis dalam Al Quran. Lebah madu hanyalah salah satu contoh. Bila kita memperhatikan semut, dapat kita lihat bahwa hewan kecil ini bertindak sesuai tugas yang diilhamkan kepadanya seperti lebah madu, yang juga murah hati, sosial, dan setia.

Membawa Makanan dengan Teknik yang Rasional

Semua spesies semut, yang jumlahnya mencapai kira-kira 8.800 spesies, mencari makanan dan membawanya pulang dengan cara yang berbeda-beda. Dalam spesies-spesies tertentu, semut berburu sendirian dan membawa pulang makanannya masing-masing. Spesies lain berburu berkelompok dan membawa serta menjaga makanannya bersama-sama.

Kalau mendapatkan makanan yang ukurannya cocok bagi tubuhnya, biasanya semut membawanya sendirian. Kalau ukuran makanan terlalu besar atau kalau semut menemukan beberapa gundukan kecil makanan di suatu daerah, mereka mengeluarkan hormon beracun untuk mencegah semut lain agar tidak menghampiri daerahnya. Kemudian, mereka memanggil para pekerja lain, besar maupun kecil, untuk bersama-sama mengangkut makanan.

Dalam kehidupannya, semut juga mengenal pembagian tugas yang sangat sempurna. Semut besar memotong-motong makanan dan menjaganya dari hewan-hewan asing, sementara semut kecil membawa pulang makanan. Semut pekerja mengangkat makanan dengan rahangnya dan membawa makanan di depan selagi kembali ke sarang. Kalau bekerja berkelompok, semut dapat membawa potongan makanan yang lebih besar. Mereka mengangkat makanan menggunakan satu atau dua kaki. Pada saat yang sama mereka juga menggigit makanannya dengan rahang terbuka. Semut pekerja menggunakan cara yang berbeda-beda berdasarkan posisi dan arahnya. Semut yang di depan bergerak mundur sambil menyeret makanan. Semut yang di belakang berjalan maju sambil mendorong makanan. Semut yang di samping membantu mengangkat. Dengan cara ini, semut dapat mengangkat makanan beberapa kali lebih berat dari yang bisa dibawa seekor semut. Berdasarkan pengamatan, ditemukan bahwa jika semut bekerja sama, mereka dapat mengangkat beban seberat 5.000 kali berat yang dapat diangkat seekor semut pekerja. Seratus ekor semut dapat membawa seekor cacing besar di atas tanah dan bergerak dengan kecepatan 0,4 cm per detik.

Semut dan Jejak Bau

Teknik komunikasi dengan jejak (mengikuti jejak bau) sering digunakan oleh semut. Banyak contoh yang menarik dalam hal ini:


Semut yang menemukan sumber makanan meninggalkan jejak senyawa kimia di tanah melalui sengat pada bokongnya. Jejak yang dibuatnya membantu teman-temannya menemukan sumber makanan.

Suatu spesies semut yang hidup di gurun pasir di Amerika menge-luarkan bau khusus yang diproduksi di kantung racunnya jika ia menemukan serangga mati yang terlalu besar atau berat untuk di-bawanya. Teman-temannya sesarang dari jauh dapat mencium bau yang dikeluarkan dan mendekati sumbernya. Ketika jumlah semut yang berkumpul di sekitar mangsa sudah cukup, mereka membawa serangga tersebut ke sarang.

Ketika semut api berpisah untuk mencari makanan, mereka meng-ikuti jejak bau selama beberapa lama, lalu akhirnya berpisah dan mencari makanan masing-masing. Sikap semut api berubah jika sudah mene-mukan makanan. Kalau menemukan makanan, semut api kembali ke sarang dengan berjalan lebih lambat dan tubuhnya dekat dengan tanah. Ia menonjolkan sengatnya pada interval tertentu dan ujung sengat menyentuh tanah seperti pensil menggambar garis tipis. Demikianlah semut api meninggalkan jejak yang menuju ke makanan.85

Semut yang Bertindak sebagai Kompas

Semut yang bertugas mencari makan biasanya menjalankan tugas dengan cara yang sulit dijelaskan. Ia berangkat ke sumber makanan dengan berjalan berkelok-kelok, tetapi kembali ke sarang dengan rute lurus yang lebih singkat. Bagaimana mungkin seekor semut yang hanya dapat melihat beberapa sentimeter ke depan bisa berjalan lurus?

Untuk menjawab pertanyaan ini, seorang peneliti bernama Richard Feynman meletakkan sebongkah gula di salah satu ujung bak mandi, lalu menunggu seekor semut datang dan menemukannya. Ketika semut yang pertama kali datang ini kembali ke sarangnya, Feynman mengikuti jejaknya yang berkelok. Kemudian Feyman mengikuti jejak semut-semut berikutnya. Ternyata Feynman menemukan bahwa semut yang datang belakangan tidak mengikuti jejak yang ditinggalkan; mereka lebih pintar, mengambil jalan memotong sampai akhirnya jejaknya menjadi berbentuk garis lurus.

Diilhami hasil penelitian Feynman, seorang ahli komputer bernama Alfred Bruckstein membuktikan secara matematis bahwa semut-semut yang datang selanjutnya memang meluruskan jejak berkelok itu. Kesim-pulan yang didapatnya sama: setelah beberapa ekor semut, panjang jejak dapat diminimalkan menjadi jarak terpendek antara dua titik dengan kata lain, membentuk garis lurus.86

Apa yang diceritakan tadi tentu saja membutuhkan keahlian jika dilakukan oleh manusia. Ia tentu harus menggunakan kompas, jam, maupun perlengkapan yang lebih canggih lagi untuk menentukan suatu jarak. Orang ini harus juga menguasai matematika. Berbeda dengan manusia, penunjuk jalan semut adalah matahari, sedangkan kompasnya adalah cabang pohon dan tanda alam lainnya. Semut mengingat bentuk tanda-tanda ini, sehingga dapat menggunakannya untuk menemukan rute pulang terpendek, meskipun rute ini benar-benar baru baginya.

Meskipun kedengarannya mudah, sebenarnya cara ini sulit dijelas-kan! Bagaimana mungkin seekor makhluk kecil seperti semut, yang tidak memiliki otak maupun kemampuan berpikir dan mempertimbangkan, melakukan perhitungan seperti ini?

Bayangkan jika seorang manusia ditinggalkan di hutan yang tidak dikenal. Walaupun orang ini mengetahui arah yang harus dituju, ia akan kesulitan menemukan jalan yang tepat dan mungkin saja tersesat. Selain itu, ia juga harus melihat keadaan sekitar dengan hati-hati dan mem-pertimbangkan jalan mana yang terbaik. Namun, semut bertindak seolah-olah mengetahui benar cara menemukan jalan. Pada malam hari, mereka dapat menemukan dan mengikuti jalan yang mereka tempuh saat menemukan makanan pada pagi harinya, meskipun kondisinya berubah.

Teknik Berburu yang Sempurna

Beberapa spesies semut menggunakan gigi untuk memakan telur laba-laba, ulat, serangga, dan rayap. Banyak spesies semut (misalnya Dacetine) yang khusus memakan serangga tanpa sayap. Serangga yang dimangsa Dacetine ini hidup berkelompok di tanah dan di daun busuk. Ia juga memiliki tonjolan berbentuk garpu di bawah tubuhnya. Ketika ia bergoyang dan berdiri tegak, organ ini melontarkan tubuhnya ke udara dan bergerak maju bagaikan kangguru mini. Semut Dacetine meng-gunakan rahangnya bagaikan perangkap hewan untuk menghadapi manuver mangsanya. Ketika semut pencari makan mencium bau serangga dengan antenanya, ia mengintai dengan rahang terbuka 180 derajat. Semut ini mengaitkan gigi kecilnya pada rahangnya dengan cara menekankannya ke langit-langit mulut. Lalu, semut memeriksa sekitar-nya dengan menggerakkan antenanya ke depan. Kemudian semut men-dekati serangga perlahan-lahan. Ketika antenanya menyentuh mangsa-nya, si serangga kecil terjangkau oleh gigi bawah semut. Ketika semut menurunkan langit-langit mulutnya, rahangnya mendadak menutup dan mangsanya terjepit di antara giginya.87

Semut yang diceritakan ini tidak pernah meleset karena rahangnya memiliki refleks tercepat di dunia.

Kecepatan kedipan mata kita sangat lambat jika dibandingkan de-ngan kecepatan gigitan semut ini ketika menjebak mangsanya. Kelopak mata kita membuka dan menutup dalam sepertiga detik; rahang semut Odontomachus bawi bekerja 100 kali lebih cepat. Gigitan tercepat yang teramati memakan waktu 0,33 milidetik.88

Struktur rahang semut penjebak panjangnya sekitar 1,8 milimeter. Pada bagian dalamnya terdapat kantong udara yang menempel ke trakea. Sistem ini menyebabkan gigi dapat bergerak cepat. Rahangnya berfungsi sebagai perangkap tikus mini. Ketika berburu, rahang terbuka lebar dan siap menutup setiap saat. Kecepatan menggigitnya berkurang menjelang akhir proses menggigit. Agar giginya tidak beradu terlalu keras, gerakan rahang diperlambat dengan sistem otot khusus.89

Tidak mungkin mekanisme berburu yang begitu rumit terbentuk melalui proses evolusi, tanpa proses perancangan terencana dan terjadi secara acak.

Satu-satunya kebenaran yang dapat diterima adalah adanya sebuah kekuatan yang menciptakan semut dengan semua karakter mereka yang menakjubkan dan cara hidup mereka yang sempurna. Kekuatan ini adalah Allah yang Mahakuasa atas segala yang ada di alam dan di jagat raya.

Agustus 1, 2009 Posted by | semut | Tinggalkan komentar

MELESTARIKAN RAS

Sebagian besar anggota koloni semut adalah semut betina. Semut jantan berusia lebih pendek. Satu-satunya tugas mereka ketika dewasa adalah mengawini ratu semut muda. Semut jantan mati tak lama setelah kawin. Semua semut pekerja adalah betina. Pendek kata, semua komunitas semut sebenarnya terdiri atas ibu dan putrinya.

Semut memiliki kehidupan sosial yang harmonis meskipun jumlah mereka besar. Dalam koloni semut, kita dapat menyaksikan setiap tahap dalam kehidupan masyarakatnya. Tujuan hidup semut, yang terikat pada koloninya dengan pengorbanan yang besar, tidaklah bersifat individual. Mereka semua, bersama-sama, ibarat tubuh yang satu, dan tujuan mereka adalah melestarikan hidup tubuh itu. Mereka tidak ber-pikir dua kali untuk mengorbankan nyawa, jika itu dapat melangsung-kan hidup koloninya. Contoh terbaik hal ini adalah kejadian yang me-nimpa semut jantan setelah perkawinan.

Mati demi Kelangsungan Hidup Rasnya

Perkawinan semut berlangsung bagaikan sebuah upacara. Perka-winan semut kebanyakan terjadi di udara. Para pejantan datang lebih dahulu dan menunggu kedatangan sang ratu muda. Ketika seekor betina hinggap di tanah (si betina juga memiliki sayap sebelum kawin), 5-6 pejantan mulai berlari mengelilingi sang ratu. Ketika si betina telah mendapatkan cukup sperma, ia mengirimkan sinyal berbentuk getar-an. Pejantan memahami sinyal ini sebagai tanda bahwa si betina siap untuk melepaskan diri. Tak lama setelah perkawinan, semut pejantan mati.78

Pengorbanan seperti ini sangat sulit untuk dijelaskan. Demi kelang-sungan rasnya, semut jantan rela mengikuti upacara perkawinan yang berakhir dengan kematiannya. Hal ini merupakan suatu sikap yang sulit dijelaskan dengan teori evolusi. Berdasarkan logika evolusi, setiap makhluk hidup hanya memikirkan kelangsungan hidupnya. Namun, perkawinan semut jantan dengan semut betina telah terjadi selama jutaan tahun, meskipun si pejantan mengetahui bahwa pada akhirnya ia akan mati.

Satu-satunya teori yang dapat menjelaskan fenomena ini adalah bahwa semut jantan bertindak sesuai inspirasi Sang Pencipta. Jika bukan karena inspirasi ini, tidak mungkin seekor makhluk, yang katanya telah melalui tahap seleksi alam, akan mempertahankan sifat pengorbanan ini selama jutaan tahun. Berdasarkan prinsip-prinsip dasar teori evolusi, semut jantan seharusnya mencoba melepaskan diri dari “upacara kematian” ini dengan berbagai cara, meskipun berarti spesies semut akan musnah. Akan tetapi, kenyataannya ribuan spesies semut masih tetap ada di muka bumi ini dengan koloni beranggotakan ratusan ribu ekor. Tidak seekor pun semut jantan melarikan diri dari ritual yang akan mengakhiri hidupnya.

Setelah Perkawinan

Setelah kawin, si betina mencari sarang yang sesuai. Setelah mene-mukannya, ia masuk dan segera melepaskan sayapnya. Kemudian, ia menutup pintu masuk dan tinggal di sana sendirian tanpa makanan selama beberapa minggu. Lalu, ia bertelur. Selama masa ini, ia memakan sayapnya. Ia memberi makan larva yang baru menetas dengan air liurnya sendiri. Usaha yang memakan waktu dan tenaga ini adalah salah satu contoh pengorbanan lain. Selama sisa hidupnya, sang ratu diberi makan oleh koloninya.

Karena keterbatasan makanan, keturunan pertama sang ratu bertubuh kecil. Merekalah semut pekerja pertama yang merawat keturunan selanjutnya, dan terus berkorban dengan cara yang sama. Generasi semut baru yang dirawat dengan baik ini kemudian tumbuh lebih besar, karena mendapatkan gizi yang lebih baik.

Pendiri Bank Sperma yang Pertama

Sebagaimana disebutkan sebelum-nya, semut jantan tidak berumur panjang. Usia mereka berkisar antara beberapa jam sampai beberapa hari setelah perkawinan. Meskipun demikian, pejantan yang sudah kawin ini meninggalkan sperma yang membentuk keturu-nannya, yang lahir bertahun-tahun setelah ia mati. Bagaimana sperma ini disimpan sehingga tetap hidup dan dapat membuahi telur untuk menghasilkan semut baru? Mungkinkah semut telah mengembangkan teknologi supercanggih dan membangun bank sperma?


Setelah upacara perkawinan, ratu mencari tempat yang cocok untuk mendirikan koloninya. Ketika menemukan tempat yang diinginkannya, sang ratu melepaskan sayapnya dan mulai membentuk koloninya dengan bereproduksi.

Setiap ratu semut memiliki bank sperma dalam tubuhnya. Setelah menerima ejakulasi dari pejantan, sang ratu menyimpan sperma dalam kantung oval di dekat ujung perutnya. Dalam organ spermatheca ini, setiap sperma dinonaktifkan secara fisiologis dan disimpan dalam keadaan ini selama bertahun-tahun. Ketika kelak sang ratu mengeluarkan sperma ini ke saluran reproduksinya, baik satu-satu maupun dalam kelompok kecil, sperma diaktifkan kembali dan siap membuahi telur yang masuk ke saluran dari indung telur.79 Ini berarti bank sperma yang kita kenal 25 tahun ini melalui teknologi tinggi, telah digunakan oleh semut sejak jaman prasejarah.

Mekanisme bank sperma yang baru terpikir oleh manusia sekitar 50 tahun yang lalu, telah digunakan oleh semut selama jutaan tahun. Karena semut tidak mungkin melakukan prosedur yang digunakan manusia, seperti mendirikan laboratorium dan memasukkan mekanisme ini ke dalam tubuhnya, mereka pasti telah memiliki mekanisme seperti ini sejak awal. Jika kita menduga bahwa mekanisme ini tidak mereka miliki sejak awal, pertanyaan-pertanyaan di bawah ini akan muncul.

Ketika semut muncul di dunia untuk pertama kalinya, apakah pejantannya juga mati saat upacara perkawinan? Jika tidak, mengapa sekarang mereka mati? Apakah kematian dalam upacara perkawinan ini sejalan dengan teori yang menyatakan bahwa di alam ini yang cocoklah yang akan menang?

Karena semut jantan mati tak lama setelah upacara perkawinan, bukankah seharusnya semut sudah lama punah andai saja tidak ada tempat penyimpanan sperma yang dibutuhkan bagi kelangsungan hidup spesies ini?

Jika bank sperma semut sudah ada sejak semut ada pertama kalinya, siapakah yang memperlengkapi tubuh mereka dengan mekanisme ini?

Ini hanyalah beberapa contoh pertanyaan yang harus dijawab oleh mereka yang tidak percaya akan keagungan penciptaan oleh Sang Pencipta. Ribuan pertanyaan lain mengenai kelangsungan hidup spesies semut dapat saja muncul, yang masing-masing mengarah ke masalah penciptaan berencana yang tidak dapat dijawab oleh para evolusionis.

Pengorbanan Para Pekerja

Telur dari sang ratu dan semut muda yang belum dewasa ini hidup di ruang pemeliharaan dalam sarang semut. Jika suhu dan kelembapan udara membahayakan bagi semut muda, para pekerja membawa telur dan semut muda ke lingkungan yang lebih sesuai. Pada siang hari, mereka menyimpan telur dekat ke permukaan agar hangat, lalu membawa telur kembali ke ruangan yang lebih dalam pada malam hari atau ketika hujan.


Atas: Sekelompok semut pekerja hanya bertugas memelihara telur dan larva. Para pekerja ini sangat murah hati mengenai waktu. Mereka mengabdikan seluruh hidupnya bagi kelangsungan spesies mereka.

Ini berarti para pekerja berusaha melindungi telur dan semut muda dengan cermat dan berusaha agar mereka tetap nyaman. Jika hari sedang panas, sebagian semut pekerja membawa larva berkeliling sarang untuk mendinginkannya. Sebagian menutupi dinding sarang dengan kulit kepompong buangan untuk mencegah kelembapan. Sebagian lagi mencari makanan. Setiap tindakan ini menunjukkan bahwa semut ini baik hati. Seekor membawa larva berkeliling sarang untuk men-dinginkannya, sementara seekor menyekat dinding sarang dengan kulit kepompong teknik sekat yang modern untuk mengatur suhu. Namun, jangan lupa bahwa semut yang bersikap sangat penyayang ini tidak memiliki kemampuan berpikir. Bagaimanapun majunya teknologi mereka, ilmu pengetahuan tidak akan dapat menemukan penyebab pengorbanan yang ditunjukkan serangga kecil ini. Selain itu, pengor-banan ini sangat bertolak belakang dengan prinsip-prinsip dasar teori evolusi.

Contoh-contoh ini menunjukkan betapa makhluk hidup juga bertin-dak menurut kehendak Allah dan mereka pun mematuhi-Nya. Rahasia ini dijelaskan dalam Al Quran sebagai berikut:

“Dan kepada Allah sajalah bersujud segala apa yang berada di la-ngit dan semua yang makhluk yang melata di bumi dan (juga) para malaikat, sedang mereka (malaikat)tidak menyombongkan diri. Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan me-laksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka).” (QS. An- Nahl, 16: 49-50) !

Harta Karun Semut

Semua kegiatan koloni semut berkisar seputar ratu dan telurnya. Ratu semut yang bertugas bereproduksi ini sangat dijunjung tinggi oleh rakyatnya. Semua keperluan sang ratu dipenuhi para pekerjanya. Hal terpenting yang dilakukan semut pekerja adalah melayani sang ratu dan memastikan bahwa sang ratu dan bayinya selamat.

Telur semut sebagai harta karun yang paling berharga bagi koloni. Ketika semut merasakan bahaya mengancam larva, yang pertama ia lakukan adalah memindahkannya ke tempat aman. Akan tetapi, karena bayi semut mati jika berada di udara kering di luar sarang selama beberapa jam, para pekerja berusaha menjaga kelembapan udara tempat larva berada. Ada berbagai teknik yang mereka gunakan untuk hal ini. Pertama, mereka membangun sarang sedemikian rupa untuk menjaga kelembapan udara dan tanah. Selain itu, semut yang menjadi perawat bayi memindahkan semut muda naik-turun di dalam sarang untuk mencari tempat yang paling sesuai. Kebutuhan bayi semut berubah-ubah sesuai usia. Misalnya, telur dan larva membutuhkan lingkungan yang lembap, sedangkan kepompong semut harus diletakkan di lingkungan yang benar-benar kering. Para pekerja tetap melaksanakan tugasnya selama 24 jam tanpa henti untuk menyelesaikan kewajibannya.80

Semut pekerja tidak bertelur, melainkan mengabdikan dirinya meng-urus telur-telur ratunya. Mereka menghadapi risiko kerja yang tinggi, karena medium lembap yang dibutuhkan telur dan larva ideal bagi per-tumbuhan bakteri dan jamur yang berbahaya bagi kesehatan semut.

Bagaimana para pekerja melindungi dirinya di lingkungan yang tidak sehat ini? Selain menciptakan semut dengan tubuh yang sempurna, Allah menganugerahi mereka teknik pertahanan diri. Kelenjar metapleural di rongga dada semut dewasa terus-menerus menghasilkan senyawa-senyawa yang dapat membunuh bakteri dan jamur. Oleh karena itu, koloni semut jarang sekali terserang infeksi bakteri dan jamur.81

Dapatkah Darwinisme Menjelaskan Pengorbanan Semut?

Charles Darwin, penggagas teori evolusi, menyatakan bahwa tujuan mendasar dari proses evolusi adalah bertahan hidup. Menurut pan-dangan Darwin, ketika seekor hewan memiliki sifat yang meningkatkan kemampuannya untuk bertahan hidup, hewan ini memiliki kelebihan. Karena kelebihan ini, mereka selamat dan menghasilkan lebih banyak keturunan, sehingga akhirnya sifat ini tersebar ke seluruh anggota spesiesnya. Oleh karena itu, evolusi akan meningkatkan pertahanan diri, bukan pengorbanan diri.82

Meskipun demikian, teori Darwin mengenai seleksi alam diruntuh-kan dengan ditemukannya berbagai contoh pengorbanan diri yang ditunjukkan semut. Sulit sekali bagi para pendukung teori evolusi untuk menemukan jawaban kejadian ini. Bahkan, banyak dari fenomena ini yang sudah ditemukan sejak Darwin masih hidup. Darwin sendiri menulis dalam bukunya, The Origin of Species.

Banyak sekali naluri hewan yang begitu menakjubkan, sehingga proses pembentukannya mungkin dapat digunakan oleh para pembaca sebagai sebuah alasan untuk menolak teori saya. Pada kesempatan ini, saya ingin menyampaikan bahwa saya tidak ada hubungannya dengan asal mula kekuatan pikiran, seperti halnya saya tidak ada hubungannya dengan kehidupan ini sendiri.83

Setelah adanya pengakuan yang begitu terbuka, hipotesis yang di-kemukakan Darwin untuk menyelamatkan teorinya semakin mendapat-kan tantangan. Berdasarkan penjelasan Darwin terhadap situasi yang membingungkan ini, seleksi alam tidak terjadi pada level individu, melainkan pada level kelompok, dalam kelompok di dalam kelompok.

Meskipun demikian, ini tidak lebih dari pendapat yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya, karena pendapat ini hanya berupa perkiraan yang dikemukakan untuk menyelamatkan teorinya dan tidak didasar-kan pada penemuan nyata maupun pengamatan. Para pendukung evo-lusi yang muncul setelah Darwin tidak dapat menjelaskan sifat pengor-banan yang ada pada hewan.

Sulit kita menjelaskan pengorbanan dan kedermawanan yang di-lakukan semut, rayap, lebah, dan serangga sosial lainnya sebagaimana dicontohkan sebelum ini, dengan menggunakan teori evolusi. Hanya ada satu penjelasan mengapa seekor hewan merelakan keamanan dan kenyamanannya demi keamanan dan kenyamanan anggota koloninya: strata sosial dalam koloni telah ditentukan oleh perancang yang menyadari apa yang dilakukannya dan perancang ini telah memberikan tugas yang berbeda pada setiap anggota kelompok. Anggota kelompok mematuhi pembagian tugas ini dan, jika perlu, mengorbankan dirinya. Yang terpenting bagi hewan-hewan ini adalah kelangsungan hidup kelompoknya, dan pengorbanan yang dibutuhkan untuk itu tidak di-lakukan karena kemauan serangga yang tidak memiliki kesadaran dan pertimbangan, melainkan karena kemauan pengaturnya.

Agustus 1, 2009 Posted by | semut | Tinggalkan komentar

TAKTIK PERANG DAN BERTAHAN

Dalam bab-bab sebelumnya telah kita lihat bahwa struktur sosial semut sangatlah maju. Makhluk yang pekerja keras, produktif, dan rela berkorban ini memiliki sebuah keistimewaan lain. Mereka mampu bertahan terhadap musuh dan menggunakan teknik yang sangat menarik ketika berjuang demi keselamatan koloninya.

Ukuran semut yang kecil pada mulanya memberikan kesan bahwa mereka tidak mempunyai sistem pertahanan. Sulit dibayangkan bahwa makhluk-makhluk ini, yang biasanya mati hanya dengan diinjak, dapat menjalankan tugas-tugas yang kelihatannya jauh di luar kemampuan mereka. Meskipun demikian, tanpa meninggalkan susunan ekologi yang telah diciptakan-Nya di muka bumi ini, Allah memberi semut-semut ini tempat tinggal dan menganugerahi mereka dengan sistem pertahanan yang dibutuhkan.

Dengan ilham dari Allah, semut menggunakan taktik dan strategi yang hebat untuk mempertahankan koloninya dan melindungi dirinya dari musuh yang mereka temui selagi mencari makan. Selain mengem-bangkan strategi berburu, mereka juga berusaha agar tidak dimangsa hewan lain. Salah satu pertempuran seperti ini terjadi antara dua koloni semut.

Peperangan Antarkoloni

Salah satu penyebab terpenting terjadinya perang antar-koloni adalah sulitnya berbagi sumber makanan. Dalam perang semacam ini, spesies semut yang pertama kali menemukan makanan biasanya menang. Hal ini karena koloni semut yang menemukan makanan tersebut mengelilingi makanannya, sehingga koloni lain tidak bisa mencapai makanan itu. Mereka juga meninggalkan bau di sekitarnya, sehingga anggota koloni lain tidak dapat menemukan makanan itu melalui penciuman.

Sementara beberapa semut pekerja yang paling dahulu sampai di sumber makanan melaksanakan operasi blokade, beberapa anggota koloni tidak langsung ikut berperang. Mereka kembali ke sarang sambil meninggalkan jejak bau sepanjang perjalanan. Ketika mereka tiba di sarang, mereka memberi tahu anggota sarang lainnya, dengan cara menggerakkan tubuh maju-mundur dan menyentuh antena semut lainnya dengan antenanya sendiri. Dengan taktik cerdik ini, mereka mengumpulkan pasukan tambahan untuk membantu para penjaga.

Selain blokade biasa yang dilaksanakan pada siang hari, semut men-jadi sangat agresif pada masa paceklik sampai-sampai saling membunuh. Sebuah koloni semut dapat memusnahkan koloni lain dalam waktu 10-14 hari.

Penyebab perang lain adalah ketika suatu koloni memasuki wilayah kekuasaan koloni lain. Semut menandai koloni mereka dengan feromon. Ketika koloni lain memasuki daerah itu, mereka mengenali feromon yang dikeluarkan koloni sebelumnya, sehingga biasanya tidak menetap di daerah itu. Akan tetapi, jika koloni yang baru datang ini memutuskan untuk tetap tinggal, peperangan tidak dapat dihindari.

Dalam situasi seperti ini, semut rangrang berlari ke daun terdekat dan meninggalkan cairan sekresi tertentu. Ketika bertemu teman sesarang, ia memberitahukan soal perang yang terjadi dengan gerakan-gerakan terten-tu. Teman-temannya menanggapi panggilan ini dan bergerak menuju zona peperangan mengikuti para pekerja. Dalam jangka waktu setengah jam, lebih dari seratus semut telah mencapai arena pertempuran.

Singkatnya, semut menjalani hidup yang canggih, dengan batas-batas alaminya, sistem keamanan dan informasi dalam melawan bahaya, serta pasukan yang cukup tangguh untuk menjaga seluruh koloni. Untuk membangun sistem seperti ini dam mendidik anggota koloni untuk menaatinya, dibutuhkan suatu kekuasaan yang didasari kecerdasan ber-pikir, kesadaran, dan pendidikan. Tapi tidak terlihat adanya pembuat rencana dan sistem pendidikan dalam koloni semut. Sistem ini dirancang oleh sebuah kekuatan yang tak terlihat dan dianugerahkan kepada semua semut sejak mereka pertama kali ada di muka bumi ini. Dengan kata lain, Allah yang menciptakan semut telah memilih sistem per-tahanan yang rumit bagi mereka dan mengilhami mereka program yang mereka perlukan untuk menjalankan sistem ini.

Sekarang mari kita lihat sistem ini secara terperinci.

Taktik Pertahanan

Dalam perang antarkoloni terdapat sejumlah taktik yang digunakan semut. Mereka berjalan sambil meluruskan kaki seperti egrang, meng-angkat kepala dan perut, serta terkadang sedikit menggembungkan perut. Tujuannya adalah membuat dirinya terlihat lebih besar daripada sesungguhnya.72

Pada gambar atas dan bawah tampak semut-semut yang kelihatan lebih tinggi dan lebih besar daripada ukuran sebenarnya.

Taktik pertahanan lain yang mereka gunakan adalah “menjinakkan musuh”. Semut jenis S. invoila mengeluarkan racun selagi bertempur, dengan cara menggerakkan perut dan membuka rahang bawahnya perlahan-lahan. Musuhnya, yang mencoba melindungi diri dari racun ini, membuka rahangnya dan meneteskan air gula ke rahang semut beracun yang terbuka. Hal ini dilakukan karena serangan semut racun menurun kalau sudah mendapatkan makanan. Pendek kata, tujuannya adalah mengalihkan perhatian semut dan menjinakkannya.

Taktik ini tentu tidak terbatas pada yang disebut di sini. Semut dapat menggunakan lebih banyak lagi teknik-teknik canggih di ajang pepe-rangan, dengan memanfaatkan sifat-sifat fisik mereka dan kecerdasan yang diberikan kepada mereka.

Semut Penghasil Asam

Salah satu teknik terpenting semut untuk membela diri adalah produksi racun atau asam format dalam kantung racun di tubuh mereka. Penggunaan racun ini ampuh untuk melawan musuh. Racun mereka bahkan dapat menyakiti manusia. Ketika menyengat, mereka menyebab-kan alergi pada sebagian orang. Asam format juga manjur untuk meng-usir musuh.

Kalau kita menerima teori evolusi, kita juga harus mengakui bahwa pada awalnya semut primitif tidak memiliki sistem racun dalam tubuh-nya. Entah bagaimana, sistem racun ini terbentuk belakangan melalui proses evolusi. Akan tetapi, hipotesis ini bertentangan dengan logika ka-rena sistem racun hanya dapat bekerja bila racun dan organ penyimpan-nya telah terbentuk. Organ ini harus memiliki struktur bersekat untuk mencegah perembesan racun ke bagian tubuh lainnya. Selain itu, harus ada saluran bersekat yang menghubungkan kantung racun dengan mu-lut. Selain ini semua, harus ada juga sistem otot dan susunan mekanis agar racun dapat disemburkan ke arah musuh (Sebenarnya, sebuah kelenjar lagi juga dibutuhkan untuk “melumasi” daerah perputaran perut, yang menyemburkan racun).

Organ-organ ini tidak mungkin berkembang secara bertahap melalui proses evolusi. Seandainya satu saja organ ini tidak ada, sistem ini tidak akan berfungsi sehingga semut akan mati. Maka, hanya ada satu kemungkinan: “sistem pertahanan kimiawi” ini pasti telah ada sejak awal. Ini membuktikan bahwa terjadi perencanaan yang dilakukan secara sadar yang juga dikenal dengan nama “Penciptaan”.

Ada pertanyaan lain yang tidak ditemukan jawabannya oleh para evolusionis. Selain bisa menggunakan racun ini tanpa membahayakan dirinya, bagaimana semut mengetahui cara memproduksi racun dalam tubuhnya (dalam kantung racun)? Jawabannya sangat jelas dan mudah: Sebagaimana makhluk hidup lainnya di alam semesta ini, semut dengan sistemnya yang sempurna telah diciptakan sekaligus, tidak berubah secara bertahap sebagaimana menurut teori evolusi. Sang Maha Pencipta telah menciptakan pusat pembuatan racun dalam tubuh mereka dan Dia pula yang telah mengilhami mereka tentang cara menggunakannya dengan benar. Dialah Allah, Sang Pencipta alam semesta.

Semut yang Dapat Berhitung

Bagaimana mungkin seekor serangga sederhana dapat mengukur kekuatan lawan? Menariknya, semut dapat melakukannya dengan kemampuan matematisnya.

Ada beberapa cara yang digunakan semut pekerja untuk mengukur kekuatan lawannya secara tidak langsung. Salah satunya adalah “meng-hitung kepala” ketika berpindah dari satu penyerang ke penyerang berikutnya. Jika teman sesarangnya menang jumlah – misalnya tiga lawan satu – mereka menyadari ketidakseimbangan ini dan semakin cenderung melawan. Jika kondisi sebaliknya terjadi, mereka akan mundur. Metode kedua adalah “menyensus” musuh. Jika sebagian besar semut pekerja lawan yang ditemuinya adalah pimpinan (mayor), koloni lawannya mungkin jumlahnya lebih besar, karena koloni yang memiliki banyak mayor biasanya adalah koloni sudah cukup tua/lama.73

Bom Berjalan

Pengorbanan terbesar yang dilakukan semut demi koloninya adalah menghancurkan koloni musuh dengan cara bunuh diri untuk membela koloninya. Banyak jenis semut siap melakukan teknik kamikaze ini, tetapi yang paling dramatis adalah semut pekerja dari spesies Camponotous dari kelompok saundersi yang hidup di hutan hujan Malaysia.

Semut Camponotous pertama kali ditemukan pada tahun 1970 oleh dua orang ahli entomologi. Secara anatomi dan tingkah laku, semut ini diprogram untuk menjadi bom berjalan. Mereka memiliki dua kelenjar raksasa yang mengeluarkan racun. Kedua kelenjar ini berada dari pangkal rahang bawah sampai ujung belakang tubuh. Ketika semut terdesak selagi bertempur, baik oleh semut lawan atau oleh pemangsa yang menyerang, otot perutnya berkontraksi secara cepat, membuat dinding tubuhnya meledak, dan menyemprotkan sekresinya ke arah musuh.74

Pengorbanan besar seperti ini tentunya tidak dapat dijelaskan de-ngan teori seleksi alam maupun proses sosialisasi yang dipercayai para pendukung evolusi. Sebagaimana ditekankan sebelumnya, makhluk yang mampu berkorban ini bukanlah seorang manusia yang memiliki kecerdasan, pendidikan, perasaan, dan kehendak, melainkan seekor se-mut. Andaipun kita menganggap bahwa semut telah mengalami per-ubahan fisik – meskipun ada fosil semut yang tidak berubah sedikit pun selama 80 juta tahun – jelas sekali bahwa perubahan fisik semata tidak cukup untuk menghasilkan kemampuan semut di atas. Tidak ada mutasi yang dapat menyebabkan transformasi mendadak yang membuat semut menjadi makhluk yang mampu berpikir, mempertimbangkan, merasakan, dan meraba.

Andaipun kita asumsikan bahwa ada seekor semut yang pada suatu hari mau berkorban demi membela koloninya, tidak mungkin pengorbanan ini ada dalam gen semut dan diwariskan kepada semut lainnya.

Semut Pedagang Budak


Keistimewaan semut pedagang budak ini adalah kebiasaannya mencuri larva dari koloni yang mereka serang, dan menjadikan larva yang diculiknya “budak” bagi koloninya. Dalam gambar, seekor semut tengah menculik larva dari koloni saingannya.

Hubungan antara semut parasit, Formica subintegra, dan budaknya, Formica subserica, sangat menakjubkan karena menunjukkan pengaruh sinyal kimia pada kehidupan sosial semut. “Perbudakan” adalah salah satu taktik perang semut yang sangat cerdas dan mungkin juga yang paling menarik.75

Kadang-kadang, ketika para tentara suatu koloni menyadari bahwa mereka dapat mengalah-kan koloni lain dengan mudah, mereka mulai mencari budak. Mereka menyerang sarang koloni lain, membunuh ratunya, dan merampok “pot-pot madu” yang berisi nektar – maksudnya semut-semut yang tubuhnya berisi nektar. Hal yang paling penting adalah, mereka men-culik larva-larva dari ratu yang dibunuhnya. Larva-larva ini kelak berkembang menjadi semut muda, yang menjadi “semut budak”. Semut budak bertugas merawat anak semut dan mencari serta menyimpan makanan untuk koloni yang mengalahkannya.

Ketika sebuah koloni semut diserang oleh semut parasit, semut tentara mereka tidak mampu mencegah pencurian telur dan kepompong mereka akibat feromon dari semut parasit. Feromon ini mirip dengan zat yang mereka hasilkan sendiri, yang digunakan untuk peringatan bahaya. Oleh karena itu, ketika zat ini dikeluarkan semut parasit dalam jumlah besar, koloni semut yang diserang semut parasit akan melarikan diri, tidak melindungi koloninya.

Semut pedagang budak tidak hanya menculik larva dari koloni saingan. Semut madu mencuri “pot-pot madu” koloni lain dan membawanya ke sarang mereka.

Sebagaimana diketahui, setiap spesies semut mengeluarkan fero-mon yang berbeda. Feromon-feromon ini digunakan untuk menandai daerah kekuasaan, mengumpulkan informasi mengenai lokasi dan jumlah musuh, sebagai komando untuk menyerang dalam perang, serta sebagai tanda bahaya.

Ada satu hal yang menarik. Semut parasit tahu tanda bahaya koloni semut musuhnya. Mereka meniru tanda bahaya ini dan menggunakan-nya untuk tujuan tertentu. Akibatnya, koloni musuh hancur di-siplinnya akibat feromon tiruan yang dikeluarkan semut parasit, dan lari ketakutan tanpa sempat menyusun sistem pertahanannya. Artinya, semut parasit menghancurkan sistem pertahanan musuh dengan taktik yang sangat cerdik, seolah-olah telah disiapkan oleh seorang ahli strategi perang yang andal. Selain itu, semut parasit sudah memiliki prasarana informasi dan produksi zat-zat kimia yang dibutuhkan untuk melak-sanakan strategi ini sejak lahir – sejak pertama mereka diciptakan.

Beberapa spesies semut memiliki budak yang melakukan segalanya bagi mereka. Contohnya adalah semut Amazon merah, Polyergus. Semua semut Amazon adalah dari jenis tentara. Rahang bawah mereka besar dan tajam, khusus dibuat untuk berperang. Mereka tidak dapat mencari makan ataupun merawat bayi. Semut ini menyerang sarang spesies semut hitam berukuran kecil dan menculik kepompong dan larvanya. Semut yang terlahir dari kepompong ini dibawa pulang oleh penculiknya, disuruh melakukan berbagai pekerjaan untuk semut Amazon, dan tinggal bersama koloni Amazon, meskipun sarang mereka berdekatan. Bahkan, ketika koloni semut Amazon harus bermigrasi ke tempat lain, mereka memerintahkan budak-budaknya untuk melaksanakan kepin-dahan mereka, sehingga koloni ini dapat bergerak cepat.76

Semut dapat membela diri terhadap makhluk hidup yang berukuran besar sekalipun karena kemampuannya meninggalkan jejak. Salah satu contoh yang tepat adalah pertempuran semut dengan capung. Semut-semut yang melihat capung dapat berkumpul berkat sistem pelacak-annya, kemudian bersama-sama menyerang dan membunuhnya. Dalam contoh lain, dengan cara yang sama mereka mengalahkan ulat yang menyerang seekor anggota koloni, meskipun ukuran ulat ini lebih besar daripada ukuran mereka.

Mungkin kelihatannya biasa saja apabila makhluk hidup menyerang atau bertarung dengan makhluk lain demi mempertahankan hidup, atau demi makanan. Akan tetapi, jika seekor hewan bekerja sama dengan hewan lain, dari spesies yang sama, untuk bersama-sama melawan musuh, dan jika mereka mengomunikasikan taktik perang satu sama lain, hal ini patut mendapat perhatian.

Kecerdasan, perencanaan, dan pertimbangan dibutuhkan dalam memilih taktik, bertempur secara teratur dan disiplin, dan menggunakan sistem komunikasi untuk menjaga keteraturan dan disiplin tersebut. Misalnya, strategi perang dewasa ini ditentukan berdasarkan penga-laman manusia selama bertahun-tahun. Perwira angkatan bersenjata menjalani berbagai latihan di akademi militer dan mempelajari taktik-taktik seperti ini. Mereka juga perlu membangun sistem komunikasi yang khusus dibuat untuk menjalankan strategi mereka.

Meskipun demikian, para tentara yang kita bicarakan sebelumnya, yang menentukan tugas dan taktik penyerangan dengan menggunakan sistem komunikasi kimiawi, yang menyerang musuh bersama-sama, dan, jika perlu, yang mengorbankan dirinya sewaktu-waktu demi kepen-tingan semut lain dalam pasukan, mereka tidak pernah mendapatkan pelatihan maupun menerima informasi. Mereka adalah semut yang panjangnya hanya beberapa milimeter dan tidak memiliki kemampuan berpikir.

Pakar Penyamaran

Misteri spesies semut Basiceros baru berhasil dipecahkan akhir-akhir ini. Semula para ilmuwan menganggap semut ini termasuk spesies langka karena baru menemukan spesies ini satu kali dan tidak pernah menemukannya lagi.

Dalam gambar di sebelah kiri dan bawah, kita dapat melihat ahli kamuflase dari dunia semut. Tubuh semut Basiceros ini ditutupi rambut khusus dengan ujung bercabang. Oleh karena itu, mereka sulit sekali ditemukan.

Akan tetapi, seorang peneliti memecahkan misteri semut ini pada tahun 1985. Ia menemukan bahwa semut ini sama sekali bukan spesies langka. Seorang peneliti bernama La Selva, yang memecahkan misteri ini, menggambarkan semut Basiceros sebagai ahli pembuat ilusi, karena mereka dapat menjadi “tidak terlihat” kapan saja.

Apa yang membuat mereka tidak terlihat?

Berbeda dengan spesies semut lain, tubuh spesies Basiceros ditutupi dua lapis bulu yang ujungnya bercabang. Ketika mereka berjalan di tanah, segala jenis debu, tanah, dan potongan rumput menempel pada bulu ini. Perbedaan lainnya antara semut ini dan semut lain adalah, mereka jarang membersihkan kotoran yang menempel. Maka, sebagaimana ditunjuk-kan pada gambar, mereka benar-benar sesuai dengan lingkungan tempat tinggalnya. Jika dilihat dari luar, sulit sekali menemukan mereka. Semut ini hanya dapat dilihat ketika mulai berjalan. Akan tetapi, meskipun sudah begini pun, mereka berjaga-jaga untuk melindungi diri dari burung, kadal, bahkan manusia. Mereka adalah semut terlambat di muka bumi ini. Ketika diganggu, semut ini dapat berdiri diam selama beberapa menit.77

Teknik kamuflase yang digunakan sepesies semut ini sangat menge-jutkan, karena tidak mungkin seekor semut membangun sistem pertahan-an dengan cara menentukan karakter fisiologisnya sendiri. Semua keistimewaan ini (tubuh yang ditutupi rambut, tidak membersihkan diri sebagaimana layaknya semut lain, serta bergerak sangat lambat) pasti telah ditentukan sebelumnya, sehingga semut yang terlahir ke dunia ini telah dilengkapi dengan berbagai karakter tersebut.

Akibatnya, kita menghadapi sebuah kebenaran besar. Spesies semut ini juga telah diciptakan oleh Allah dengan segala sifat yang telah dirancang sebelumnya, sehingga menunjukkan sifat-Nya sebagai Sang Pencipta pada kita.

Agustus 1, 2009 Posted by | semut | Tinggalkan komentar

SIMBIOSIS SEMUT

Ada logika mendasar yang dapat digunakan untuk menganalisis bukti-bukti penciptaan makhluk hidup. Logika ini dapat di-jelaskan dengan contoh sederhana.

Misalkan Anda sedang berjalan di tanah tandus. Tiba-tiba Anda menemukan anak kunci logam di tanah. Anda memungut kunci itu tanpa tahu kegunaannya dan terus berjalan. Tak lama kemudian, Anda menemukan rumah kosong beberapa ratus meter dari tempat Anda menemukan anak kunci, lalu Anda mencoba membuka gembok rumah itu dengan anak kunci yang Anda temukan, barangkali saja cocok.

Jika anak kunci tersebut dapat membuka pintu dengan mudah, kesimpulan apa yang dapat Anda tarik?

Tentu saja sederhana. Anda menarik kesimpulan bahwa anak kunci tersebut adalah pasangan gembok pintu rumah itu. Artinya, anak kunci yang Anda temukan telah dirancang secara khusus untuk membuka gembok itu. Tidak sulit ditebak bahwa tukang yang samalah yang membuat gembok beserta kuncinya itu. Jadi, kunci itu sesuai dengan gemboknya karena memang telah dirancang untuk bersesuaian.

Akan tetapi, kalau ada orang berkata, “Anda salah. Anak kunci yang Anda temukan sama sekali tidak ada hubungannya dengan gembok itu. Kebetulan saja mereka cocok. Menurut Anda bagaimana?” Tentu Anda menganggap pendapatnya tidak masuk akal, karena ada jutaan gembok dan jutaan anak kunci di dunia ini yang tidak cocok satu sama lain. Dari jutaan anak kunci dan gembok yang berbeda-beda, hampir mustahil ada gembok dan kunci yang benar-benar cocok, yang terletak berdekatan tanpa sengaja.

Apalagi seandainya anak kunci itu cukup rumit, banyak tonjolan dan lekukannya, artinya bukan lurus dan sederhana seperti kunci kamar. Kemungkinan “kebetulan” semakin tidak masuk akal, karena semua detail lekukan dan tonjolan anak kunci harus juga ada pada gembok, sehingga kemungkinan terjadinya “kebetulan” ini hanya sepersekian juta kali.

Jika pada satu pintu ada tiga gembok, dan Anda menemukan bukan hanya satu, melainkan tiga anak kunci yang terletak berdekatan, akankah Anda mempercayai pendapat bahwa anak-anak kunci ini hanyalah kepingan logam yang kebetulan saja cocok dengan gembok-gembok itu? Selain itu, Anda mungkin menganggap orang yang berpendapat seperti itu punya masalah kejiwaan atau mencoba menyembunyikan sesuatu.

Contoh di atas menyampaikan pesan yang sederhana, namun sangat berarti. Jika ada dua benda yang benar-benar cocok, yakni semua detail pada kedua benda ini serasi dan selaras, pasti ada kesengajaan dalam proses perancangannya. Anak kunci cocok dengan gembok karena sengaja dirancang oleh seorang tukang yang ahli. Kaset video dapat dimasukkan dan digunakan dalam pemutar video karena memang telah dirancang dengan tujuan itu.

Berdasarkan penjelasan di atas, kita dapat sampai pada kesimpulan di bawah ini. Jika terdapat keselarasan antara dua makhluk hidup yang ditunjukkan dengan adanya kesesuaian antara organ-organ tubuhnya, dapat dikatakan bahwa keselarasan ini adalah bukti proses penciptaan secara sadar dan terencana. Keselarasan yang ada menunjukkan bahwa proses penciptaan ini dilakukan secara sadar dan tidak terjadi secara kebetulan. Selain itu, karena kesadaran dan rencana ini bukan berasal dari hewan-hewan itu sendiri, keberadaan Sang Pencipta yang “merancang” makhluk-makhluk ini secara sadar tidak dapat dipungkiri lagi.

Sekarang kita dapat kembali memasuki dunia semut, menggunakan logika dasar ini. Topik dalam bab ini adalah beberapa makhluk hidup yang hidup selaras bersama semut.

Hewan yang Hidup Bersama Semut

Sejak lebih dari seabad yang lalu diketahui bahwa sejumlah spesies serangga hidup bersimbiosis dengan semut. Sebagian besar dari spesies ini merampok makanan dari koloni semut, sementara sebagian lainnya menggantungkan sebagian atau seluruh hidupnya pada koloni semut. Spesies yang hidup sebagai parasit termasuk berbagai serangga, misalnya kumbang, kutu, lalat, dan tawon.

Sebagian parasit ini hidup di sarang semut dan menarik keuntungan dari kehidupan sosial semut. Dalam beberapa kasus, semut tidak ber-keberatan meskipun serangga larva dan telurnya dimakan parasit ini. Bahkan, serangga ini tidak hanya diperbolehkan memasuki sarang, larva mereka juga diberi makan dan dibesarkan sebagaimana layaknya larva semut.

Mengapa semut membiarkan saja tindakan agresif dari serangga parasit? Dan bagaimana mungkin serangga ini dapat tinggal di sarang semut yang telah memiliki sistem pertahanan yang hebat selama bertahun-tahun? Mari kita analisis fenomena yang menarik ini.

Sebagaimana diketahui, dalam komunitas semut terdapat sistem komunikasi yang rumit. Dengan sistem ini, semut dapat membedakan anggota koloni mereka dengan pendatang. Kemampuan ini berfungsi sebagai “sistem pertahanan bersama”. Namun, serangga pendatang dapat masuk ke sarang semut dengan berbagai cara. Hal ini menun-jukkan bahwa mereka telah berhasil memecahkan sandi komunikasi dan identifikasi yang digunakan semut. Dengan kata lain, mereka mampu berkomunikasi dengan bahasa semut, baik secara mekanis maupun kimiawi.

Penyamaran

Ketika dua ekor semut bertemu, ia melakukan gerakan tertentu, yaitu menyentuh kawannya dengan antena serta mencium feromonnya. Kemudian, kedua semut melanjutkan perjalanan. Mereka melakukan gerakan ini untuk saling mengenali dan untuk melindungi diri dari makhluk asing.

Semut pekerja melakukan hal yang sama ketika bertemu serangga yang tinggal di sarang mereka. Kadang-kadang mereka menyadari bahwa serangga yang ditemuinya bukan dari golongan mereka dan mengusirnya keluar sarang. Akan tetapi, kadang-kadang mereka memperlakukan serangga lain seolah-olah ia juga seekor semut. Biasanya semut menerima serangga asing seperti ini jika serangga tersebut mampu menyamar secara kimiawi.

Dapat dipastikan bahwa serangga menyamar secara kimiawi, karena semut terbukti mengusir serangga lain yang berbeda secara kimiawi, meskipun bentuk fisiknya mirip dengan mereka. Namun, parasit tertentu yang sama sekali tidak mirip dengan semut diterima sebagai warga sarang semut.44 Sulit dijelaskan bagaimana spesies-spesies serangga belajar meniru ciri khas kimiawi semut. Hal ini hanya dapat dimengerti apabila serangga ini memang dirancang untuk memiliki feromon yang mirip dengan semut. Serangga tidak mampu memahami reaksi kimia, meskipun ia hidup selama jutaan tahun. Oleh karena itu, serangga ini pasti memperoleh ciri khas tersebut dari Sang Pencipta.

Serangga Penghasil Hidrokarbon dan Semut Api

Salah satu spesies serangga, Scarabaeid, dapat hidup bersama semut api, karena kedua spesies ini menghasilkan hidrokarbon yang sama. Serangga sering dianggap bermusuhan dengan semut, karenanya meng-herankan bahwa terdapat hubungan harmonis antara kedua spesies ini. Bagaimanakah kesesuaian ini bisa terjadi?

Serangga ini menghasilkan hidrokarbon yang juga dihasilkan oleh semut. Selain itu, mereka juga menghasilkan sejumlah hidrokarbon yang tinggi berat molekulnya. Ketika serangga meninggalkan sarang semut, senyawa-senyawa yang sama dengan hidrokarbon semut tidak lagi di-produksi, tetapi senyawa hidrokarbon yang berat yang mereka miliki tetap diproduksi. Bila suatu saat nanti serangga ini mendatangi koloni spesies semut api lain, mereka akan memproduksi bau yang sama dengan koloni yang ini.45

Ketika pertama kali tiba di sarang semut api, serangga ini meng-gunakan cangkang tubuhnya yang tebal dan berpura-pura mati untuk melindungi diri. Dalam beberapa hari, serangga ini mampu meniru hidrokarbon yang diproduksi semut, sehingga diperbolehkan masuk ke sarang semut.46

Bagaimana mungkin spesies serangga ini mampu meniru berbagai bau dan memproduksinya di dalam tubuh? Bagaimana serangga ini bisa tahu bahwa dengan menghasilkan bau tertentu ia dapat menipu semut sehingga diperbolehkan masuk ke dalam sarang mereka? Dapatkah serangga melakukan semua ini sendiri?

Tentu saja tidak. Serangga tidak mungkin dapat mengenali ciri khas fisik dan kimiawi semut. Sangat tidak masuk akal apabila dikatakan bahwa serangga ini telah mengalami evolusi, dengan cara hidup bersama semut dalam waktu lama sehingga memiliki kemampuan memproduksi bau yang dihasilkan semut-semut ini. Pembentukan ciri khas yang begitu rumit tidak mungkin dihasilkan dari mutasi maupun kebetulan. Satu-satunya kesimpulan dari semua ini adalah adanya Sang Pencipta, Yang telah memberi serangga ini kemampuan untuk mengenali dan meniru. Dialah Satu-Satunya yang mampu membuat semut dan serangga lain hidup bersama secara selaras dan Dia pula yang mampu mencegah kedua makhluk ini untuk saling menyerang. Dialah, Allah, Sang Pencipta kedua spesies ini.

Pengunjung Semut Tentara

Ada sejumlah spesies kutu yang hidup pada tubuh semut tentara. Spesies-spesies kutu ini hidup dari darah yang mereka peroleh dari daerah mirip membran pada punggung semut yang menjadi inangnya, atau dari cairan berlemak yang dihasilkan tubuh inangnya. Terkadang kutu ini hidup di ujung kaki belakang semut, sehingga pada saat-saat tertentu mereka merelakan tubuhnya digunakan sebagai bagian dari kaki semut.

Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, semut tentara membentuk rantai dengan cara berpegangan pada tungkai kawannya saat mereka membuat sarang sementara dari rantai tersebut. Dalam analisis labora-torium, ditemukan bahwa pada semut yang memegang kaki kawannya yang berkutu, ditemukan kaki belakang kutu tersebut mengambil bentuk yang sama dengan cakar semut serta melakukan fungsi yang sama pula. Kutu ini memiliki alat cengkeram yang berbentuk gigi pada punggung-nya. Punggung ini berbentuk sedemikian rupa sehingga mereka dapat beradaptasi dengan tubuh semut.47

Di antara ribuan spesies yang hidup di alam semesta ini, tidak mungkin dua makhluk dengan sistem yang saling melengkapi ini bertemu secara kebetulan. Kemungkinan kedua spesies ini- yang saling meng-gantungkan hidupnya – pada suatu hari bertemu, melihat bahwa tubuh mereka yang sesuai untuk hidup bersama, lalu memutuskan untuk bersim-biosis, adalah nol. Oleh karena itu, keselarasan yang begitu sempurna ini adalah salah satu contoh yang mendetail betapa sempurna hasil ciptaan Allah. Meskipun menyangkut hal yang sangat kecil, detail seperti ini terlalu berharga untuk dilupakan. Contoh-contoh yang dapat kita saksikan ribuan, bahkan jutaan kali setiap hari ini, telah diciptakan agar manusia dapat melihat kekuatan yang tak terbatas, ilmu dan kehalusan ciptaan Allah.

Larva Lalat yang Cerdas

Tubuh semut merupakan tempat hidup yang sesuai bagi parasit. Oleh karena itu, banyak spesies parasit yang memilih tubuh semut sebagai rumah mereka. Salah satu contoh parasit ini adalah spesies lalat, Stronggydaster globula.

Larva lalat ini (“endoparasit” atau parasit interior) hidup pada tubuh bagian belakang ratu semut. Keberadaan larva lalat tampaknya tidak mempengaruhi tingkah laku ratu semut, kecuali aktivitas bertelurnya yang terhenti. Ketika mening-galkan tubuh inangnya, larva parasit memasuki fase pupa. Pupa ini dirawat semut seolah-olah mereka adalah pupa semut. Akan tetapi, ketika lalat mulai dapat terbang, perlakuan koloni semut berubah dan lalat tersebut dipaksa meninggalkan sarang. Kemudian ratu semut mati setelah parasit-parasit ini meninggalkan sarang.48

Pada gambar ini terlihat enam spesies parasit yang hidup pada semut tentara. Parasit-parasit ini menumpang hidup di tubuh semut dengan berbagai jenis adaptasi simbiosis. (1) Parasit pertama hidup dari cairan tubuh semut inangnya. (2) Parasit kedua adalah sejenis kutu yang hidup di ujung kaki inangnya. (3) Spesies parasit yang satu ini mengelabuhi semut dan memakan larva mereka. (4) Spesies ini menghabiskan sebagian besar waktunya di tubuh semut pekerja. (5) Parasit ini memilih ujung dagu semut sebagai rumahnya. (6) Spesies parasit ini hidup di pangkal antena semut.

Larva lalat yang dapat tinggal dan hidup pada tubuh semut merupakan fenomena yang menarik. Tidak mungkin seekor makhluk yang baru lahir mampu memilih tubuh ratu semut sebagai rumah-nya. Induk lalat memilih tubuh ratu semut sebagai tempat bertelur karena ia mengetahui dan mengenal tubuh dan cara hidup semut. Dalam habitatnya ada ratusan spesies lain yang bisa ia jadikan tempat bertelur. Namun, induk lalat mampu memilih dan menentukan tempat yang sesuai bagi kepentingan bayinya, yaitu pada tubuh ratu semut. Meskipun demikian, tidak mungkin induk lalat dapat mengantisipasi apakah lingkungan yang dipilihnya mampu menjamin keamanan telurnya dan apakah semut dalam koloni itu akan merawat telur lalat. Lalat adalah makhluk yang berbeda sama sekali dengan semut, sehingga tidak mungkin induk lalat dapat mengetahui kehidupan semut.

Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa keputusan yang tepat ini bukan hasil “ramalan” induk lalat, melainkan karena dalam diri hewan kecil ini terdapat sebuah program, atau ilham. Dialah Allah yang meletakkan larva lalat di tempat yang paling sesuai untuknya. Dialah Allah yang memiliki kekuasaan mutlak atas lalat dan semut serta memiliki pengetahuan yang tidak terbatas mengenai mereka. Dialah Sang Pencipta, Pemilik dan Penguasa semua makhluk hidup.

Misteri Kupu-Kupu Biru

Pada tahun 1979, kupu-kupu biru besar musnah dari tempat per-kembangbiakannya yang terakhir di Inggris. Para ahli, yang mempelajari spesies kupu-kupu ini, cukup lama tidak berhasil mengetahui mengapa kupu-kupu jenis ini musnah, padahal banyak sekali habitat yang cocok untuk perkembangbiakan mereka berupa padang rumput liar, yang banyak ditumbuhi tanaman thyme tempat kupu-kupu bertelur. Sebenarnya, rahasianya terletak pada siklus hidup kupu-kupu yang menakjubkan.

Gambar kiri menunjukkan kupu-kupu biru besar setelah mening-galkan sarang semut. Gambar kanan menunjukkan larva kupu-kupu biru sebelum bertemu semut merah.

Dalam gambar kanan bawah, ulat yang menyamar dibawa oleh semut ke sarangnya. Gambar kiri bawah menunjukkan ulat kupu-kupu biru yang hidup bersama larva semut di dalam sarang.

Setelah menetas, ulat memakan daun thyme selama kurang lebih tiga minggu. Kemudian ia jatuh ke tanah dan mengeluarkan cairan yang menarik semut merah. Ketika semut merah muncul, ulat mendongakkan tubuhnya dan menggembungkan kulit di belakang kepalanya, untuk menipu agar semut mengira ia adalah larva semut. Kemudian ulat tersebut dibawa semut kembali ke sarangnya, dan hidup di sarang semut selama hampir satu tahun. Ulat ini hidup dengan memakan larva semut dan berhibernasi selama musim dingin. Pada musim semi, ulat ini membuat kepompong sutra. Selagi di dalam kepompong, perlahan-lahan ulat berubah menjadi kupu-kupu dewasa, sampai akhirnya meninggalkan sarang pada pertengahan musim panas.

Temuan mengenai parasitisme ini menyingkapkan tabir misteri punahnya spesies kupu-kupu. Akibat perubahan ekologi di wilayah tersebut, semut merah bermigrasi dari situ dan ulat yang menetas dibunuh oleh spesies semut lainnya, yang tidak dapat ditipu oleh penyamaran ulat.49

Ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab. Mungkinkah simbiosis yang terjadi antara semut dan kupu-kupu ini terjadi secara kebetulan? Bagaimana mungkin kupu-kupu – dalam bentuk ulat, yang bahkan belum dewasa – mengetahui cara mengelabui seekor semut? Bagaimanakah organ-organ yang menyamarkan ulat seperti larva semut bisa terbentuk? Karena para evolusionis tidak menerima teori pen-ciptaan, mereka membantah dan mengatakan bahwa organ-organ ini terjadi secara kebetulan. Namun demikian, mustahil suatu kebetulan bisa menghasilkan kemiripan sesempurna ini. Kemiripan ini tak mungkin terbentuk berangsur-angsur secara bertahap, karena ulat yang belum bisa menyamar akan diburu oleh koloni semut dan tidak mungkin bertahan hidup. Karena seekor ulat tidak mungkin mampu menentukan bentuk tubuh secara sadar, kemungkinan satu-satunya adalah adanya sebuah Kekuasaan Sang Pencipta yang memberinya bentuk sehingga menyerupai larva semut.

Parasit yang Diberi Makan dari Mulut Semut

Ada sejenis parasit bernama Dinarda yang selalu mengelilingi sarang semut dan memakan mangsa yang dibawa oleh koloni semut. Mereka juga memakan cairan nutrisi milik koloni. Parasit tersebut mondar-mandir di ruang sarang tempat para pekerja dan pemburu yang baru tiba itu berbagi makanan. Parasit ini menyentuh ujung mulutnya ketika bertemu seekor semut sehingga semut itu membagi makanannya. Cara ini sebenarnya sangat berbahaya bagi Dinarda, karena semut akan menyerangnya jika menyadari bahwa parasit itu bukan anggota koloni. Dinarda memiliki suatu cara untuk bertahan jika ini terjadi. Ketika menyadari bahwa ia akan diserang semut, ia mengangkat perutnya dan menyemprotkan cairan pembius ke arah semut. Akibatnya, serangan semut terhenti dan parasit berhasil melarikan diri.50

Imigran yang Cerdik

Atemeles adalah spesies serangga yang dibesarkan di sarang semut Formica selama musim panas dan berpindah ke sarang semut spesies lain, Myrmica. Setelah menghabiskan musim dingin di sarang yang baru, mereka pindah kembali ke sarang asalnya di musim panas. Perpindahan ini tentu saja beralasan. Formica tidak berkembang biak selama musim dingin, sehingga tidak banyak makanan yang disimpan selama musim ini. Sebaliknya, spesies Myrmica berkembang biak di musim dingin sehingga banyak menyimpan makanan di musim ini.51

Di atas ini terlihat bagaimana serangga bertukar makanan dengan semut. Pada gambar atas, serangga menyentuh semut dengan antenanya. Gambar tengah menunjukkan serangga menepuk mulut semut dengan kaki depannya. Pada gambar di bawah, semut memberikan setetes makanan cair pada serangga yang sedang menyamar.

Atemeles tidak kesulitan bermigrasi dari sarang ke sarang. Semut Formica membuat sarangnya di hutan sedangkan semut Myrmica ber-sarang di padang rumput. Atemeles yang meninggalkan sarang Formica telah menemukan metode yang sangat penting agar ia tidak tersesat. Ia bergerak ke arah sinar matahari dan menemukan padang rumput di mana Myrmica bersarang. Ketika sampai di padang rumput, masalah lain menanti mereka. Mereka harus bisa membedakan sarang semut Myrmica dengan sarang semut lain. Penelitian menunjukkan bahwa Atemeles menemukan sarang yang tepat dengan mencium bau yang dihasilkan koloni Myrmica.52 Singkat kata, serangga imigran ini tidak hanya mampu menentukan arah dengan menggunakan cahaya, tapi juga mampu mem-bedakan bau koloni-koloni semut.

Serangga imigran ini sangat menarik karena mereka diterima oleh kedua spesies semut dan dengan cepat mampu beradaptasi dengan lingkungan sarang yang baru. Wasmann, seorang ilmuwan yang telah meneliti semut selama bertahun-tahun, percaya bahwa serangga ini dapat bersimbiosis secara canggih dengan metode adaptasi yang belum diketahui. Serangga ini memiliki sebuah kemampuan yang mereka gunakan sehingga mereka dapat masuk ke sarang yang mereka inginkan. Spesies ini mempunyai sebuah kelenjar yang menghasilkan zat-zat yang mereka gunakan untuk melindungi diri mereka. Mereka juga menye-kresikan zat kimia yang dapat melemahkan musuh-musuh mereka ketika mereka diserang. Zat kimia ini sangat keras sehingga ketika serangga ini menyemprotkan zat tersebut pada semut yang sarangnya sudah lama mereka tinggali, sikap semut menjadi lebih “lunak” pada mereka. 53


Pada gambar di sebelah kanan, seekor serangga Atemeles berhasil menipu semut

Aktivitas serangga imigran ini memunculkan berbagai pemi-kiran. Serangga yang tahu waktu yang tepat untuk pindah serta sarang yang ditujunya, pasti mengenali segala aspek kehidupan semut. Bagaimana perjalanan migrasi ini dimulai? Pertama-tama, serangga imigran harus mampu menentukan bahwa sarang yang akan diting-galinya adalah sarang semut, bukan sarang serangga lainnya. Kemudian, serangga imigran juga harus dapat memilih spesies semut yang tepat dari sekitar 8.800 spesies semut yang ada di dunia dan menyadari bahwa persediaan makanan di dalam sarang yang dipilihnya menurun selama musim dingin. Setelah itu, serangga ini harus menemukan sarang yang banyak menyimpan makanan selama musim dingin. Makhluk yang harus membuat semua keputusan ini adalah serangga yang mungkin tidak akan pernah kita jumpai selama hidup kita. Secara logis, apakah seekor serangga mampu membuat keputusan seperti ini?

Seandainya kita meyakini bahwa sistem ini telah berkembang sede-mikian rupa, bukan berarti bahwa tidak ada pertanyaan lain yang mun-cul. Bagaimana mungkin serangga ini dapat menemukan jalan ke sarang yang tepat saat ia berpindah sarang? Bagaimana mungkin seekor serang-ga dengan ukuran seperseribu ukuran manusia dapat menemukan jalan di dalam hutan sementara hal itu tidak mudah dilakukan bahkan oleh seseorang yang sangat cerdas sekalipun?

Jawaban, “bergerak ke arah cahaya” tidak memberikan penjelasan yang sesungguhnya, karena cahaya bisa datang dari 2-3 arah yang ber-lainan. Jika sekadar mengikuti arah cahaya, para imigran ini tetap harus menjelajahi wilayah seluas beberapa meter persegi sebelum menemukan sarang yang dicari (bagi makhluk seukuran serangga, wilayah seluas beberapa meter persegi sama dengan daerah seluas beberapa kilometer persegi bagi kita). Pada saat inilah proses pengenalan bau dimulai. Proses ini juga sangat menakjubkan. Dapat dibayangkan betapa sulitnya menge-nali satu jenis bau dari bau-bau lainnya di dalam hutan yang dihuni ratus-an koloni semut, yang selain itu juga terdapat ribuan bau lainnya. Yang lebih menakjubkan lagi, serangga yang telah hidup di tempat lain sepanjang musim panas masih ingat bau sarang yang ditujunya.

Mari kita pikirkan kejadian berikut ini. Andaipun kita yang meletak-kan seekor serangga Atemeles dan meletakkannya di depan sarang semut yang sesuai, tetap sangat sulit bagi serangga ini untuk dapat hidup di sarang tersebut, karena semut juga memiliki kemampuan pengenalan yang sangat peka. Semut tidak akan menerima semut lain yang tidak sekoloni. Semestinya mereka menganggap serangga pendatang ini musuh dan mengusirnya dari sarang. Namun, hal ini tidak terjadi dan Atemeles diperlakukan dengan cukup baik. Kemungkinan besar hal ini disebabkan oleh zat kimia yang diproduksi tubuh serangga ini. Bagaimana mungkin serangga imigran ini mengetahui bahwa dirinya dapat mempengaruhi koloni semut dengan zat ini dan menyadari bahwa efeknya akan meng-ubah sikap permusuhan koloni semut? Apakah mungkin Atemeles me-nentukan sendiri dengan tepat zat kimia apa yang diproduksinya?

Tentu saja ini mustahil. Yang terjadi di sini sudah jelas. Perbuatan serangga ini membutuhkan kecerdasan yang tinggi dan kemampuan untuk memilih. Akan tetapi, tentu saja kedua hal ini tidak mungkin dimiliki seekor makhluk yang bahkan tidak memiliki otak. Harus diakui bahwa sumber kecerdasan dalam tindakan serangga ini berada “di luar” dirinya.

Para evolusionis menggunakan kata “naluri” untuk keluar dari jalan buntu seperti ini. Mereka juga menyatakan bahwa perilaku hewan berasal dari motif-motif tertentu yang tidak diketahui sumbernya. Akan tetapi, pendapat seperti ini hanya dapat digunakan untuk menutupi kesalahan mereka, tidak mengubah apa-apa. Gambarannya cukup jelas. Ada motif-motif tertentu yang menggerakkan hewan ini yang dihasilkan oleh suatu rencana yang cerdas. Karena rencana cerdas tidak mungkin dihasilkan oleh hewan itu sendiri, motif ini pasti bersumber pada sebuah kekuatan yang berkuasa atas hewan ini. Kekuatan ini adalah milik Dia Yang tak terlihat, Yang mampu berkuasa atas dunia nyata dengan Maha Bijaksana dan mencerminkan pengetahuan itu dalam mengenai makhluk hidup, seperti serangga, yang tidak memiliki kesadaran.

Serangga yang Berpura-pura Mati

Sarang semut menyajikan persediaan makanan, perlindungan dari penyerang, dan kondisi hidup yang ideal bagi suatu spesies serangga yang hidup di gurun pasir di sebelah selatan Amerika Serikat dan Meksiko. Begitu berhasil memasuki sarang semut, serangga ini langsung menuju ruang perkembangbiakan dan memakan larva semut.

Serangga ini telah mengembangkan berbagai teknik untuk masuk ke dalam sarang semut. Beberapa spesies langsung saja masuk lewat lubang semut, kemudian melalui gundukan ranting dan masuk ke dalam sarang. Serangga ini memiliki cangkang yang melindungi tubuh mereka dengan baik, sehingga semut tidak dapat membunuh mereka. Koloni semut hanya dapat menyerang mereka bersama-sama lalu mengusir mereka dari sarangnya.

Serangga yang gagal masuk tidak pernah menyerah. Mereka berpu-ra-pura mati sehingga menarik perhatian semut. Kemudian, semut-semut itu membawa pulang serangga yang berpura-pura mati ini sebagai makanan. Untuk mengelabui semut, serangga ini pandai berpura-pura mati, dengan cara menarik antenanya ke belakang serta membuat kakinya tampak kaku.54

Setelah mencapai ruang penyimpanan telur, entah mengapa semut meninggalkan serangga ini. Penelitian menunjukkan bahwa selagi serangga ini memakan telur semut, cairan yang dikeluarkan bulunya menarik perhatian semut di tempat lain. Demikianlah sikap permusuhan semut berkurang dan mereka tidak lagi dapat melindungi telurnya.55

Serangga “cerdas” ini juga meninggalkan larvanya di sarang semut. Larva serangga tumbuh di tengah tumpukan potongan tanaman. Meski-pun mereka tidak memiliki mekanisme pertahanan melawan semut, larva ini tidak diserang oleh kawanan semut, sampai suatu saat mereka mampu bertahan dari serangan semut dan melarikan diri dengan cara yang terampil.56

Larva Lalat yang Mengenali Semut

Dalam subbab berikut ini kita akan menyaksikan contoh penciptaan yang sempurna dan mengagumkan, yaitu larva lalat yang dapat menyamar.

Larva-larva lalat syrphid (Microdon) hidup jauh di dalam sarang semut selama musim dingin, sedangkan pada musim semi mereka pindah ke permukaan sarang untuk membentuk kepompong (pupa). Dalam penelitian ditemukan bahwa semua larva menghilang begitu menetas sehingga dianggap telah mati dan hanya tertinggal seekor larva yang menggantung di permukaan luar kepompong semut. Pembesaran menun-jukkan bahwa bentuk larva semakin membulat, seolah-olah ia berusaha mengejan untuk mengubah bentuknya. Tiba-tiba larva ini menghilang. Larva telah memasukkan kait pada mulutnya ke dalam kepompong sutra dan membuat lubang yang cukup besar agar ia bisa masuk. Larva-larva yang seolah-olah menghilang sebenarnya berada di dalam kepompong, memakan pupa semut dan berubah ke tingkat larva selanjutnya. Larva Microdon pada tingkatan selanjutnya, menggulung dirinya searah panjang tubuhnya sehingga tidak dapat dibedakan dari kepompong semut. Setelah proses transformasi ini, semut-semut pekerja yang kebingungan berdatangan dan membawa bayi yang menyamar ke dalam sarangnya yang aman.57

Ini adalah contoh kasus mimikri yang unik. Semut mengira larva lalat ini adalah kepompong semut. Pada saat penelitian dilakukan, ditemukan bahwa zat kimia pembentuk kutikula luar dari larva lalat yang keras hampir persis sama dengan zat pada larva semut. Dengan kata lain, larva lalat juga dapat meniru kepompong semut secara kimiawi.

Analisis kimia membuktikan bahwa kejadian ini benar-benar mimikri secara kimia. Bagaimana cara larva Microdon melakukan penyamaran ini?

Pada bagian bawah tubuh larva terdapat tonjolan besar yang belum diketahui fungsinya. Diduga tonjolan ini mengandung kelenjar atau muara kelenjar yang mengeluarkan zat kimia yang digunakan larva untuk menyamar menjadi inangnya.58

Bagaimana mungkin seekor makhluk yang bahkan tidak mengerti “kimia” dapat melakukan penyamaran seperti ini? Selain itu, hanya larva lalat Microdon yang memiliki sistem pertahanan seperti ini, sedangkan serangga dewasa tidak memilikinya. Karena serangga dewasa tidak dapat menyamar seperti halnya larva, tentunya penyamaran ini bukan sesuatu yang merupakan hasil pemikiran mereka sendiri. Berarti larva memiliki kemampuan ini sejak lahir.

Susunan kimiawi yang menyebabkan larva dapat menyamar sebagai semut tidak mungkin terbentuk secara kebetulan di tubuh larva. Satu-satunya kesimpulan yang dapat ditarik dari kejadian ini adalah bahwa larva lalat Microdon telah memiliki kemampuan ini sejak menetas.

Semut Pemakan Kayu dan Serangga Daun

Tidak diragukan lagi, “penangkaran hewan” yang dibentuk semut adalah sebuah contoh simbiosis yang sangat menarik di dunia serangga.

Sampai subbab ini, yang dijelaskan buku ini mengenai semut sudah memberikan gambaran umum mengenai dunia semut. Akan tetapi, yang tertulis ini baru sebagian contoh saja, karena banyak sekali spesies di dunia semut yang dilengkapi dengan berbagai ciri-ciri yang tidak kita ketahui. Salah satunya adalah “semut susu” atau juga dikenal sebagai semut pemakan kayu.

Semut pemakan kayu ini memakan cairan daun yang diperolehnya dari serangga daun, Aphid(*).

Kerjasama antara semut dan aphid merupakan salah satu contoh simbiosis yang paling menarik dari dunia serangga.


Semut “Penangkar Hewan”. Selain sifat-sifatnya yang menarik, semut ini juga “menangkarkan hewan”. Sebagaimana terlihat dalam gambar, semut membentuk “koloni” aphid sendiri dan menggunakan “koloni” ini untuk mendapatkan makanan. Sebagai balasan, mereka memelihara “koloni” aphid, menjaganya serta melindunginya dari musuh. Tidak diragukan lagi, “penangkaran hewan” yang dibentuk semut adalah sebuah contoh simbiosis yang sangat menarik di dunia serangga.

Aphid yang diletakkan pada daun oleh semut menghisap cairan dari akar tumbuhan. Dalam tubuh aphid, cairan tumbuhan diubah menjadi “nektar”. Semut menyukai nektar dan tahu bagaimana caranya agar aphid memberikan makanan ini kepada mereka. Bila seekor semut mulai lapar, ia mendekati aphid dan menepuk-nepuknya dengan sensor dan antenanya. Aphid sangat menyukai hal ini sehingga mengeluarkan setetes nektar dan memberikannya kepada semut. Sebagai balasan, semut melindugi dan memelihara aphid dengan baik.59

Pada musim gugur, semut mengumpulkan telur aphid dan menyim-pannya di sarang mereka sampai telur-telur ini menetas. Kemudian, bayi aphid diletakkan di akar tumbuhan, sehingga mereka dapat menghisap cairan tumbuhan dan menyediakan nektar bagi semut.

Pertanyaannya adalah: Dari sekian ribu makhluk hidup di dunia ini, bagaimana cara semut susu mengetahui sifat aphid? Kemudian bagai-mana mungkin semut dapat memilih aphid dari begitu banyak pilihan makhluk hidup lainnya? Tentu saja, tak mungkin kita menilai sebagai rantai kebetulan hal berikut ini: cairan yang keluar dari tubuh aphid kebetulan cocok dengan apa yang dibutuhkan semut. Semut juga tidak mungkin mengetahui secara kebetulan bahwa aphid akan memberikan nektar jika semut menepuk-nepuknya. Sekali lagi, pasangan ini di-rancang, selaras, dan karenanya jelas diciptakan.

Tanaman yang Hidup Bersama Semut

Di dalam kantung tanaman kantong semar yang hidup di sebelah India Timur, Nepenthes bicalcarata, hidup koloni semut. Tanaman ini bentuknya seperti teko dan memangsa serangga yang menghinggapi-nya. Meskipun demikian, semut bebas bergerak dan mengambil sisa-sisa serangga dan bahan makanan lainnya dari tanaman ini.60

Kerja sama ini menguntungkan kedua belah pihak, semut dan tumbuhan. Meskipun semut mungkin saja dimakan Nepenthes, mereka dapat membangun sarang pada tanaman ini. Tumbuhan juga menyisakan jaringan tertentu dan sisa-sisa serangga untuk semut. Dan sebagai balasannya, semut melindungi tumbuhan dari musuhnya.

Begitulah contoh simbiosis tanaman dan semut. Struktur anatomi dan fisiologi semut dan tanaman inangnya telah dirancang sedemikian rupa untuk memudahkan hubungan timbal balik antara keduanya. Meskipun para pembela teori evolusi menyatakan bahwa hubungan antarspesies ini berkembang secara berangsur-angsur selama jutaan tahun, tetapi tentu saja pernyataan yang mengatakan bahwa dua makhluk yang tidak memiliki kecerdasan ini dapat sepakat meren-canakan suatu sistem yang menguntungkan kedua belah pihak tidak masuk akal.

Lalu, apa yang menyebabkan semut hidup pada tumbuhan?

Semut cenderung tinggal pada tumbuhan karena adanya cairan ber-nama “nektar residu” yang dikeluarkan tumbuhan. Cairan nektar ini merupakan daya tarik bagi semut untuk mendatangi tumbuhan. Banyak spesies tumbuhan yang terbukti mengeluarkan cairan ini pada waktu-waktu tertentu. Misalnya, pohon ceri hitam menghasilkan cairan ini hanya tiga minggu dalam setahun. Tentu pengeluaran cairan pada waktu ini bukan kebetulan karena waktu tiga minggu ini bertepatan dengan satu-satunya waktu sejenis ulat menyerang pohon ceri hitam. Semut yang ter-tarik pada nektar dapat membunuh ulat ini serta melindungi tumbuhan.61


Pada gambar di samping, kita dapat melihat tumbuhan kantong semar sebagai “perangkap serangga”. Namun, serangga-serangga tertentu lolos dari jebakan tumbuhan kantong semar. Misalnya, seperti ditunjukkan pada halaman berikutnya, semut dapat hidup berdampingan dengan kantong semar. Secara ajaib, tumbuhan ini tidak mempedulikan keberadaan semut.

Hanya dengan menggunakan akal sehat, kita dapat melihat bahwa hal ini adalah bukti hasil penciptaan. Akal sehat tidak mungkin bisa menerima bahwa pohon ini dapat memperhitungkan kapan bahaya akan menyerang lalu memutuskan bahwa cara terbaik untuk melindungi dirinya adalah dengan cara menarik semut serta mengubah struktur kimianya. Pohon ceri tidak punya otak. Oleh karena itu, ia tidak dapat berpikir, memperhitungkan, maupun mengubah komposisi kimianya. Bila kita menganggap bahwa prosedur yang rasional ini adalah sebuah karakter yang diperoleh dari suatu kebetulan yaitu dasar dari logika evolusi tentunya hal ini tidak masuk akal. Jelas sekali bahwa pohon ini telah melakukan sesuatu yang didasarkan pada kecerdasan dan ilmu pengetahuan.

Oleh karena itu, satu-satunya kesimpulan yang dapat kita tarik adalah bahwa sifat tumbuhan ini telah terbentuk karena adanya sebuah Kehendak yang telah menciptakannya. Bila kita merujuk pada segala bentuk pengaturan yang dibuat-Nya, jelas sekali bahwa Dia tidak hanya berkuasa atas pohon, tetapi juga atas semut dan ulat. Jika penelitian dilakukan lebih jauh lagi, tentunya dapat diketahui bahwa Dia berkuasa atas semesta alam dan telah mengatur setiap komponen alam secara terpisah namun serasi dan selaras, sehingga membentuk sebuah sistem sempurna yang kita kenal sebagai “keseimbangan ekologi”. Bila kita berpikir lebih jauh dan meneliti bidang-bidang lain, seperti geologi dan astronomi, kita akan sampai pada gambaran yang serupa. Ke mana pun kita melangkah, kita akan menyaksikan berjuta sistem yang berfungsi dengan selaras dan teratur sempurna. Semua sistem ini menunjukkan keberadaan Sang Pengatur. Meskipun demikian, tidak satu pun kompo-nen pembentuk alam ini yang mampu berfungsi sebagai Sang Pengatur itu.

“Maka apakah Dia yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa)? Maka mengapa kamu tidak meng-ambil pelajaran?” (QS. An-Nahl, 16:17) !

Oleh karena itu sang pengatur haruslah Dia Yang Maha Tahu dan Mahakuasa atas alam semesta. Al Quran menggambarkan Sang Pengua-sa sebagai berikut:

“Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Mem-bentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling Baik. Bertasbih kepadanya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS. Al-Hasyr, 59:24) !

Pohon Akasia dan Semut

Pohon Akasia yang tumbuh di daerah tropis dan subtropis di-lindungi oleh duri-duri. Suatu spesies semut yang hidup pada pohon akasia Afrika membuat lubang dengan menggerogoti dinding duri dan hidup secara permanen di dalam pohon akasia. Setiap koloni semut menghuni duri-duri pada di lebih dari satu pohon atau lebih, serta memakan nektar daun akasia. Koloni ini juga memakan ulat dan orga-nisme lain yang mereka temukan di pohon.

Nektar batang akasia sangat kaya akan minyak dan protein. Thomas Belt, yang pertama kali menyelidiki hal ini, menyatakan bahwa keli-hatannya satu-satunya fungsi nektar adalah menyediakan nutrisi bagi semut. Semut, yang hidup di pohon-pohon ini, mengambil gula dari nektar dan memberikannya kepada larva mereka.62

Simbiosis antara akasia dan semut mungkin merupakan salah satu contoh simbiosis yang paling menarik di dunia tumbuhan dan serangga.

Apa yang diharapkan pohon dari semut sebagai
“balas jasa”?

Semut pekerja yang berkerumun di permukaan tumbuhan sangat agresif kepada serangga lainnya, dan juga pada hewan segala ukuran. Kalau hewan lain menyentuh pohon yang mereka tinggali, mereka akan menyerang bersama-sama dan menggigit dengan gigitan yang menya-kitkan. Selain itu, tumbuhan lain yang berjarak kurang dari satu meter dari pohon akasia yang dihuni semut dibantai dan diserang, kulit batang pohon diserang, serta ranting dan dahan yang menyentuh pohon akasia juga dihancurkan.63

Telah dibuktikan bahwa pohon akasia yang tidak didiami semut lebih mudah diserang dan dilukai oleh serangga lainnya, jika diban-dingkan dengan pohon yang dihuni koloni semut. Dalam sebuah eksperimen diamati bahwa tumbuhan liar yang tumbuh berdiameter 40 cm dari pohon akasia diserang oleh semut, dimakan dan diinjak-injak sampai hancur. Semut juga bahkan menyerang dahan dan daun tumbuh-an lain yang menyentuh bayangan pohon akasia. Seluruh koloni semut sangat sigap ketika membersihkan dan mengawasi tumbuhan. Para ilmuwan sampai pada kesim-pulan berikut: semut disewa oleh pohon akasia sebagai “tentara khusus”.64 Karena kedua belah pihak tidak mungkin bernegosiasi untuk mencapai keputusan tersebut, keputusan ini pasti telah diambil oleh Dia yang menyebabkan kedua belah pihak mencapai persetujuan.

Hotel Semut

Pada sejumlah tumbuhan, terdapat lubang-lubang dalam yang seca-ra biologi dikenal dengan nama “domatia”. Satu-satunya fungsi domatia adalah sebagai tempat berlindung bagi koloni semut. Domatia memiliki lubang-lubang yang bisa digunakan sebagai tempat keluar-masuknya semut, atau tirai jaringan tipis. Dalam ruang-ruang ini juga terdapat “makanan jadi” (yaitu makanan yang diproduksi pohon, khusus untuk dikumpulkan oleh semut serta dimakan). Satu-satunya fungsi “makanan jadi” adalah untuk memberi makan semut, karena tampaknya makanan ini sama sekali tidak dimanfaatkan oleh tumbuhan.65

Pendek kata, domatia adalah sebuah struktur khusus yang dibentuk agar semut dapat bertahan hidup. Suhu dan kelembapan domatia sangat ideal keseimbangannya bagi semut. Semut hidup dengan nyaman di tempat istimewa ini yang seolah-olah dibuat khusus bagi mereka ini, sebagaimana halnya hotel berkualitas dibuat untuk kesenangan manusia.


Pada gambar di atas, seekor semut terlihat di permukaan tumbuhan yang menjadi tempat persembunyiannya yang ideal. Lubang pada tanaman berfungsi sebagai “pintu” bagi semut.

Tidak mungkin bagi kita untuk menyatakan bahwa struktur ini terjadi secara kebetulan, dan bahwa tumbuhan memproduksi makanan bagi semut secara kebetulan, serta melakukannya berdasarkan kebutuhan.

Kerja sama semut dan tumbuhan hanyalah salah satu bukti dari keseimbangan yang menakjubkan yang dibuat oleh Sang Pencipta Yang Maha Esa di dunia ini. Selain itu, hubungan ini juga timbal balik. Layanan yang diberikan semut pada pohon dan layanan pohon pada semut, keduanya merupakan faktor penting bagi tumbuh-tumbuhan di dunia ini. Semut meningkatkan kadar karbon dalam tanah karena mereka menanaminya, menambahkan nutrisi tanah dari kotoran dan sisa-sisa mereka, serta menjaga suhu dan kelembapan lingkungannya pada kadar yang sesuai. Oleh karena itu, spesies tanaman yang hidup berdekatan dengan sarang semut tumbuh lebih subur dibandingkan yang hidup di tempat lain.

Tanaman Penghasil Zat Kimia dan Semut Penghasil Nitrogen

Suatu spesies semut, Philidris, dan tumbuhan inangnya, Dischidia major, menghasilkan sejumlah zat kimia yang rumit sepanjang hidup mereka.

Tumbuhan ini tidak memiliki akar di bawah tanah. Oleh karena itu, tumbuhan ini melilitkan dirinya pada tumbuhan lain agar dapat berdiri tegak. Tumbuhan ini memiliki cara yang sangat menarik untuk mening-katkan jumlah karbon dan nitrogen yang mereka dapatkan.

Semut memiliki tempat penyimpanan dalam tumbuhan ini, tempat mereka memelihara larva dan menyembunyikan sampah-sampah or-ganik mereka (seperti semut mati, potongan tubuh serangga, dan se-bagainya), yang disebut “daun semut”. Tumbuhan menggunakan sam-pah-sampah ini sebagai sumber nitrogen. Selain itu, permukaan-dalam dari ruang daun menyerap karbon dioksida yang dihasilkan semut, sehingga mengurangi jumlah air yang menguap melalui pori-pori daun.66 Pencegahan penguapan air ini sangat penting bagi tumbuhan penghasil zat kimia yang hidup di daerah tropis ini, karena tumbuhan ini tidak pernah dapat mendapatkan kebutuhan airnya langsung dari tanah karena tidak memiliki akar. Oleh karena itu, semut menyediakan dua kebutuhan penting tumbuhan sebagai balasan dari “kebaikannya” mem-berikan tempat berlindung pada semut.

Semut yang Memberi Makan Inangnya

Spesies semut tertentu memberi makan tumbuhan inangnya. Sebagai contoh, tubuh tumbuhan Myrmecodia dan Hydnophytum, yang dipenuhi benjolan memberikan ruang-ruang bersekat bagi semut untuk bersarang. Semut yang hidup di lekukan-lekukan ini berbeda satu de-ngan yang lain. Ruang-ruang yang dihuninya berdinding mulus. Mereka menyimpan sisa sampah serangga di ruang lain, yang berdinding kasar. Riset membuktikan dinding yang kasar menyerap nutrisi, sedangkan dinding mulus tidak berpori. Oleh karena itu, tumbuhan menyerap sisa sampah serangga yang dibawa masuk oleh semut. Dengan kata lain, semut telah memilih ruang-ruang yang tepat.

Para ilmuwan melakukan sebuah uji menarik. Pertama-tama mereka memberi makan larva lalat buah dengan ragi (yeast) yang telah diradiasi. Kemudian mereka meletakkan larva-larva ini pada tanaman yang dihuni koloni semut. Ketika semut menemukan larva, mereka langsung memba-wanya ke ruang berdinding kasar. Selama dua minggu selanjutnya, para ilmuwan mengamati level radioaktif pada tumbuhan, untuk membukti-kan bahwa sampah sisa serangga didistribusikan melalui saluran-salur-an dalam tubuh tumbuhan setelah diasimilasi. Para ilmuwan membuk-tikan bahwa zat-zat radioaktif dibawa ke seluruh tumbuhan, karena tumbuhan ini telah menyerap nutrisi yang tersedia.67

Tumbuhan Piper dan Semut Coklat

Hubungan antara tumbuhan piper dan semut mungkin paling menarik dibandingkan dengan contoh-contoh lain yang sudah kita kaji sebelumnya. Tumbuhan bernama piper ini (sejenis tanaman mini dari famili lada hitam) tumbuh di hutan tropis Amerika Tengah. Tumbuhan ini menyediakan makanan dan tempat berlindung bagi semut coklat (Pheidole bicornis). Pada saat pohon piper muda baru berdaun lengkap dua atau tiga buah, salah satu pangkal daunnya gelembung kosong di antara cabang dan daun biasanya berisi ratu Pheidole. Ratu semut membentuk koloni pada tunas tumbuhan piper dengan cara mengunyah pangkal daun dan membuat lubang, serta bertelur di sana. Ketika telur-telurnya pertama kali menetas menjadi larva, sang ratu dan anak-anaknya menempati salah satu pangkal daun. Ketika koloni mulai ber-kembang, para semut pekerja secara bertahap membuat lubang pada jaringan di bagian tengah tangkai daun, sehingga seluruh tanaman ber-ubah menjadi tempat tinggal koloni semut.68

Tumbuhan ini juga merupakan sumber makanan bagi semut. Per-mukaan dalam dari pangkal daun menghasilkan makanan satu-sel bagi semut. Semut mencabut remah-remah yang kaya akan minyak dan protein dari dinding pangkal daun, kemudian memberikannya pada larva mereka.69

Makanan bergizi ini mungkin tidak dapat ditemukan oleh semut di tempat lain. Makanan ini disediakan secara khusus oleh piper. Semut-semut ini berpindah ke pohon piper yang memberikan pelayanan terbaik, tempat berlindung, dan makanan bagi mereka setiap tahunnya, serta membangun sarang mereka di bagian tumbuhan yang paling sesuai bagi mereka.

Piper yang “Cerdas”

Tumbuhan piper yang berfungsi sebagai sumber makanan, juga me-miliki keistimewaan lainnya. Spesies tumbuhan lain tetap menghasilkan makanan meskipun koloni semut telah meninggalkannya, sedangkan tumbuhan piper hanya memproduksi makanan ketika koloni semut ma-sih menetap di pohon itu. Para ilmuwan telah menyadari bahwa tumbuh-an berhenti memproduksi makanan ketika semut coklat (Phedoles)70 tidak ada.

Tolong-menolong

Perbuatan tumbuhan piper bukanlah pengorbanan sepihak. Selama mereka hidup bersama, semut juga memproduksi nutrisi yang dibutuh-kan oleh inangnya.

Ketika semut bergerombol pada batang tumbuhan yang membusuk, semut dibawa jaringan tumbuhan bagian dalam yang lunak dalam bentuk ammonia hidrat. Cairan ini sangat menguntungkan bagi tumbuhan, karena meningkatkan efisiensinya. Selain itu, ketika anggota koloni semut bernapas, mereka mengeluarkan karbon dioksida sehingga konsen-trasinya pada tumbuhan meningkat dan pohon tumbuh lebih sehat.

Sejumlah penelitian telah dilakukan untuk memahami apakah semut piper menyediakan makanan bagi tumbuhan inangnya. Terbukti bahwa semut Pheidole membawa serta partikel-partikel tertentu seperti spora, potongan rumput liar, dan serpihan kulit ngengat, ketika semut sedang mencari makan. Semut menyimpan makanan yang mereka bawa dalam kantung kecil tempat mereka memelihara larvanya, kemudian tumbuhan mengambil mineral yang dibutuhkannya dari makanan ini.

Pheidole Sang Pakar Strategi

Sifat semut Pheidole cukup ramah. Mereka bergerak perlahan-lahan dan tidak pernah menyerang maupun menggigit. Akan tetapi, semut ini menggunakan strategi licik untuk melindungi dirinya dan inangnya, pohon piper.

Kebanyakan serangga, seperti ulat yang memakan dedaunan, ber-telur di atas pohon. Semut segera membuang sumber bahaya ini. Telur rayap yang diletakkan pada daun tumbuhan piper dapat ditemukan oleh semut pekerja dalam waktu satu jam. Kemudian para pekerja ini me-munguti telur satu demi satu. Mereka membawa telur-telur ini ke tepi daun dengan dagu dan mejatuhkannya ke bawah. Para ilmuwan men-coba meletakkan telur rayap di ruang larva semut, agar larva memakan-nya. Tetapi hasilnya tetap sama, dan semut pekerja segera membuang apa pun yang dapat membahayakan diri mereka dan inang mereka.71

Aphid Penyerang

Makhluk lain yang membahayakan piper adalah aphid gandum yang suka menyerang, Ambates melanobs. Aphid gandum menyerang sebagian besar tumbuhan yang tidak ditinggali oleh koloni semut dan membunuh tumbuhan ini dengan cara melubangi batang pohon dari dalam. Akan tetapi, penyerang kecil ini tidak mungkin berhasil apabila tumbuhan dijaga oleh semut. Semut menyerang larva aphid yang lunak dan tidak memiliki pertahanan tubuh ketika mereka mulai melubangi bagian dalam batang. Semut yang bertugas menjaga tumbuhan bertugas melawan segala jenis serangan serta melindungi keseimbangan ekologi dengan kemampuan mereka ini.

Keharmonisan dalam kehidupan tumbuhan dan semut tidak mungkin terjadi secara kebetulan. Gambaran yang kita dapatkan dari informasi yang diberikan melalui seluruh bab ini menunjukkan pada kita spesies-spesies yang berbeda satu sama lain, tetapi diciptakan untuk dapat bekerja sama dengan baik.

Pada awal bab ini, kami telah memberikan contoh keharmonisan seperti ini. Hubungan antara anak kunci dan gembok yang sesuai. Hanya ada satu penjelasan dari keharmonisan yang terjadi antara dua obyek ini. Gembok dan anak kunci dibuat oleh ahli yang sama, artinya keduanya memang sengaja dibuat berkesesuaian. Dalam contoh kerjasama yang kita temui di alam, logika yang sama juga berlaku. Semut dan tumbuhan bekerja sama karena mereka adalah produk rancangan secara sadar. Semut tidak mempunyai kekuasaan terhadap tumbuhan, demikian juga sebaliknya. Karena keduanya tidak mungkin mengeluarkan gagasan, mereka hanya menjalani kehidupannya menurut ilham yang diberikan oleh Penciptanya, sehingga mampu memelihara hubungan timbal balik dalam kehidupan mereka.

Tugas bagi manusia adalah menyadari kekuasaan Sang Pencipta dan Si Pemilik kekuasaan ini. Tetapi sayangnya begitu banyak manusia yang tidak memikirkannya, bahkan tidak pula memedulikannya. Ayat di bawah ini menyatakan dengan kalimat yang sebaik-baiknya mengenai penciptaan sempurna yang dilakukan Allah dan kebutaan manusia dalam memandangnya:

“Hai Manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru se-lain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah. Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha-kuat lagi Mahaperkasa.” (QS. Al-Hajj, 22:73-74) !

Agustus 1, 2009 Posted by | semut | Tinggalkan komentar

SPESIES SEMUT

Meski tampak serupa, semut terbagi dalam banyak spesies berdasarkan gaya hidup dan ciri-ciri fisiknya. Makhluk hidup ini sebenarnya memiliki sekitar 8.800 spesies. Setiap spesies juga memiliki sifat yang patut dikagumi. Sekarang mari kita bahas beberapa spesies tersebut, gaya hidup dan ciri-cirinya.

Semut Pemotong Daun


Semut pemotong daun sedang bekerja.

Ciri-ciri khusus semut pemotong daun, yang juga disebut “Atta”, adalah kebiasaan mereka membawa potongan daun yang mereka potong di atas kepalanya. Semut ini bersembunyi di bawah daun, yang sangat besar dibandingkan ukuran tubuh mereka. Daun ini mereka tahan dengan dagu yang terkatup rapat. Oleh karena itu, perjalanan pulang semut pekerja setelah bekerja seharian memberi pemandangan sangat menarik. Orang yang melihatnya akan merasa seolah lantai hutan menjadi hidup dan berjalan. Di hutan hujan, pekerjaan mereka mengambil sekitar 15 persen produksi daun.19 Alasan mereka membawa potongan daun tentu saja bukan untuk perlindungan dari matahari. Semut ini juga tidak memakan potongan daun. Lalu, bagaimana mereka memanfaatkan begitu banyak daun?

Ternyata Atta menggunakan daun untuk memproduksi jamur. Daun itu sendiri tidak dapat mereka makan karena di dalam tubuh mereka tak ada enzim yang dapat mencerna selulosa dalam daun. Semut pekerja menumpuk potongan daun setelah ia kunyah, dan ia simpan di ruang-ruang dalam sarang di bawah tanah. Di ruangan ini mereka menanam jamur di atas daun. Dengan ini, mereka memperoleh protein yang mereka butuhkan dari pucuk jamur.20

Namun, jika Atta disingkirkan, kebun itu biasanya mulai rusak dan segera tersaingi jamur liar. Lalu, bagaimana Atta, yang membersihkan kebunnya hanya sebelum “penanaman”, terlindung dari jamur liar? Cara menjaga kultur murni jamur tanpa harus selalu disiangi tampaknya bergantung pada air liur yang dimasukkan semut ke dalam kompos saat mereka mengunyah. Diduga air liur tersebut mengandung antibiotik yang menghambat pertumbuhan jamur yang tak diinginkan. Air liur juga mungkin mengandung zat pendukung pertumbuhan untuk jamur yang tepat.22 Yang harus direnungkan adalah: Bagaimana semut ini belajar membudidayakan jamur? Apakah mungkin, pada suatu hari seekor semut kebetulan mengambil daun dengan mulutnya dan mengunyah-nya? Lalu secara kebetulan lagi ia menempatkan cairan yang kini mirip bubur ini di atas lapisan daun kering yang benar-benar secara kebetulan merupakan lahan yang cocok? Dan semut lain membawa potongan jamur dan menanamnya di situ? Dan akhirnya semut itu tahu di situ akan tumbuh sejenis makanan yang dapat mereka makan, sehingga mereka mulai membersihkan kebun, membuang bahan yang tak perlu, dan me-manennya? Lalu mereka menyampaikan proses ini kepada seluruh kolo-ni satu per satu? Selain itu, mengapa mereka membawa semua daun itu ke sarang meskipun tak dapat mereka makan?

Selanjutnya, bagaimana semut ini mampu menciptakan air liur yang mereka gunakan saat mengunyah daun untuk memproduksi jamur? Kalaupun misalnya mereka entah bagaimana dapat membentuk air liur ini, dengan informasi apa mereka dapat memproduksi antibiotik dalam air liur mereka yang mencegah terbentuknya jamur liar? Bukankah diperlukan pengetahuan ilmu kimia yang signifikan untuk bisa mencapai proses seperti itu? Andaipun mereka memiliki pengetahuan itu – yang mustahil terjadi – bagaimana mereka bisa mene-rapkannya dan mem-buat air liur mereka memiliki ciri-ciri zat antibiotik ini?

Akibat simbiosis antara semut pemotong daun dan jamur, semut memperoleh protein yang mereka butuhkan untuk gizi dari tunas jamur yang mereka tanam di daun. Di atas terlihat kebun jamur yang dirawat semut.

1) Di dalam sarang, pekerja yang lebih kecil memotong daun kecil-kecil.

2) Kasta berikut mengunyah potongan ini menjadi pulp dan memupuknya dengan simpanan cairan feses yang kaya enzim.

3) Semut-semut lain menyediakan pasta daun subur di atas lapisan daun kering di ruang baru.

4) Kasta lain mengangkut potongan jamur dari ruang lama dan menanamnya dalam pasta daun. Potongan jamur dioleskan pada pasta daun seperti lapisan gula kue.
5) Kasta kerdil berkerumun membersihkan dan menyiangi kebun, lalu memanen jamur untuk dimakan semut lain.21

Jika kita pikirkan bagai-mana semut dapat mewujudkan peristiwa mukjizat ini, akan muncul ratusan pertanyaan serupa, yang satu pun tak ada jawabannya.

Di lain pihak, jika di-berikan satu penjelasan, semua pertanyaan ini bisa dijawab. Semut telah di-rancang dan diprogram untuk mengerjakan tugas yang mereka laksanakan. Peristiwa yang diamati tadi sudah cukup untuk membuktikan bahwa semut dimunculkan, dengan mengetahui ilmu pertanian. Pola perilaku kompleks seperti ini bukanlah fenomena yang bisa berkembang bertahap seiring waktu. Pola-pola ini adalah hasil dari pengetahuan yang komprehensif dan kecerdasan yang tinggi. Maka dari itu, klaim evolusionis bahwa perilaku menguntungkan diseleksi seiring waktu dan organ yang diperlukan berkembang melalui mutasi, kini tampak sama sekali tidak masuk akal. Tentu hanya Allah yang memberikan pengetahuan ini kepada semut dari hari pertama, dan Yang menciptakan mereka dengan segala segi yang menakjubkan ini. Allahlah sang Pencipta. Berbagai keunikan semut Atta yang di atas memberikan suatu gambaran yang akan sering kita temui di seluruh buku ini. Kita membicarakan suatu makhluk hidup tanpa kemampuan berpikir, tetapi tetap saja dapat menyelesaikan tugas besar yang memperlihatkan adanya kecerdasan tinggi. Hal ini tak terbayangkan oleh manusia.

Lalu, apa arti semua ini?

Jawabannya hanya satu dan sederhana: Jika hewan ini tidak memi-liki kemampuan berpikir untuk memungkinkannya melakukan apa yang ia lakukan, berarti ada kecerdasan, ada Kebijakan sosok lain. Sang Pencipta, yang menciptakan semut, menjadikan pula hewan ini mampu melakukan hal-hal di luar kapasitasnya sendiri. Demikianlah Dia me-nunjukkan keberadaan-Nya dan keunggulan dalam ciptaan-Nya. Semut bertindak menurut ilham Allah dan kecerdasan yang ditampilkan sebenarnya adalah kearifan Allah.

Dalam gambar di bawah, seekor Atta, ditemani penjaganya yang berukuran kecil, membawa selembar daun.

Sebenarnya, hal serupa terlihat di seluruh dunia hewan. Kita ber-temu berbagai makhluk yang menampilkan kecerdasan yang sangat tinggi meskipun mereka tak memiliki pikiran yang mandiri atau kapa-sitas nalar. Semut adalah salah satu hewan yang paling mencolok dan seperti hewan lain, sebenarnya bertindak sesuai dengan program yang diberikan oleh Kehendak yang melatihnya. Ini mencerminkan kearifan dan kekuasaan si Pemilik Kehendak, yakni Allah.

Sekarang mari kita lanjutkan meninjau keterampilan unggul semut, yang memiliki pengetahuan dasar.

Metode Pertahanan Atta yang Menarik

Pekerja berukuran sedang dari koloni semut pemotong daun melewatkan hampir seluruh hari mereka membawa daun. Mereka jadi sulit membela diri selama kegiatan ini, karena mereka memegang daun dengan dagu yang biasa mereka gunakan untuk membela diri. Jadi, jika mereka tak mampu membela diri, siapa yang melindungi mereka?

Telah diamati bahwa semut pekerja pemotong daun selalu berjalan ditemani pekerja yang berukuran lebih kecil. Pada mulanya ini diper-kirakan hanya kebetulan. Lalu, alasan di balik hal ini diteliti dan temuan-nya, yang merupakan hasil analisis yang panjang, adalah contoh kerja sama yang menakjubkan.

Semut berukuran sedang, yang bertu-gas membawa daun, menggunakan sis-tem pertahanan yang menarik untuk melawan jenis lalat musuh. Lalat musuh ini memilih tempat khusus untuk berte-lur pada kepala se-mut. Tempayak yang menetas dari telur ini akan mema-kan kepala semut, dan pada akhirnya memenggalnya. Tanpa asistennya yang kecil, semut pekerja tak berdaya melawan spesies lalat yang selalu siap menyerang ini. Dalam keadaan normal, semut mampu mengusir lalat yang mencoba mendarat di tubuh mereka dengan rahang setajam gunting. Namun, ia tak dapat melaku-kannya selagi membawa daun. Oleh karena itu, ia menaruh semut lain pada daun yang dibawanya untuk membelanya. Jika diserang, para penjaga kecil ini bertarung melawan musuh.23

Jalan Raya Atta

Jalan yang digunakan Atta, saat membawa pulang daun yang me-reka potong, mirip jalan raya mini. Semut yang merayap perlahan di jalan ini mengumpulkan semua ranting, kerikil kecil, rumput, dan tumbuhan liar dan menyingkirkannya ke satu sisi. Dengan demikian, mereka membuat jalan bersih bagi mereka sendiri. Setelah lama bekerja secara intensif, jalan raya ini menjadi lurus dan mulus, seolah dibangun dengan alat khusus.

Selagi membawa daun yang mereka potong, Atta membersihkan jalan yang mereka gunakan dari segala macam potongan ranting, kerikil, dan sisa rumput. Jadi, mereka menyiapkan semacam “jalan raya” bagi diri mereka sendiri.

Koloni Atta terdiri atas pekerja sebesar butir pasir, prajurit yang beberapa kali lipat lebih besar, dan “pelari maraton” berukuran sedang. Pelari maraton ini berlari membawa potongan daun ke sarang. Semut-semut ini begitu rajin sehingga, dengan ukuran manusia, setiap pekerja bagaikan orang yang berlari menempuh jarak satu mil per empat menit sepanjang 50 km, sambil memanggul 227 kg di bahunya.24

Dalam sarang Atta, ada ruang-ruang sebesar kepalan tangan sedalam hingga 6 meter. Pekerja mini bisa memindahkan sekitar 40 ton tanah saat menggali sejumlah besar ruangan dalam sarang mereka yang besar.25 Pembangunan sarang selama beberapa tahun oleh semut ini memiliki tingkat kesulitan dan standar profesionalisme tinggi yang setara dengan pembangunan Tembok Besar Cina oleh manusia.

Inilah bukti bahwa Atta tidak bisa dipandang sebagai makhluk seder-hana yang biasa. Semut, pekerja sangat keras, mampu merampungkan tugas rumit yang sulit dilakukan manusia. Sesungguhnya satu-satunya Pemilik kekuasaan yang bisa memberi mereka keterampilan seperti ini adalah Allah. Sungguh tidak logis jika kita mengatakan bahwa mereka memperoleh semua keterampilan ini sendiri dan dengan kemauan sendiri.

Teknik Semut Atta Memotong Daun

Saat semut memotong daun dengan mandibula (rahang), seluruh tubuhnya bergetar. Para ilmuwan mengamati bahwa getaran ini mem-buat daun diam, sehingga memudahkan pemotong-an. Pada saat yang sama, bunyi ini dapat menarik perhatian para pekerja lain – semuanya betina – ke tempat tersebut untuk me-nyelesaikan memotong seluruh daun.26 Si semut menggosokkan dua organ kecil pada perutnya untuk menghasilkan getaran ini, yang bisa didengar manu-sia sebagai bunyi yang sangat lirih. Getaran ini di-kirim melalui tubuh hingga mencapai mandibula se-mut yang mirip arit. Dengan menggetarkan bokongnya secara cepat, semut ini memotong daun berbentuk sabit dengan menggetarkan mandibula, mirip dengan pisau listrik.

Teknik ini memudahkan pemotongan daun. Namun, diketahui bahwa getaran ini juga memiliki tujuan lain. Seekor semut yang memotong daun akan menarik semut lain ke tempat yang sama karena banyak tumbuhan lain di daerah tempat tinggal Atta beracun. Karena menguji setiap daun oleh masing-masing semut merupakan prosedur yang berisiko tinggi, mereka selalu pergi ke tempat di mana semut lain telah berhasil merampungkan tugas mereka.

Semut Penenun

Semut penganyam hidup di pohon, membangun sarang dari daun. Dengan mengombinasikan daun, mereka mampu membentuk satu sarang di beberapa pohon, sehingga bisa mendukung populasi yang jauh lebih besar.

Tahap-tahap pembangunannya menarik. Pertama, pekerja mencari sendiri-sendiri lokasi di wilayah koloni yang cocok untuk perluasan. Kalau menemukan batang yang cocok, mereka menyebar ke dedaunan batang tersebut dan menarik dedaunan itu dari samping. Setelah berhasil membengkokkan sebagian daun, para pekerja di dekatnya bergerak menghampiri dan menarik daun itu bersama-sama. Jika daunnya lebih lebar daripada ukuran semut, atau jika perlu menarik dua daun sekaligus, para pekerja membentuk jembatan hidup di antara dua titik yang akan disatukan. Setelah itu, sebagian semut dalam rantai ini menaiki pung-gung semut di sebelahnya, sehingga memendekkan rantai, dan ujung-ujung daun pun disatukan. Ketika daun sudah berbentuk tenda, sebagian semut terus memegang daun dengan kaki dan rahang, sementara yang lain kembali ke sarang lama dan membawa ke situ larva yang dibesarkan secara khusus. Para pekerja menggosokkan larva maju-mundur pada penyatuan daun, dengan menggunakan larva sebagai sumber sutra. Dengan sutra yang disekresikan dari lubang di bawah mulut larva, daun-daun pun menempel di tempat yang diperlukan. Artinya, larva diguna-kan sebagai mesin jahit.27

Fase-fase pembangunan sarang oleh semut penenun… Dalam fase pertama, si semut memilih daun yang tepat pada pohon yang mereka ingin jadikan tempat membangun sarang, dan menyatukannya dengan menarik dari dua sisi. Kemudian, mereka membawa larva produsen sutra, seperti yang ditunjukkan di bawah, dan menjahit daunnya menjadi satu dengan menggunakan larva tersebut sebagai mesin jahit.

Sarang daun yang disiapkan untuk memenuhi semua persyaratan.

Larva ini, yang dibesarkan untuk tali sutranya, memiliki kelenjar sutra yang lebih besar dari rata-rata, tetapi mudah dibawa karena ukuran-nya lebih kecil. Larva ini memberikan semua sutranya untuk kebutuhan koloni, alih-alih menggunakannya sendiri. Alih-alih memproduksi sutra perlahan-lahan dari kelenjar sutra tersebut, mereka menyekresi sutra da-lam jumlah besar pada satu saat tertentu, dan bahkan tidak membangun kepompong sendiri. Selama sisa hidupnya, semut pekerja akan melaku-kan apa-apa yang biasa dilakukan larva untuk mereka. Kenyataannya, larva ini hidup hanya sebagai “produsen sutra”.28

Bagaimana semut dapat mengembangkan kerja sama seperti ini tak bisa dijelaskan oleh para ilmuwan. Hal lain yang tak dapat dijelaskan adalah bagaimana perilaku ini pertama kali muncul selama masa evolusi yang diduga orang. Prinsip-prinsip dasar evolusi tidak akan dapat men-jelaskan bagaimana hal-hal yang begitu canggih dan bermanfaat seperti halnya fenomena sayap serangga, mata vertebrata, dan mukjizat biologis lainnya bisa berkembang melalui evolusi dari makhluk hidup pertama. Ini merupakan jalan buntu bagi para pembela evolusi.

Tentu saja tidak logis kalau kita mengatakan bahwa pada suatu hari para larva berkumpul dan berkata, “Sebagian di antara kita harus memproduksi sutra untuk memenuhi kebutuhan seluruh koloni, jadi mari kita sesuaikan berat dan kelenjar sutra kita untuk itu.” Teori seperti ini tentu bukan teori yang cerdas. Oleh karena itu, kita harus mengakui bahwa larva itu diciptakan dengan mengetahui apa yang harus dilakukan. Dengan kata lain, Allah, yang menciptakan larva ini, membentuk mereka sedemikian sehingga mereka cocok untuk tugas mereka.

Semut Pemanen

Sebagian semut, seperti yang telah disebutkan, adalah “petani” kawakan. Di antaranya bisa disebut semut pemanen, selain Atta yang kita bahas sebelumnya.

Semut pemanen membawa benih berkarbohidrat ke ruangan khusus dan mengubahnya menjadi bentuk yang digunakan sebagai gizi bagi pekerja. Di ruang-ruang dalam gambar di atas, benih yang akan digunakan pada musim kemarau disimpan oleh semut panen.

Mekanisme pemberian makan di antara semut pemanen ini cukup canggih dan rumit, jika dibandingkan dengan mekanisme pemberian makan jenis semut lain. Mereka mengumpulkan benih dan menyim-pannya dalam ruangan yang disiapkan secara khusus. Benih-benih ini, yang mengandung karbohidrat, digunakan untuk memproduksi gula yang akan memberi makan larva dan pekerja lain. Sementara banyak semut menggunakan benih dan biji sebagai makanan, hanya semut pemanen yang memiliki sistem yang berdasarkan pada pengumpulan dan pemrosesan benih.

Semut ini mengumpulkan benih pada musim tumbuh dan menyim-pannya untuk digunakan pada musim kemarau. Di ruangan khusus dalam sarang, mereka menyortir benih dari benda-benda lain yang keliru dibawa pulang. Beberapa kelompok semut tinggal dalam sarang jam demi jam, mengunyah isi benih sehingga menghasilkan sesuatu yang disebut roti semut. Dulu diduga bahwa semut menggunakan proses, yang di-pelajari melalui pengalaman, untuk mengubah karbohidrat benih menjadi gula yang akan mereka makan. Kini diketahui bahwa air liur melimpah yang mereka sekresikan selagi mengunyah inilah yang melaksanakan pengubahan ini.29

Semut yang kita bahas di sini tentu saja belum pernah dididik tentang ilmu kimia. Mereka pun tak mungkin tahu bahwa air liur mereka akan mengubah benih yang mereka kumpulkan secara acak menjadi gula yang dapat mereka makan. Namun, kehidupan semut ini bergantung pada serangkaian perubahan kimiawi yang tak mereka ketahui dan tak mungkin bisa mereka ketahui. Kalau manusia pun tidak tahu proses perubahan yang terjadi dalam tubuh semut ini – dan baru memahami perinciannya dalam beberapa tahun terakhir – bagaimana semut bisa makan melalui metode ini selama beribu-ribu tahun?

Semut Madu

Banyak jenis semut yang diberi makan de-ngan buangan pencerna-an aphid (serangga daun) yang disebut “madu”. Zat ini sebenarnya tidak berkaitan dengan madu biasa. Akan tetapi, bu-angan pencernaan kutu ini – yang memakan getah tumbuhan – dina-mai demikian karena mengandung gula dalam kadar tinggi. Jadi, para pekerja spesies ini, disebut semut madu, mengumpulkan madu dari kutu, biji (coccidae), dan bunga. Metode semut mengumpulkan dari kutu sangat menarik. Si semut mendekati kutu dan mulai mendorong perutnya. Kutu memberikan setetes buangan kepada semut. Semut mulai mendorong perut kutu lagi untuk mendapat madu lebih banyak, lalu menyedot cairan yang keluar. Lalu bagaimana mereka memanfaatkan makanan bergula ini, dan apa manfaat makanan ini bagi mereka kemudian?

Ada pembagian kerja yang hebat di antara semut madu pada fase ini. Sebagian semut digunakan sebagai “guci” untuk menampung nektar yang dikumpulkan para pekerja lain!…

Dalam setiap sarang terdapat satu ratu, para pekerja, dan juga para penampung madu. Koloni semut jenis ini biasanya terletak di dekat pohon ek kerdil, yang dapat diambil nektarnya oleh para pekerja. Pekerja menelan nektar itu dan membawanya ke sarang. Nektar itu lalu ia keluarkan dari mulutnya dan ia tuangkan ke mulut pekerja muda yang akan menampung madu ini. Pekerja muda ini, yang dinamai pot madu, menggunakan tubuh mereka sendiri untuk menyimpan makanan cair manis yang sering diperlukan koloni untuk melewati masa sulit di gurun pasir. Mereka diberi makanan hingga membengkak sampai sebesar bluberi. Lalu mereka bergantungan di langit-langit ruangan seperti bola kuning, sampai mereka dipanggil untuk memuntahkan nektar itu untuk saudaranya yang lapar.30 Selagi menempel pada langit-langit, mereka mirip dengan kelompok anggur kecil dan tembus cahaya. Jika mereka jatuh, para pekerja langsung mengem-balikannya ke posisi semula. Madu dalam pot madu beratnya hampir 8 kali lipat berat si semut.

Pada musim dingin atau musim kemarau, pekerja-biasa mengunjungi pot madu untuk memenuhi kebutuhan makanan sehari-hari. Semut pekerja menempelkan mulutnya pada mulut si “pot”, yang mengeluarkan setetes madu dari tempat penyimpanannya de-ngan mengerutkan otot. Pekerja memakan madu yang bernilai gizi tinggi ini sebagai makanan pada musim sulit.

Sungguh menarik dan menakjub-kan bahwa ada makhluk hidup yang berat tubuhnya mencapai 8 kali lipat beratnya sendiri, setelah memutuskan untuk menjadi pot madu, dan mampu hidup bergantung pada kakinya tanpa cedera. Mengapa mereka merasa perlu menerima tugas yang begitu sulit dan berbahaya? Apakah mereka memikir-kan sendiri teknik penyimpanan yang unik ini, dan mengendalikan perkembangan tubuh mereka sesuai dengan itu? Pikirkan saja, semen-tara manusia tak bisa mengendalikan perkembangan sekecil apa pun pada tubuhnya, bagaimana bisa semut, yang tak memiliki otak dalam arti sebenarnya, melakukan ini sendiri?


Seperti yang diperlihatkan pada gambar di atas, pot madu yang telah membengkak karena menyimpan makanan ini bentuknya mirip seperti anggur.

Semut madu menampilkan perilaku yang tak dapat dijelaskan teori evolusi. Sangat tidak masuk akal mempertahankan bahwa mereka mengembangkan metode penyimpanan madu dan organ yang dibutuh-kannya secara kebetulan. Malah, dalam sumber-sumber ilmiah, kita ba-nyak menemukan pernyataan realistis mengenai hal ini dan topik-topik serupa. Misalnya saja, ambil penjelasan Prof. Etienne Rabaud, Direktur Institut Biologi dari Universitas Paris:

Contoh-contoh ini (misalnya semut madu) menunjukkan dengan jelas bahwa tidak mungkin berbagai organ berkembang untuk melaksanakan fungsi-fungsi tertentu makhluk hidup, meskipun wujud mereka sebelumnya telah menimbulkan perilaku dan tugas tertentu yang dilaksanakan dan kadang tidak. Ini menunjukkan bahwa organ tidak berkembang dari penyesuaian diri makhluk hidup dengan kondisi hidupnya. Sebaliknya, kondisi hidup muncul dari wujud semula organ tersebut dan dari fungsi-fungsi yang telah kita lihat. Pertanyaan berikut bisa ditanyakan seperti pernah ditanyakan Darwin: Apakah peristiwa membersihkan, menyiangi individu yang sudah tak mampu hidup, atau adaptasi organ menuruti kondisi baru, terjadi dalam evolusi ini? Menurut kami, peristiwa itu mem-buktikan bahwa evolusi seperti ini, atau perubahan seperti ini, tidak terjadi. Malah, yang terjadi adalah fenomena yang sama sekali berbeda.31

Penjelasan Profesor Rabaud ini menunjukkan dengan jelas kesim-pulan yang dapat dicapai oleh siapa saja yang berpikir dengan hati nuraninya sejenak. Satu-satunya Pencipta yang merupakan sumber sejati pengetahuan dan kecerdasan telah menciptakan segala makhluk hidup dengan organ dan perilaku yang sempurna. Kebenaran ini telah di-ungkapkan dalam Al Quran sebagai berikut:

“Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling Baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS. Al Hasyr, 59: 24) !

Semut Kayu

Semut kayu terkenal dengan bukit yang mereka bangun dari daun cemara dan cabang tipis di atas sarang bawah tanah mereka. Sarang ini biasanya ditemukan di sekitar batang pohon. Bagian sarang yang di atas tanah, terbuat dari ranting, tangkai daun, dan daun cemara, adalah atap sarang. Atap ini, yang mencapai dua tinggi meter, mencegah peresapan air hujan ke dalam dan mengatur suhu sarang dalam cuaca yang sangat panas atau sangat dingin.32


Dalam gambar ditunjukkan sebuah sarang semut kayu. Tinggi sarang yang dibangun semut kayu dari daun cemara dan ranting dapat mencapai kira-kira dua meter.

Semut kayu, seperti semut lain, juga rajin bekerja. Mereka selalu saja menghias ulang sarang. Mereka memindahkan lapisan permukaan semula ke lapisan bawah secara bertahap dan mereka menaikkan material dari lapisan bawah untuk mengganti lapisan atas. Ada pengamatan menarik tentang perubahan yang dibuat semut pada sarang. Cat biru disemprotkan ke puncak bukit sarang dan empat hari kemudian diamati bahwa puncak bukit sudah kembali coklat. Partikel biru ditemukan 8-10 cm di bawah permukaan. Dalam sebulan partikel ini turun hingga kedalaman 40 cm. Selanjutnya, partikel ini mencapai lagi permukaan.

Nah, apakah semut melakukan proses pemindahan sinambung ini hanya untuk iseng? Tidak. Para peneliti menjelaskan mengapa semut kayu melakukan tindakan terus-menerus ini: Gerakan terus-menerus ini mengeringkan zat lembap di dalam lapisan permukaan dan mencegah terbentuknya jamur. Kalau tidak, sarang semut ini akan dihuni jamur yang berbahaya.

Dalam situasi seperti ini ada dua kemungkinan. Salah satunya adalah zaman dulu sekali, dengan penelitian sendiri, semut menemukan fakta bahwa jamur berkembang dalam lingkungan lembap (sesuatu yang ditemukan manusia sebagai hasil penelitian ilmiah jangka panjang), dan mengembangkan metode paling rasional untuk melenyapkan masalah ini! Kemungkinan lain adalah pemikiran dan penerapan proses yang sempurna ini hanya mungkin melalui ilham oleh kecerdasan yang lebih tinggi. Kasus pertama jelas mustahil. Dia yang telah mengilhami semut untuk melindungi diri mereka dari jamur dan menunjukkan caranya tentu saja adalah Allah yang Mahakuasa.

Pelbagai Metode Reproduksi Semut Kayu

Para pejantan dan ratu semut kayu bersayap. Namun, mereka tidak melakukan penerbangan kawin seperti spesies semut kecil lain. Perkawinan dilakukan di permukaan sarang atau tempat lain yang dekat. Setelah kawin, ratu mencabut sayapnya dan melakukan salah satu dari tiga hal berikut:

Semut kayu dipersenjatai dengan baik untuk perang. Saat berhadapan dengan bahaya, semut kayu membengkokkan bagian bawah perutnya dari antara kakinya dan menyemprotkan asam format kepada musuhnya. Atau, saat bertarung, ia menggigit musuhnya dengan dagunya yang tajam dan menyuntikkan asam dalam luka tersebut. Dengan keunikan ini, hewan ini bertindak seperti senjata kimiawi.

(1) Ia kembali ke sarang tempatnya semula hidup sebagai larva dan meninggalkan telurnya di sana.

(2) Kadang ia meninggalkan sarang dengan diangkut para pekerja, mencari tempat baru untuk membangun sarang.

(3) Jika pergi sendiri, ia memasuki sarang semut lebih kecil dari spesies yang berhubungan, misalnya semut hitam Formica Fusca, dan menggantikan ratu di sana. Ratu meninggalkan telurnya untuk dirawat para pekerja F. Fusca di sana. Untuk beberapa lama, di sarang terdapat pekerja tamu dan pekerja tuan rumah. Namun, karena tuan rumah tak punya ratu, lambat laun para pekerjanya mati dan ratu kayu memperoleh sarang jadi tanpa perlu melakukan apa-apa.33

Dalam taktik semut kayu ratu yang dibahas pada bagian 3, diamati adanya kesadaran yang jernih. Namun, jelas kesadaran itu tak mungkin dimiliki semut itu sendiri. Semut ratu belum pernah melihat tempat lain selain beberapa meter persegi dalam sarangnya. Dia masuk ke dalam koloni yang belum pernah ia lihat atau ketahui sebelumnya, dan ia tahu siapa yang harus ia singkirkan dalam koloni tersebut. Ia melakukan hal ini dengan mengatasi segala rintangan. Semua faktor ini membuktikan tanpa ragu lagi bahwa semut ratu ini bertindak menuruti ilham. Fenomena yang disebut di atas adalah bukti jelas akan kekuasaan dan kekuatan Allah atas segala makhluk hidup.

Semut Legiun

Salah satu hewan yang paling ditakuti di hutan adalah semut legiun. Komunitas semut ini dinamai “pasukan” karena tindakan mereka me-miliki disiplin militer sejati.

Semut legiun adalah hewan karnivora. Mereka melahap segala sesuatu yang terlihat. Setiap semut panjangnya 6-12 milimeter, tetapi jumlah mereka yang besar dan disiplin mereka mengimbangi keku-rangan mereka dari segi ukuran.

Sinar matahari langsung dapat membunuh semut legiun dalam wak-tu singkat. Oleh karena itu, mereka berjalan di malam hari atau dalam bayang-bayang. Karena peka cahaya, mereka menggali terowongan pan-jang saat bergerak maju. Sebagian besar semut berlari dalam terowongan ini tanpa keluar. Hal ini tidak mengurangi kecepatan mereka, karena mereka dapat menggali terowongan sangat cepat dengan rahang mereka yang kuat. Karenanya, mereka lari secara cepat dan rahasia. Semut legiun bergerak sebagai pasukan yang sangat besar, melintasi segala hambatan kecuali api dan air, meskipun mereka buta sama sekali.34


Semut legiun yang telah membentuk sarang sementara dengan saling bergantung pada kaki.

Semut legiun mengoyak mangsanya di tempat mereka bertemu, dan membawa potongan mangsa kecil-kecil ke sarang sementara. Makanan yang dibutuhkan koloni semut legiun cukup banyak. Kebutuhan sehari-hari koloni ukuran sedang, yang terdiri atas 80.000 semut dewasa dan 30.000 larva, kira-kira sekitar 2,27 liter makanan produk hewan.35

Karena tidak memiliki sarang tetap, semut legiun selalu berpindah-pindah. Gerakan dan migrasi koloni bergantung pada daur produksi telur. Ratu menghasilkan sekitar 25-35.000 telur selama dua hari setiap bulan. Beberapa hari sebelum bertelur, koloni berhenti dan berkumpul di daerah luas. Semut saling bergantungan dengan kaki yang berbentuk kait dan membentuk sarang sementara. Ruang kosong di tengah meru-pakan ruangan, yang siap untuk didiami ratu dan generasi baru. Wajarnya, kaki dan sendi semut di puncak harus menerima beban berlebihan. Namun, karena tubuh mereka dibentuk mampu dibebani berat beberapa ratus kali dari berat mereka sendiri, mereka dapat menahan seluruh koloni tanpa masalah.36

Guna berburu seefisien mungkin, semut menye-suaikan gerakan mereka dengan kebutuhan anak-anak semut yang sedang berkembang, berganti-ganti antara fase menetap dan berpindah-pindah. Pada masa istira-hat sekitar 20 hari, ratu yang gemuk dan tidak dapat bergerak menghasilkan 50.000 hingga 100.000 telur sementara anak-anak lain berada dalam tahap kepom-pong yang diam. Sebagian besar hari dilewatkan para pekerja mencari makanan untuk mereka sendiri dan ratu, melakukan serangan singkat dari sarang dengan pola seperti mawar. Pada setiap serangan mereka mengubah arah sebesar rata-rata 123 derajat, sehingga menghindari menyisir lahan yang sama.37

Semut bisa tidak keliru menghitung 123 derajat, sesuatu yang tak dapat dihitung manusia tanpa alat. Ini seolah menunjukkan pengetahuan matematika yang teliti. Namun, semut tidak mengenal matema-tika, berhitung pun tak dapat. Ini menunjukkan bahwa tindakan mereka dilakukan menurut ilham istimewa, dan tidak secara sadar.

Dengan saling berkaitan, semut pasukan menciptakan sarang hidup. Karena senantiasa bergerak, koloni semut pasukan tidak membuat rumah permanen di tanah atau pohon. Akan tetapi, setiap malam pekerja berkumpul untuk membuat naungan dari tubuh mereka sendiri. Pertama, beberapa ekor semut memilih benda di dekat tanah, misalnya batang, lalu bergantung dari benda itu dengan saling berkaitan cakar. Semut lain tiba, berlari menuruni untaian, dan mengaitkan cakar sampai untaian menjadi tali yang dapat bergabung menjadi kumpulan selebar satu meter yang disebut bivak; rumah mereka merupakan seluruh koloni dari 200.000 hingga 750.000 individu. Di tengah-tengah sang ratu beristirahat bersama anak-anaknya. Pada pagi hari semut mulai melepaskan kaitan untuk keluar dan mencari mangsa.

Saat larva pertama menetas, para pekerja me-ngumpulkan makanan sementara komunitas tetap di tempat. Potongan makanan langsung diberikan ke-pada larva. Siapnya ratu bertelur lagi biasanya ber-samaan dengan transisi larva sebelumnya ke tahap kepompong. Pada tahap ini komunitas berhenti lagi. Serempaknya waktu bertelur ratu dan pindahnya larva ke tahap pupa menunjukkan perencanaan secara sadar karena ini mengurangi waktu berhentinya pasukan.

Perkembangan larva mendorong semut yang lebih tua untuk memulai daur migrasi baru. Inilah cara kerjanya: larva menghasilkan sekresi ketika dijilat dan dibersihkan para pekerja. Penelitian menunjukkan bahwa cairan ini efektif dalam keputusan untuk bermigrasi.38

Tidak logis kalau kita mengklaim bahwa larva, yang menjadi semut pun belum, sudah terpikir untuk menyekresi cairan itu dan mengarahkan seluruh koloni untuk memenuhi kebutuhan mereka. Satu-satunya hal yang dapat ditangkap pengamat yang pandai adalah keberadaan Sang Pencipta tertinggi, serta informasi dan kekuasaan-Nya di sekeliling kita.

Semut Beludru

Semut beludru yang hidup di gurun pasir memiliki tubuh berbulu banyak. Bulu alami mereka merupakan lapisan yang mengisolasi panas. Ia menyimpan panas selama malam-malam dingin di gurun pasir, dan melindungi diri dari panas di siang hari. Karena bersayap, semut beludru jantan bisa menghindari panasnya pasir dengan terbang. Akan tetapi, semut beludru betina harus berjalan di pasir yang panas karena tak punya sayap. Mereka memerlukan bulu ini agar terlindung dari panas yang berasal dari tanah maupun dari matahari.

Lalu, bagaimana menjelaskan adanya serangga yang memiliki “bulu” untuk melindungi diri dari kondisi cuaca yang berbahaya? Mustahil kita mengklaim bahwa hewan memperolehnya dengan beradaptasi dengan alam sebagai proses evolusi, karena ini menimbulkan banyak pertanyaan yang tetap tidak terjawab: Apakah semut beludru betina mati karena suhu tinggi sebelum memiliki bulu ini? Jika memang demikian, bagaimana mereka bisa menunggu selama beberapa generasi agar memperoleh bulu “secara kebetulan”? Melalui kebetulan macam apa mereka mendapatkan tubuh ini?

Gambar ini memperlihatkan dua semut beludru dari dua macam spesies. Hal yang sama dari semut beludru adalah mereka memiliki “bulu” untuk melindungi mereka dari panasnya lingkungan yang mereka tinggali.

Pertanyaan ini tentu saja tak berjawab, karena serangga ini mustahil memperoleh “bulu” yang melindungi mereka dari panas melalui meka-nisme yang terus diajukan evolusionis. Semut tak dapat hidup tanpa bulu ini dan mereka tidak punya waktu untuk menunggu mutasi yang jarang sekali terjadi – yang semuanya berbahaya. Jelas bahwa hewan ini telah dirancang sejak awal untuk bertahan dalam iklim yang mereka tinggali.

Semut beludru betina mencari sarang serangga atau sarang lebah jenis apa pun, yang dapat mereka gunakan setelah meninggalkan tempat mereka kawin. Jika sudah menemukannya, mereka memasuki sarang. Mereka diperlengkapi dengan cara menangkis upaya pengusiran. Pada akhirnya mereka terus tinggal dalam sarang, karena semut beludru memiliki kaki kuat dan perisai yang memungkinkan mereka masuk ke sarang lebah sekalipun. Cangkang luar mereka sangat tebal dan keras. Para ahli zoologi mengatakan bahwa mereka mengalami kesulitan untuk menusuk dada semut beludru dengan jarum baja.39

Setelah masuk, semut ratu beludru yang memiliki segala macam ke-lengkapan untuk tinggal dalam sarang lebah, mulai memakan simpanan madu. Selain itu, ia meninggalkan telurnya dalam sel pupa atau kepompong lebah. Larva semut yang menetas memakan pupa inangnya, dan kelak menjadi pupa juga. Lebah meninggalkan sarang pada akhir musim panas. Semut beludru melewatkan musim dingin dalam sarang ini sebagai pupa. Menurut satu catatan, ada sarang lebah yang berisi 76 semut beludru dan hanya dua ekor lebah.40 Contoh ini menunjukkan betapa semut beludru betina efektif dan berhasil dalam menangani lebah betina. Dengan menggunakan taktik halus, semut ratu beludru menduduki sarang dari dalam dan merebut kendali sarang itu.

Yang patut dicatat adalah bahwa semut beludru sangat mengenal lebah, dan lebih lagi, tahu betul cara mengelabuhinya. Jadi, mungkinkah ada sosok selain sang Pencipta lebah Yang mengilhami si ratu dengan ciri-ciri fisik, gaya hidup, dan struktur sarang seperti lebah? Satu-satunya penjelasan logis adalah menerima keberadaan Pencipta tunggal yang telah menciptakan semut, lebah, dan, sesung-guhnya, segala makhluk hidup.

Semut Api

Semut api adalah se-rangga merah berukuran kecil. Namun, mereka mampu me-lakukan hal-hal besar. Ratu semut jenis ini, yang memiliki 20 varietas di Amerika saja, dapat memproduksi hingga 5.000 telur sehari. Sementara banyak koloni spesies semut memiliki beberapa ratus pekerja, koloni spesies ini memiliki sekitar setengah juta pekerja. Satu ratu semut api yang sudah kawin dapat memproduksi sebuah koloni dengan 240.000 pekerja.41

Pekerja semut api menyerang mangsa dengan sangat agresif meng-gunakan jarum beracun. Telah diamati bahwa semut api muda dapat mencederai atau bahkan membunuh reptil atau bayi menjangan. Selain itu, semut agresif ini dapat memadamkan listrik dengan merusak kabel. Pernah mereka menyerang Amerika Selatan dan mengakibatkan keru-sakan yang mengerikan. Jurnal dan majalah tahun itu menginformasikan bahwa semut-semut ini mengunyah putus kabel listrik sehingga listrik padam, menggagalkan panen senilai miliaran dolar, meruntuhkan jalan tol dan menyengat manusia, mengakibatkan shock alergi yang melum-puhkan. Mereka melakukan semua ini dengan rahang mereka yang kuat. Mereka bahkan menggali terowongan di bawah jalan menyebabkan jalan dan jalan tol runtuh, juga kerusakan lain di lingkungan.

Perlindungan dari Kuman

Para ahli Amerika telah mencoba berbagai cara untuk mencegah kerusakan karena semut api. Mereka mencoba menyebarkan penyakit menular dalam koloni dengan menyuntikkan kuman ke dalam lalat yang dimakan semut. Namun, secara menakjubkan, diamati bahwa lalat ber-kuman itu sama sekali tidak mencederai semut. Dalam analisis di-temukan bahwa semut memiliki salah satu sistem pertahanan yang paling menarik di dunia makhluk hidup: struktur di dalam leher yang melindungi mereka dari kuman…. Berkat struktur ini, bakteri di dalam makanan apa pun yang dimakan semut tertahan di leher dan tidak dapat memasuki tubuh.

Namun, bukan itu saja sistem perlindungan semut api sebagai produk kecerdasan tertinggi. Mereka juga menyemprotkan cairan antimikroba yang diproduksi dalam kantung racun mereka di sekitar sarang dan pada larva. Dengan demikian, sarang dan larva menjadi sama sekali bebas kuman.42

Walau dilengkapi sistem pertahanan luar biasa, semut-semut ini jelas tidak menyadarinya. Dapatkah manusia yang berhati nurani mengklaim bahwa sistem semacam ini berevolusi secara kebetulan? Juga tak dapat diklaim bahwa semut menemukan sendiri sistem ini. Lalu siapa yang menempatkan saringan dalam leher semut? Siapa yang mengilhami mereka memproduksi cairan antimikroba? Tak diragukan lagi, Yang Menciptakan ciri-ciri, yang tak dapat diciptakan manusia, semut, dan keberuntungan acak, adalah Allah yang Mahatahu.

Semut Pekerja Keras

Semut api spesialis pertahanan juga rajin dan punya keterampilan tinggi. Mereka dapat membangun bukit setinggi 30 cm dan selebar 60 cm, atau menggali terowongan labirin hingga sedalam 1,5 m di bawah tanah. Di wilayah-wilayah tertentu, semut api membangun bukit-bukit kecil hingga lebih dari 350 buah. Kemampuan makhluk sekecil itu mem-bangun sarang sebesar itu tentu bergantung pada kerajinannya. Jadi, apakah kekuatan yang menjadikan semut sebagai salah satu makhluk hidup terajin di dunia? Sangat menakjubkan bahwa mereka bekerja sepanjang hari tanpa berhenti atau beristirahat, dan membangun sarang yang tersebar di wilayah yang luas. Tak satu pun berkata, “Aku bekerja terlalu keras hari ini, biarkan aku beristirahat sebentar,” atau “Aku tak mau bekerja hari ini. Biarkan aku duduk di pojok saja.” Inilah topik yang harus direnungkan dengan seksama. Jangan dilupakan bahwa manusia adakalanya menyerah karena lelah, bahkan saat mereka tahu mereka harus menyelesaikan tugas, dan adakalanya mereka tidak memaksakan diri karena mereka lelah atau merasa malas. Namun, semut menun-jukkan kemauan dan upaya besar untuk merampungkan tugas yang mereka mulai hingga berhasil. Dia yang memberi semut kemauan dan tekad ini, yang lebih kuat daripada manusia, tentu saja adalah satu-satunya penguasa segala sesuatu: Allah.

Penguasa Taktik yang Dapat Menembus Sistem Pertahanan

Musuh semut api yang paling menyeramkan adalah Solenopsis davgeri, suatu spesies semut parasit. Jadi, makhluk hidup yang dapat menembus sistem pertahanan bertingkat mereka, yang bahkan sulit dipahami manusia, adalah spesies semut lain. Tak diketahui bagaimana semut parasit ini dapat menyusup ke dalam sarang semut api. Namun, begitu mereka masuk, semut parasit langsung menyerang ratu dan bergantung pada antena, kaki, atau lehernya. Karena semut pekerja biasanya harus menghancurkan setiap penyerang, fakta bahwa mereka tidak melakukan apa-apa pada makhluk yang satu ini sulit dijelaskan. Namun ada jawaban sederhana. Saat menempel pada leher ratu, si parasit meniru feromon ratu. Selanjutnya, para pekerja bersusah payah memberi makan parasit yang telah menundukkan ratu mereka.. Ratu mereka mati, sedang mereka mengira telah memberinya makan.43

Semut Gurun

Sebagian besar makhluk hidup mustahil hidup di dalam pasir membara bersuhu 65o C, termasuk manusia. Namun, ada semut yang dapat terus hidup pada suhu ini. Nah, bagaimana Namib ocymyrmex, yang merupakan semut gurun hitam berukuran sedang dan berkaki panjang, hidup dalam panas tinggi ini?

Bagi semut Namib, hari biasa di gurun tidak dimulai pada satu waktu tertentu. Yang memulai hari-hari adalah suhu permukaan pasir standar setelah mencapai 30o C. Tepat pada suhu ini semut mulai keluar dari sarang bawah tanah untuk mencari makanan. Karena tubuh mereka sangat dingin, mereka tak dapat bergerak lurus dan berjalan terseok-seok. Namun, ketika suhu meningkat, semakin banyak semut keluar dan mereka mulai bergerak lebih lurus dan cepat. Lalu lintas tertinggi keluar-masuk sarang adalah pada suhu 52,2o C. Ketika suhu melebihi ini, gerakan terus berlanjut, tetapi ketika suhu mencapai 67,8o C, lalu lintas berhenti. Suhu ini dicapai sekitar sejam sebelum tengah hari. Ketika suhu mulai turun pada sore hari, pencarian makanan dimulai lagi dan berlanjut sehingga suhu permukaan jatuh hingga 30o C.

Semut mungkin mencari makanan sekitar enam hari jauhnya dari sarang tanpa dimangsa hewan apa pun. Pada masa ini mereka membawa pulang makanan yang beratnya 15-20 kali lipat berat mereka sendiri.

Semut, yang tak bisa pulang ke sarang ketika suhu di padang pasir sangat tinggi, menggunakan metode yang cukup menarik untuk ber-lindung dari panas. Suhu udara menurun jika jarak semakin jauh ke atas pasir. Misalnya jika suhu pasir 67,8o C, suhu udara sedikit di atasnya adalah 55o C. Jadi, jika suhu permukaan pasir di atas 52,2o C, semut mendaki benda seperti tumbuhan dan berdiam di situ sementara untuk mendingin. Suhu tubuh semut yang kecil bisa cepat turun hingga mencapai suhu sekitar. Dalam batang pohon, suhu bervariasi antara 30 hingga 38,3o C. Jeda pendinginan ini memungkinkan semut mencari makanan dalam panas membara, meskipun terputus-putus.

Pada suhu tinggi, jika tidak dapat menemukan tempat dingin dalam beberapa detik, semut akan mati kepanasan. Malah, jika suhu pasir di atas 52,2o C, mereka mengambil resiko setiap kali meninggalkan sarang. Lalu, bagaimana semut gurun melepaskan dari kematian tak terhin-darkan ini? Karena mereka tidak mengukur suhu dengan termometer, kita dapat berkata bahwa mereka tercipta dengan mengetahui apa harus dilakukan pada suhu apa dan mengetahui hal-hal ini sejak pertama kali mereka meninggalkan sarang.

Ya, semut gurun telah diciptakan dan dilengkapi dengan kemam-puan khusus untuk hidup di gurun. Allah, yang telah menciptakan rahang tajam untuk semut pemotong daun, telah mengilhami semut gurun dengan pengetahuan cara melindungi diri.

Agustus 1, 2009 Posted by | semut | Tinggalkan komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.