<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>KEAJAIBAN SERANGGA</title>
	<atom:link href="http://seranggakita.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://seranggakita.wordpress.com</link>
	<description>mencari tahu tentang serangga</description>
	<lastBuildDate>Sat, 01 Aug 2009 08:07:54 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='seranggakita.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/57f363c3fc25c0aaec63fd8892398095?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>KEAJAIBAN SERANGGA</title>
		<link>http://seranggakita.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://seranggakita.wordpress.com/osd.xml" title="KEAJAIBAN SERANGGA" />
	<atom:link rel='hub' href='http://seranggakita.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>FENOMENA LARON</title>
		<link>http://seranggakita.wordpress.com/2009/08/01/fenomena-laron/</link>
		<comments>http://seranggakita.wordpress.com/2009/08/01/fenomena-laron/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Aug 2009 07:53:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>seranggakita</dc:creator>
				<category><![CDATA[rayap]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://seranggakita.wordpress.com/?p=78</guid>
		<description><![CDATA[Laron &#8230;.. adalah seekor hewan yang banyak dikenal orang, saya yakin anda tahu hewan laron ini. Laron atau dalam bahasa indonesia anai-anai adalah hewan yang cukup unik untuk diamati. Kebetulan saya terlintas tentang hewan ini. Coba anda renungkan &#8230;. laron &#8230; hidupnya untuk apa? Lintasan bayangan saya hidup laron adalah untuk kebaikan pihak lain atau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=seranggakita.wordpress.com&amp;blog=8822584&amp;post=78&amp;subd=seranggakita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family:arial;">Laron &#8230;.. adalah seekor hewan yang banyak dikenal orang, saya yakin anda tahu hewan laron ini. Laron atau dalam bahasa indonesia anai-anai adalah hewan yang cukup unik untuk diamati. Kebetulan saya terlintas tentang hewan ini. Coba anda renungkan &#8230;. laron &#8230; hidupnya untuk apa? Lintasan bayangan saya hidup laron adalah untuk kebaikan pihak lain atau makhluk lain. Marilah kita sedikit melihat kedalam. Laron atau anai-2 biasa hidup didalam tanah, kayu, dinding dsb, dengan membuat rumah disana. Dengan keajaiban liurnya anai-2 kecil/rayap bisa melapukan sebuah kayu bahkan kayu terkuat sekalipun, mereka memiliki seorang ratu yang sangat dihormati. Mereka terbiasa dengan kerjasama dan gotong royong dalam habitatnya untuk membangun sebuah peradaban yang sangat berguna bagi bangsanya. Setelah musimnya tiba, biasanya musim hujan para ratu (laron) tumbuh dan berkembang yang sangat dihormati kaumnya. Ia dilindungi dalam komunitasnya sehingga tumbuh dan berkembang dengan pesat. Setelah tiba saatnya, maka laron tersebut akan keluar dari sarangnya. Akan terbang kemana ia suka, ia akan terbang dan mencari lampu-2 terang dari tempat gelapnya. Tapi apa yang terjadi &#8230;? Laron ini akan diambil manusia untuk dimasak, laron akan dimakan oleh cicak, laron akan dimakan oleh ayam, laron akan dimakan oleh burung, laron akan dimakan oleh katak, dsb&#8230; bila tidak ada yang memakannya ia akan jatuh kehilangan bulu dan mati. Coba anda bayangkan kehidupan laron tersebut ? &#8230; Adakah hikmah disana ? &#8230;.. Semoga kita bisa memberikan kehidupan yang bermanfaat kepada orang/pihak lain, &#8230;. wallohu&#8217;alam bishowab. </span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/seranggakita.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/seranggakita.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/seranggakita.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/seranggakita.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/seranggakita.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/seranggakita.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/seranggakita.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/seranggakita.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/seranggakita.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/seranggakita.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/seranggakita.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/seranggakita.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/seranggakita.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/seranggakita.wordpress.com/78/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=seranggakita.wordpress.com&amp;blog=8822584&amp;post=78&amp;subd=seranggakita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://seranggakita.wordpress.com/2009/08/01/fenomena-laron/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/99e248df202ce5cf23eac26b4fb80b8c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">seranggakita</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BELALANG vs BELALANG ?</title>
		<link>http://seranggakita.wordpress.com/2009/08/01/belalang-vs-belalang/</link>
		<comments>http://seranggakita.wordpress.com/2009/08/01/belalang-vs-belalang/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Aug 2009 07:31:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>seranggakita</dc:creator>
				<category><![CDATA[belalang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://seranggakita.wordpress.com/?p=76</guid>
		<description><![CDATA[Pernah liat binatang ini? Apakah namanya? Mungkin sejak kecil kamu mengenal binatang itu sebagai Belalang. Begitukah?  Coba amati sekali lagi deh, Berjalan merayap pelan, menagkap magsanya dengan kedua lengan kuatnya, dan ah dia ternyata pemakan binatang juga. Memang belalang dan binatang ini, keduanya sama-sama termasuk dalam Kelas INSECTA, namun mereka berbeda ordo. Ada yang mengenalnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=seranggakita.wordpress.com&amp;blog=8822584&amp;post=76&amp;subd=seranggakita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://jalaindra.files.wordpress.com/2007/04/mantis-religiosa.jpg" target="_blank"><img title="mantis-religiosa" src="http://jalaindra.files.wordpress.com/2007/04/mantis-religiosa.jpg?w=200&#038;h=150" alt="mantis-religiosa" hspace="5" width="200" height="150" align="left" /></a> Pernah liat binatang ini? Apakah namanya? Mungkin sejak kecil kamu mengenal binatang itu sebagai Belalang. Begitukah?  Coba amati sekali lagi deh, Berjalan merayap pelan, menagkap magsanya dengan kedua lengan kuatnya, dan ah dia ternyata pemakan binatang juga.</p>
<p><img title="th_17824_HPIM1960_122_387lo" src="http://img219.imagevenue.com/loc387/th_17824_HPIM1960_122_387lo.jpg" alt="th_17824_HPIM1960_122_387lo" hspace="5" width="160" height="120" align="right" />Memang belalang dan binatang ini, keduanya sama-sama termasuk dalam Kelas INSECTA, namun mereka berbeda ordo.</p>
<p>Ada yang mengenalnya dengan nama Congcorang, atau walang sembah, atau Belalang Sentadu, dalam bahasa inggris kerap disebut ”praying mantis” yang artinya kira-kira nabi yang sedang berdoa (karena memang posisi binatang ini seperti sedang berdoa)</p>
<p><img title="th_17906_HPIM4591_122_421lo" src="http://img211.imagevenue.com/loc421/th_17906_HPIM4591_122_421lo.jpg" alt="th_17906_HPIM4591_122_421lo" hspace="5" width="160" height="120" align="left" />Belalang termasuk serangga herbivora alias pemakan tumbuh-tumbuhan,</p>
<p><a href="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/5/59/Sqeat2.JPG" target="_blank"><img title="Sqeat2" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/5/59/Sqeat2.JPG" alt="Sqeat2" hspace="5" width="180" height="180" align="right" /></a> Sementara itu binatang ini bernama congcorang, adalah pemakan serangga, sehingga dapat dimanfaatkan oleh para petani sebagai pembasmi hama tertentu (disebut sebagai pembasmi hama biologis)</p>
<p>Kalau congcorang dimanfaatkan sebagai pembasmi hama, justru belalang adalah hama serius bagi pertanian, karena termasuk hama yang memiliki daya jelajah yang luas dan daya merusak yang tinggi. Beberapa daerah di Indonesia pernah merasakan bahaya hama yang terkenal dengan nama belalang kembara.</p>
<p>Nah sudah tidak salah kaprah lagi kan? Mana yang congcorang dan mana yang belalang?***</p>
<p><em>(dari berbagai sumber)</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/seranggakita.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/seranggakita.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/seranggakita.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/seranggakita.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/seranggakita.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/seranggakita.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/seranggakita.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/seranggakita.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/seranggakita.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/seranggakita.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/seranggakita.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/seranggakita.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/seranggakita.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/seranggakita.wordpress.com/76/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=seranggakita.wordpress.com&amp;blog=8822584&amp;post=76&amp;subd=seranggakita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://seranggakita.wordpress.com/2009/08/01/belalang-vs-belalang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/99e248df202ce5cf23eac26b4fb80b8c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">seranggakita</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jalaindra.files.wordpress.com/2007/04/mantis-religiosa.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">mantis-religiosa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://img219.imagevenue.com/loc387/th_17824_HPIM1960_122_387lo.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">th_17824_HPIM1960_122_387lo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://img211.imagevenue.com/loc421/th_17906_HPIM4591_122_421lo.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">th_17906_HPIM4591_122_421lo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/5/59/Sqeat2.JPG" medium="image">
			<media:title type="html">Sqeat2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Racun Kumbang Bunuh 1.000 Spesies Asli</title>
		<link>http://seranggakita.wordpress.com/2009/08/01/racun-kumbang-bunuh-1-000-spesies-asli/</link>
		<comments>http://seranggakita.wordpress.com/2009/08/01/racun-kumbang-bunuh-1-000-spesies-asli/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Aug 2009 07:16:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>seranggakita</dc:creator>
				<category><![CDATA[kumbang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://seranggakita.wordpress.com/2009/08/01/racun-kumbang-bunuh-1-000-spesies-asli/</guid>
		<description><![CDATA[LONDON &#8211; Lebih dari 1.000 spesies asli berpotensi terkena serangan racun yang menyebar dari  kumbang harlequin. Hasil studi para peneliti ini mengungkapkan bahwa seekor kumbang harlequin berpotensi membahayakan serangga, parasit dan jamur yang hidup di sekitarnya. Sejak kemunculannya di Inggris Utara pada 2005, harlequin langsung membentuk koloni dan berkembang sangat pesat. Sekarang, habitat harlequin dapat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=seranggakita.wordpress.com&amp;blog=8822584&amp;post=75&amp;subd=seranggakita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>LONDON</strong> &#8211; Lebih dari 1.000 spesies asli berpotensi terkena serangan racun yang menyebar dari  kumbang harlequin.</p>
<p>Hasil studi para peneliti ini mengungkapkan bahwa seekor kumbang harlequin berpotensi membahayakan serangga, parasit dan jamur yang hidup di sekitarnya.</p>
<p>Sejak kemunculannya di Inggris Utara pada 2005, harlequin langsung membentuk koloni dan berkembang sangat pesat. Sekarang, habitat harlequin dapat ditemukan di penjuru daerah Inggris mulai dari Essex hingga Orkney. Demikian keterangan yang dikutip dari <em>Daily Mail</em>, Selasa (30/6/2009).</p>
<p>Dr Helen Roy, dari Centre for Ecology and Hydrology, mengatakan keberadaan serangga asli akan semakin tersisih dan menyusut seiring dengan kian gencarnya peningkatan jumlah harlequin.</p>
<p>&#8220;Kami percaya, jika tidak segera ditindaklanjuti, dampak negatif harlequin di Inggris akan semakin memburuk, bahkan berpotensi memusnahkan lebih dari 1.000 spesies asli,&#8221; kata Helen.</p>
<p>Tahun ini, diperkirakan ada sekira satu miliar harlequin mengancam keselamatan telur kumbang berlainan jenis, larva kupu-kupu dan telur hewan serangga lainnya.</p>
<p>Awalnya, kumbang harlequin berasal Asia dan dibawa ke AS 25 tahun lalu. Jenis serangga ini diperkenalkan ke Inggris sebagai pest controller ramah lingkungan.</p>
<p>Namun rupanya, perkembangan harlequin menjadi kian pesat dan tak terkendali. Serangga ini terutama mengeluarkan racun yang menginvasi makhluk hidup di sekitarnya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/seranggakita.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/seranggakita.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/seranggakita.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/seranggakita.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/seranggakita.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/seranggakita.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/seranggakita.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/seranggakita.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/seranggakita.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/seranggakita.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/seranggakita.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/seranggakita.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/seranggakita.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/seranggakita.wordpress.com/75/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=seranggakita.wordpress.com&amp;blog=8822584&amp;post=75&amp;subd=seranggakita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://seranggakita.wordpress.com/2009/08/01/racun-kumbang-bunuh-1-000-spesies-asli/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/99e248df202ce5cf23eac26b4fb80b8c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">seranggakita</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Belajar Terapi Pengobatan dari Belalang</title>
		<link>http://seranggakita.wordpress.com/2009/08/01/belajar-terapi-pengobatan-dari-belalang/</link>
		<comments>http://seranggakita.wordpress.com/2009/08/01/belajar-terapi-pengobatan-dari-belalang/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Aug 2009 07:07:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>seranggakita</dc:creator>
				<category><![CDATA[belalang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://seranggakita.wordpress.com/2009/08/01/belajar-terapi-pengobatan-dari-belalang/</guid>
		<description><![CDATA[Manusia dan serangga memiliki kemiripan dalam hal gangguan otak yang menyebabkan penyakit migren, stroke dan epilepsi. Oleh karenanya, ilmuwan memanfaatkan kemiripan ini dengan menganalisa belalang sebagai petunjuk untuk menemukan terapi pengobatan yang cocok untuk penyakit-penyakit tersebut. Ahli biologi dari Queen&#8217;s University menemukan bahwa gangguan kesehatan ini terkait erat dengan gangguan fungsi otak yang terjadi akibat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=seranggakita.wordpress.com&amp;blog=8822584&amp;post=72&amp;subd=seranggakita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://techno.okezone.com/images-data/content/2009/07/04/56/235619/rJ5GewxqZD.jpg" border="1" alt="" width="250" /></p>
<h5><strong>Manusia dan serangga memiliki kemiripan dalam hal gangguan otak yang menyebabkan penyakit migren, stroke dan epilepsi. Oleh karenanya, ilmuwan memanfaatkan kemiripan ini dengan menganalisa belalang sebagai petunjuk untuk menemukan terapi pengobatan yang cocok untuk penyakit-penyakit tersebut.</strong></h5>
<h5><strong>Ahli biologi dari Queen&#8217;s University menemukan bahwa gangguan kesehatan ini terkait erat dengan gangguan fungsi otak yang terjadi akibat penutupan sel syaraf. Demikian keterangan yang dikutip dari <em>Machine Like Us</em>, Sabtu (4/7/2009).</strong></p>
<p><strong>Rupanya, hal ini juga dirasakan oleh belalang ketika mereka mengalami koma setelah terpapar kondisi cuaca yang sangat ekstrim seperti suhu panas dan kekurangan oksigen.</strong></p>
<p><strong>Uniknya serangga memiliki kemampuan bertahan pada saat memasuki kondisi koma. Serta merta mereka langsung melakukan pemulihan secara mandiri. Cara ini bekerja seperti obat yang mengarah langsung pada salah satu target sel yang menyebabkan rasa sakit.</strong></p>
<p><strong>&#8220;Inilah yang tengah kami kembangkan. Kami meniru apa yang dilakukan belalang dan menerapkan metode ini untuk pengobatan migren, stroke dan epilepsi pada manusia,&#8221; kata salah satu ilmuwan dalam penelitian ini, Gary Armstrong.</strong></p>
<p><strong>&#8220;Yang membuat saya sangat takjub adalah, belalang memiliki kemampuan dalam menekan serangan rasa sakit dan meminimalisir dampak gangguan otak hingga 70 persen,&#8221; tambahnya.</strong></p>
<p><strong>Hasil studi ini memperlihatkan bahwa belalang mengalami koma sebagai upaya beristirahat sejenak dan mengumpulkan kembali energi di saat kondisi tubuhnya sedang gawat. Respon sel otak yang terjadi pada belalang ini serupa dengan yang terjadi pada manusia pada saat mengalami migren. (srn)</strong></h5>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/seranggakita.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/seranggakita.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/seranggakita.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/seranggakita.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/seranggakita.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/seranggakita.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/seranggakita.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/seranggakita.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/seranggakita.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/seranggakita.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/seranggakita.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/seranggakita.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/seranggakita.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/seranggakita.wordpress.com/72/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=seranggakita.wordpress.com&amp;blog=8822584&amp;post=72&amp;subd=seranggakita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://seranggakita.wordpress.com/2009/08/01/belajar-terapi-pengobatan-dari-belalang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/99e248df202ce5cf23eac26b4fb80b8c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">seranggakita</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://techno.okezone.com/images-data/content/2009/07/04/56/235619/rJ5GewxqZD.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Serangga Terpanjang di Dunia dari Kalimantan</title>
		<link>http://seranggakita.wordpress.com/2009/08/01/serangga-terpanjang-di-dunia-dari-kalimantan/</link>
		<comments>http://seranggakita.wordpress.com/2009/08/01/serangga-terpanjang-di-dunia-dari-kalimantan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Aug 2009 06:58:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>seranggakita</dc:creator>
				<category><![CDATA[serangga lain (1)]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://seranggakita.wordpress.com/?p=70</guid>
		<description><![CDATA[« Hide related posts Serangga Terpanjang di Dunia dari Kalimantan Serangga berbentuk batang dari Kalimantan ditetapkan sebagai serangga terpanjang di dunia oleh ilmuwan Inggris awal pekan ini. Spesimen tersebut ditemukan&#8230; Fakta Seputar Kecoak Kecoak mungkin kelihatan menjijikkan di dapur anda, sudah menjadi kesalahanpahaman umum bahwa kecoak adalah pembawa penyakit. Para ilmuwan menyatakan hanya 1&#8230; Saat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=seranggakita.wordpress.com&amp;blog=8822584&amp;post=70&amp;subd=seranggakita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a id="greet_search_link"><span style="display:none;">« Hide related posts</span></a></p>
<div id="greet_search_results" style="display:none;">
<ul>
<li><strong><a title="Permanent Link to:Serangga Terpanjang di Dunia dari Kalimantan" rel="bookmark" href="http://netsains.com/2008/10/serangga-terpanjang-di-dunia-dari-kalimantan/">Serangga Terpanjang di Dunia dari Kalimantan</a></strong><br />
Serangga berbentuk batang dari Kalimantan ditetapkan sebagai serangga terpanjang di dunia oleh ilmuwan Inggris awal pekan ini. Spesimen tersebut ditemukan&#8230;</li>
<li><strong><a title="Permanent Link to:Fakta Seputar Kecoak" rel="bookmark" href="http://netsains.com/2007/10/fakta-seputar-kecoak/">Fakta Seputar Kecoak</a></strong><br />
Kecoak mungkin kelihatan menjijikkan di dapur anda, sudah menjadi kesalahanpahaman umum bahwa kecoak adalah pembawa penyakit.  Para ilmuwan menyatakan hanya 1&#8230;</li>
<li><strong><a title="Permanent Link to:Saat Stres, Tanaman Melepaskan “Aspirin”" rel="bookmark" href="http://netsains.com/2008/09/saat-stres-tanaman-melepaskan-aspirin/">Saat Stres, Tanaman Melepaskan “Aspirin”</a></strong><br />
Kalau manusia stres butuh aspirin, tanaman justru kebalikannya. Dalam kondisi stres, tanaman justru menghasilkan zat kimia sejenis aspirin. Ilmuwan dari&#8230;</li>
<li><strong><a title="Permanent Link to:Diilhami Engkang-Engkang Ilmuwan Sempurnakan Teknologi Pesawat" rel="bookmark" href="http://netsains.com/2008/02/diilhami-engkang-engkang-ilmuwan-sempurnakan-teknologi-pesawat/">Diilhami Engkang-Engkang Ilmuwan Sempurnakan Teknologi Pesawat</a></strong><br />
Perilaku serangga kecil bisa mengilhami temuan canggih pesawat terbang bahkan antariksa. Bagaimana bisa? Itulah keajaiban sains. Sudah umum dipahami bahwa&#8230;</li>
<li><strong><a title="Permanent Link to:Ular Terkecil di Dunia, Tak Berbisa dan Memangsa Larva" rel="bookmark" href="http://netsains.com/2008/08/ular-terkecil-di-dunia-tak-berbisa-dan-memangsa-larva/">Ular Terkecil di Dunia, Tak Berbisa dan Memangsa Larva</a></strong><br />
Ular terkecil, itulah klaim ilmuwan Amerika pada spesies yang ditemukannya di bagian timur pulau Karibia, Barbados belum lama ini. Ular&#8230;</li>
</ul>
</div>
<div>
<p><a href="http://netsains.com/wp-content/uploads/2008/10/serangga.jpg"><img title="serangga" src="http://netsains.com/wp-content/uploads/2008/10/serangga.jpg" alt="" width="255" height="206" /></a>Serangga berbentuk batang dari Kalimantan ditetapkan sebagai serangga terpanjang di dunia oleh ilmuwan Inggris awal pekan ini. Spesimen tersebut ditemukan oleh warga setempat dan diteliti oleh naturalis amatir Malaysia, Datuk Chan Chew Lun tahun 1989. Menurut Philip Bragg yang secara resmi mengidentifikasi serangga ini di jurnal Zootaxa, spesies ini diberinama Phobaeticus chani, alias “Chan’s megastick”.<br />
<strong><br />
Pecahkan Rekor</strong></p>
<p>Paul Brock dari Natural History Museum in London mengatakan bahwa itu adalah jenis serangga terpanjang yang pernah ditemukan selama ini. Pernyataan ini dibenarkan juga oleh Marco Gottardo, pakar etimologi dari Natural History Museum of Ferrara, Italia, dan Aaron T. Dossey, ilmuwan asalUniversity of Florida .</p>
<p>Menyerupai pensil kurus dari bambu, serangga ini memiliki panjang sekitar 22 inchi jika diukur beserta kakinya. Panjang tubuhnya saja sekitar 14 inchi. Panjangnya rubuh serangga tersebut mengalahkan serangga panjang yang pernah dijumpa sebelumnya, Phobaeticus kirbyi, yanh hanya satu inchi.<br />
Serangga panjang ini memiliki kemampuan berkamuflase untuk membela diri. Ia juga mampu menyemprotkan cairan beracun untuk melawan predatornya.</p></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/seranggakita.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/seranggakita.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/seranggakita.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/seranggakita.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/seranggakita.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/seranggakita.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/seranggakita.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/seranggakita.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/seranggakita.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/seranggakita.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/seranggakita.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/seranggakita.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/seranggakita.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/seranggakita.wordpress.com/70/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=seranggakita.wordpress.com&amp;blog=8822584&amp;post=70&amp;subd=seranggakita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://seranggakita.wordpress.com/2009/08/01/serangga-terpanjang-di-dunia-dari-kalimantan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/99e248df202ce5cf23eac26b4fb80b8c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">seranggakita</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://netsains.com/wp-content/uploads/2008/10/serangga.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">serangga</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>CARA MAKAN DAN BERBURU ALA SEMUT</title>
		<link>http://seranggakita.wordpress.com/2009/08/01/cara-makan-dan-berburu-ala-semut/</link>
		<comments>http://seranggakita.wordpress.com/2009/08/01/cara-makan-dan-berburu-ala-semut/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Aug 2009 06:48:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>seranggakita</dc:creator>
				<category><![CDATA[semut]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://seranggakita.wordpress.com/?p=68</guid>
		<description><![CDATA[Setiap makhluk hidup menggunakan cara yang berbeda untuk memuaskan kebutuhan pangannya. Bab ini membahas taktik semut ketika mencari makanan, cara komunikasi mereka, dan persaingan dalam mendapatkan makanan. Semua taktik yang di-gunakan seekor serangga kecil dalam mendapatkan makanan ini me-nunjukkan kebesaran, keagungan, dan kekuasaan Allah Yang Maha Mengetahui, yang telah menciptakan makhluk ini. Bagaimana &#8220;keluarga&#8221; yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=seranggakita.wordpress.com&amp;blog=8822584&amp;post=68&amp;subd=seranggakita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setiap makhluk hidup menggunakan cara yang berbeda untuk          memuaskan kebutuhan pangannya. Bab ini membahas taktik semut ketika mencari          makanan, cara komunikasi mereka, dan persaingan dalam mendapatkan makanan.          Semua taktik yang di-gunakan seekor serangga kecil dalam mendapatkan makanan          ini me-nunjukkan kebesaran, keagungan, dan kekuasaan Allah Yang Maha Mengetahui,          yang telah menciptakan makhluk ini.</p>
<p><img src="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/68.jpg" alt="" width="190" height="110" align="left" />Bagaimana          &#8220;keluarga&#8221; yang beranggota ratusan ribu memperoleh makanan? Satu hal yang          paling penting bagi kelangsungan hidup koloni adalah kemampuannya memecahkan          masalah makanan. Setiap semut dalam koloni memiliki kewajibannya masing-masing.</p>
<p>Sebagaimana aspek kehidupan mereka yang lain, semut bekerja          secara sistematis dalam menyelesaikan masalah pangan. Semut pekerja tua          ditugaskan sebagai penjelajah yang menyurvei tanah di sekitar sarang untuk          mendapatkan sumber makanan bagi koloni yang populasi-nya mencapai ratusan          ribu (bahkan terkadang jutaan). Ketika para pen-jelajah menemukan sumber          makanan, mereka mengumpulkan teman-teman sesarang di sekitar makanan.          Jumlah semut yang berkumpul bergantung pada besar dan kualitas sumber          pangan ini. Semut menye-lesaikan masalah makanan dengan jaringan komunikasi          yang sangat kuat dan juga dengan kemurahan hati mereka; semut tidak pernah          berkata &#8220;Hanya aku&#8221;.</p>
<p align="left">Semut yang Saling Memberi Makan</p>
<p>Semut dari spesies yang berlainan berusaha tidak saling          bertemu selagi mencari makanan. Setiap spesies mencari jalan masing-masing          untuk mencapai sumber makanan. Jika semut tidak sengaja memasuki wilayah          kekuasaan koloni lain, perang pun terjadi. Dalam situasi seperti ini,          semut penjelajah segera kembali ke sarangnya dan menutup pintu masuknya,          sedangkan seluruh anggota koloni berkumpul dan bersama-sama melindungi          koloni dari bahaya.</p>
<p>Jadi, bagaimana semut makan selama pertempuran, padahal          mereka tidak sempat mencari makanan?</p>
<p>Pada saat ini, muncullah keistimewaan semut yang tidak ada          pada makhluk hidup lainnya. Selama mereka tidak dapat mencari makanan,          semua anggota koloni memakan cadangan makanan yang tersimpan da-lam tembolok          semut pekerja muda.</p>
<p><a name="84"></a>Sebenarnya, teknik pembagian makanan ini  dilakukan tidak hanya pada saat-saat tertentu, tetapi sepanjang hidup mereka.  Semut tidak hanya membawa butiran makanan di dalam tubuhnya, tetapi juga saling  memberi makan dari mulut ke mulut. Ketika semut pemburu pulang membawa makanan  cair, ia menggelengkan kepalanya ke kanan-kiri untuk menarik perhatian kawan-kawannya  atau langsung menghampiri mereka dan menunjukkan butiran makanan di mulutnya.<a href="http://www.harunyahya.com/indo/buku/semut09.htm#dipnot">84</a> Makanan cair dipompa dari tembolok sehingga pembagian makanan berlangsung cepat.  Pertukaran makanan ini merupakan contoh berbagi yang luar biasa. Sekam dan biji-bijian  yang dibawa ke sarang juga dimakan semua semut bersama-sama. Oleh karena itu,  kebutuhan makanan seluruh koloni dapat dipenuhi tanpa masalah.</p>
<p>Sistem ini menjadi bukti yang tidak dapat disanggah akan          keberada-an sosok &#8220;perancang yang agung&#8221;. Tidak mungkin sistem penyimpanan          yang begitu rumit dan membutuhkan pengorbanan besar ini dapat ter-bentuk          tanpa direncanakan. Selain itu, setiap semut yang lahir menge-tahui sistem          ini. Oleh karena itu, keharusan membagi makanan pastilah telah diketahui          semut sebelum ia menetas, bukan dipelajari sesudahnya. Semut tidak saja          diilhami dengan rasa rela berkorban, tapi juga di-anugerahi dengan struktur          tubuh yang sesuai, sehingga ia dapat membagi makanan yang sudah disimpannya          di dalam tembolok. Sebuah &#8220;kebetulan&#8221; tentunya tidak mungkin menjadi penyebab          fenomena ini, melihat tingginya pengorbanan diri yang ada. Sebagaimana          ditekankan berulang kali dalam buku ini, teori evolusi senantiasa menggambarkan          bahwa semua makhluk hidup bersaing dan berjuang mempertahankan hidupnya.          Oleh karenanya, teori ini sangat sulit menjelaskan contoh pengorbanan          yang dilakukan spesies semut. Semut hidup dalam sistem yang membuat mereka          saling berbagi makanan. Ini membuktikan bahwa tingkah laku mereka berbeda          dengan apa yang disodorkan teori evolusi. Semut tidak &#8220;bertempur&#8221; demi          keselamatan dirinya, tetapi menjalankan tugas yang diberikan kepadanya          (sebagaimana dikatakan dalam Al Quran, &#8220;diilhamkan kepada mereka&#8221;), sehingga          dapat mengubah koloninya yang beranggotakan ratusan ribu atau bahkan jutaan          semut menjadi masya-rakat sejati.</p>
<p>Dalam Al Quran surat An-Nahl, Allah menggambarkan Dia memberi          &#8220;wahyu&#8221; kepada hewan, sehingga hewan menjalankan kewajiban sesuai perintah-Nya:</p>
<blockquote>
<p align="justify"><span>&#8220;Dan Tuhanmu mewahyukan kepada            lebah: &#8220;Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan            di tempat-tempat yang dibikin manusia. Kemudian makanlah dari tiap-tiap            (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan            (bagimu).&#8221; Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam            warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia.            Sesung-guhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda            (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.&#8221; (QS. An-Nahl, 16:            68-69) !</span></p>
</blockquote>
<p>Tentu saja, tidak semua tugas hewan tertulis dalam Al Quran.          Lebah madu hanyalah salah satu contoh. Bila kita memperhatikan semut,          dapat kita lihat bahwa hewan kecil ini bertindak sesuai tugas yang diilhamkan          kepadanya seperti lebah madu, yang juga murah hati, sosial, dan setia.</p>
<p align="left">Membawa Makanan dengan Teknik yang Rasional</p>
<p>Semua spesies semut, yang jumlahnya mencapai kira-kira 8.800          spesies, mencari makanan dan membawanya pulang dengan cara yang berbeda-beda.          Dalam spesies-spesies tertentu, semut berburu sendirian dan membawa pulang          makanannya masing-masing. Spesies lain berburu berkelompok dan membawa          serta menjaga makanannya bersama-sama.</p>
<p><img src="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/69.jpg" alt="" width="225" height="132" align="left" />Kalau          mendapatkan makanan yang ukurannya cocok bagi tubuhnya, biasanya semut          membawanya sendirian. Kalau ukuran makanan terlalu besar atau kalau semut          menemukan beberapa gundukan kecil makanan di suatu daerah, mereka mengeluarkan          hormon beracun untuk mencegah semut lain agar tidak menghampiri daerahnya.          Kemudian, mereka memanggil para pekerja lain, besar maupun kecil, untuk          bersama-sama mengangkut makanan.</p>
<p>Dalam kehidupannya, semut juga mengenal pembagian tugas          yang sangat sempurna. Semut besar memotong-motong makanan dan menjaganya          dari hewan-hewan asing, sementara semut kecil membawa pulang makanan.          Semut pekerja mengangkat makanan dengan rahangnya dan membawa makanan          di depan selagi kembali ke sarang. Kalau bekerja berkelompok, semut dapat          membawa potongan makanan yang lebih besar. Mereka mengangkat makanan menggunakan          satu atau dua kaki. Pada saat yang sama mereka juga menggigit makanannya          dengan rahang terbuka. Semut pekerja menggunakan cara yang berbeda-beda          berdasarkan posisi dan arahnya. Semut yang di depan bergerak mundur sambil          menyeret makanan. Semut yang di belakang berjalan maju sambil mendorong          makanan. Semut yang di samping membantu mengangkat. Dengan cara ini, semut          dapat mengangkat makanan beberapa kali lebih berat dari yang bisa dibawa          seekor semut. Berdasarkan pengamatan, ditemukan bahwa jika semut bekerja          sama, mereka dapat mengangkat beban seberat 5.000 kali berat yang dapat          diangkat seekor semut pekerja. Seratus ekor semut dapat membawa seekor          cacing besar di atas tanah dan bergerak dengan kecepatan 0,4 cm per detik.</p>
<p align="left">Semut dan Jejak Bau</p>
<p>Teknik komunikasi dengan jejak (mengikuti jejak bau) sering          digunakan oleh semut. Banyak contoh yang menarik dalam hal ini:</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="3" width="155" align="right" bgcolor="#f0f0f0">
<tbody>
<tr>
<td height="260">
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="152" align="left">
<tbody>
<tr>
<td height="250">
<div><img src="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/70.jpg" alt="" width="150" height="150" /><br />
<span> Semut yang menemukan sumber makanan meninggalkan jejak  senyawa kimia di tanah melalui sengat pada bokongnya. Jejak yang dibuatnya membantu  teman-temannya menemukan sumber makanan.</span></div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Suatu spesies semut yang hidup di gurun pasir di Amerika          menge-luarkan bau khusus yang diproduksi di kantung racunnya jika ia menemukan          serangga mati yang terlalu besar atau berat untuk di-bawanya. Teman-temannya          sesarang dari jauh dapat mencium bau yang dikeluarkan dan mendekati sumbernya.          Ketika jumlah semut yang berkumpul di sekitar mangsa sudah cukup, mereka          membawa serangga tersebut ke sarang.</p>
<p><a name="85"></a>Ketika semut api berpisah untuk mencari  makanan, mereka meng-ikuti jejak bau selama beberapa lama, lalu akhirnya berpisah  dan mencari makanan masing-masing. Sikap semut api berubah jika sudah mene-mukan  makanan. Kalau menemukan makanan, semut api kembali ke sarang dengan berjalan  lebih lambat dan tubuhnya dekat dengan tanah. Ia menonjolkan sengatnya pada interval  tertentu dan ujung sengat menyentuh tanah seperti pensil menggambar garis tipis.  Demikianlah semut api meninggalkan jejak yang menuju ke makanan.<a href="http://www.harunyahya.com/indo/buku/semut09.htm#dipnot">85</a></p>
<p align="left">Semut yang Bertindak sebagai Kompas</p>
<p>Semut yang bertugas mencari makan biasanya menjalankan tugas          dengan cara yang sulit dijelaskan. Ia berangkat ke sumber makanan dengan          berjalan berkelok-kelok, tetapi kembali ke sarang dengan rute lurus yang          lebih singkat. Bagaimana mungkin seekor semut yang hanya dapat melihat          beberapa sentimeter ke depan bisa berjalan lurus?</p>
<p>Untuk menjawab pertanyaan ini, seorang peneliti bernama          Richard Feynman meletakkan sebongkah gula di salah satu ujung bak mandi,          lalu menunggu seekor semut datang dan menemukannya. Ketika semut yang          pertama kali datang ini kembali ke sarangnya, Feynman mengikuti jejaknya          yang berkelok. Kemudian Feyman mengikuti jejak semut-semut berikutnya.          Ternyata Feynman menemukan bahwa semut yang datang belakangan tidak mengikuti          jejak yang ditinggalkan; mereka lebih pintar, mengambil jalan memotong          sampai akhirnya jejaknya menjadi berbentuk garis lurus.</p>
<p><a name="86"></a>Diilhami hasil penelitian Feynman, seorang  ahli komputer bernama Alfred Bruckstein membuktikan secara matematis bahwa semut-semut  yang datang selanjutnya memang meluruskan jejak berkelok itu. Kesim-pulan yang  didapatnya sama: setelah beberapa ekor semut, panjang jejak dapat diminimalkan  menjadi jarak terpendek antara dua titik dengan kata lain, membentuk garis lurus.<a href="http://www.harunyahya.com/indo/buku/semut09.htm#dipnot">86</a></p>
<p>Apa yang diceritakan tadi tentu saja membutuhkan keahlian          jika dilakukan oleh manusia. Ia tentu harus menggunakan kompas, jam, maupun          perlengkapan yang lebih canggih lagi untuk menentukan suatu jarak. Orang          ini harus juga menguasai matematika. Berbeda dengan manusia, penunjuk          jalan semut adalah matahari, sedangkan kompasnya adalah cabang pohon dan          tanda alam lainnya. Semut mengingat bentuk tanda-tanda ini, sehingga dapat          menggunakannya untuk menemukan rute pulang terpendek, meskipun rute ini          benar-benar baru baginya.</p>
<p>Meskipun kedengarannya mudah, sebenarnya cara ini sulit          dijelas-kan! Bagaimana mungkin seekor makhluk kecil seperti semut, yang          tidak memiliki otak maupun kemampuan berpikir dan mempertimbangkan, melakukan          perhitungan seperti ini?</p>
<p>Bayangkan jika seorang manusia ditinggalkan di hutan yang  tidak dikenal. Walaupun orang ini mengetahui arah yang harus dituju, ia akan kesulitan  menemukan jalan yang tepat dan mungkin saja tersesat. Selain itu, ia juga harus  melihat keadaan sekitar dengan hati-hati dan mem-pertimbangkan jalan mana yang  terbaik. Namun, semut bertindak seolah-olah mengetahui benar cara menemukan jalan.  Pada malam hari, mereka dapat menemukan dan mengikuti jalan yang mereka tempuh  saat menemukan makanan pada pagi harinya, meskipun kondisinya berubah.</p>
<p align="left">Teknik Berburu yang Sempurna</p>
<p><a name="87"></a>Beberapa spesies semut menggunakan gigi  untuk memakan telur laba-laba, ulat, serangga, dan rayap. Banyak spesies semut  (misalnya Dacetine) yang khusus memakan serangga tanpa sayap. Serangga yang dimangsa  Dacetine ini hidup berkelompok di tanah dan di daun busuk. Ia juga memiliki tonjolan  berbentuk garpu di bawah tubuhnya. Ketika ia bergoyang dan berdiri tegak, organ  ini melontarkan tubuhnya ke udara dan bergerak maju bagaikan kangguru mini. Semut  Dacetine meng-gunakan rahangnya bagaikan perangkap hewan untuk menghadapi manuver  mangsanya. Ketika semut pencari makan mencium bau serangga dengan antenanya, ia  mengintai dengan rahang terbuka 180 derajat. Semut ini mengaitkan gigi kecilnya  pada rahangnya dengan cara menekankannya ke langit-langit mulut. Lalu, semut memeriksa  sekitar-nya dengan menggerakkan antenanya ke depan. Kemudian semut men-dekati  serangga perlahan-lahan. Ketika antenanya menyentuh mangsa-nya, si serangga kecil  terjangkau oleh gigi bawah semut. Ketika semut menurunkan langit-langit mulutnya,  rahangnya mendadak menutup dan mangsanya terjepit di antara giginya.<a href="http://www.harunyahya.com/indo/buku/semut09.htm#dipnot">87</a></p>
<p><img src="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/70a.jpg" alt="" width="169" height="190" align="left" />Semut          yang diceritakan ini tidak pernah meleset karena rahangnya memiliki refleks          tercepat di dunia.</p>
<p><a name="88"></a>Kecepatan kedipan mata kita sangat lambat  jika dibandingkan de-ngan kecepatan gigitan semut ini ketika menjebak mangsanya.  Kelopak mata kita membuka dan menutup dalam sepertiga detik; rahang semut Odontomachus  bawi bekerja 100 kali lebih cepat. Gigitan tercepat yang teramati memakan waktu  0,33 milidetik.<a href="http://www.harunyahya.com/indo/buku/semut09.htm#dipnot">88</a></p>
<p><img src="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/71b.jpg" alt="" width="190" height="125" align="right" /><a name="89"></a>Struktur  rahang semut penjebak panjangnya sekitar 1,8 milimeter. Pada bagian dalamnya terdapat  kantong udara yang menempel ke trakea. Sistem ini menyebabkan gigi dapat bergerak  cepat. Rahangnya berfungsi sebagai perangkap tikus mini. Ketika berburu, rahang  terbuka lebar dan siap menutup setiap saat. Kecepatan menggigitnya berkurang menjelang  akhir proses menggigit. Agar giginya tidak beradu terlalu keras, gerakan rahang  diperlambat dengan sistem otot khusus.<a href="http://www.harunyahya.com/indo/buku/semut09.htm#dipnot">89</a></p>
<p>Tidak mungkin mekanisme berburu yang begitu rumit terbentuk          melalui proses evolusi, tanpa proses perancangan terencana dan terjadi          secara acak.</p>
<p>Satu-satunya kebenaran yang dapat diterima adalah adanya  sebuah kekuatan yang menciptakan semut dengan semua karakter mereka yang menakjubkan  dan cara hidup mereka yang sempurna. Kekuatan ini adalah Allah yang Mahakuasa  atas segala yang ada di alam dan di jagat raya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/seranggakita.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/seranggakita.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/seranggakita.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/seranggakita.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/seranggakita.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/seranggakita.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/seranggakita.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/seranggakita.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/seranggakita.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/seranggakita.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/seranggakita.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/seranggakita.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/seranggakita.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/seranggakita.wordpress.com/68/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=seranggakita.wordpress.com&amp;blog=8822584&amp;post=68&amp;subd=seranggakita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://seranggakita.wordpress.com/2009/08/01/cara-makan-dan-berburu-ala-semut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/99e248df202ce5cf23eac26b4fb80b8c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">seranggakita</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/68.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/69.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/70.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/70a.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/71b.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>MELESTARIKAN RAS</title>
		<link>http://seranggakita.wordpress.com/2009/08/01/melestarikan-ras/</link>
		<comments>http://seranggakita.wordpress.com/2009/08/01/melestarikan-ras/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Aug 2009 06:46:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>seranggakita</dc:creator>
				<category><![CDATA[semut]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://seranggakita.wordpress.com/?p=66</guid>
		<description><![CDATA[Sebagian besar anggota koloni semut adalah semut betina. Semut jantan berusia lebih pendek. Satu-satunya tugas mereka ketika dewasa adalah mengawini ratu semut muda. Semut jantan mati tak lama setelah kawin. Semua semut pekerja adalah betina. Pendek kata, semua komunitas semut sebenarnya terdiri atas ibu dan putrinya. Semut memiliki kehidupan sosial yang harmonis meskipun jumlah mereka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=seranggakita.wordpress.com&amp;blog=8822584&amp;post=66&amp;subd=seranggakita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagian besar anggota koloni semut adalah semut betina.          Semut jantan berusia lebih pendek. Satu-satunya tugas mereka ketika dewasa          adalah mengawini ratu semut muda. Semut jantan mati tak lama setelah kawin.          Semua semut pekerja adalah betina. Pendek kata, semua komunitas semut          sebenarnya terdiri atas ibu dan putrinya.</p>
<p>Semut memiliki kehidupan sosial yang harmonis meskipun jumlah          mereka besar. Dalam koloni semut, kita dapat menyaksikan setiap tahap          dalam kehidupan masyarakatnya. Tujuan hidup semut, yang terikat pada koloninya          dengan pengorbanan yang besar, tidaklah bersifat individual. Mereka semua,          bersama-sama, ibarat tubuh yang satu, dan tujuan mereka adalah melestarikan          hidup tubuh itu. Mereka tidak ber-pikir dua kali untuk mengorbankan nyawa,          jika itu dapat melangsung-kan hidup koloninya. Contoh terbaik hal ini          adalah kejadian yang me-nimpa semut jantan setelah perkawinan.</p>
<p align="left">Mati demi Kelangsungan Hidup Rasnya</p>
<p><a name="78"></a>Perkawinan semut berlangsung bagaikan sebuah  upacara. Perka-winan semut kebanyakan terjadi di udara. Para pejantan datang lebih  dahulu dan menunggu kedatangan sang ratu muda. Ketika seekor betina hinggap di  tanah (si betina juga memiliki sayap sebelum kawin), 5-6 pejantan mulai berlari  mengelilingi sang ratu. Ketika si betina telah mendapatkan cukup sperma, ia mengirimkan  sinyal berbentuk getar-an. Pejantan memahami sinyal ini sebagai tanda bahwa si  betina siap untuk melepaskan diri. Tak lama setelah perkawinan, semut pejantan  mati.<a href="http://www.harunyahya.com/indo/buku/semut08.htm#dipnot">78</a></p>
<p>Pengorbanan seperti ini sangat sulit untuk dijelaskan. Demi          kelang-sungan rasnya, semut jantan rela mengikuti upacara perkawinan yang          berakhir dengan kematiannya. Hal ini merupakan suatu sikap yang sulit          dijelaskan dengan teori evolusi. Berdasarkan logika evolusi, setiap makhluk          hidup hanya memikirkan kelangsungan hidupnya. Namun, perkawinan semut          jantan dengan semut betina telah terjadi selama jutaan tahun, meskipun          si pejantan mengetahui bahwa pada akhirnya ia akan mati.</p>
<p>Satu-satunya teori yang dapat menjelaskan fenomena ini adalah          bahwa semut jantan bertindak sesuai inspirasi Sang Pencipta. Jika bukan          karena inspirasi ini, tidak mungkin seekor makhluk, yang katanya telah          melalui tahap seleksi alam, akan mempertahankan sifat pengorbanan ini          selama jutaan tahun. Berdasarkan prinsip-prinsip dasar teori evolusi,          semut jantan seharusnya mencoba melepaskan diri dari &#8220;upacara kematian&#8221;          ini dengan berbagai cara, meskipun berarti spesies semut akan musnah.          Akan tetapi, kenyataannya ribuan spesies semut masih tetap ada di muka          bumi ini dengan koloni beranggotakan ratusan ribu ekor. Tidak seekor pun          semut jantan melarikan diri dari ritual yang akan mengakhiri hidupnya.</p>
<p align="left">Setelah Perkawinan</p>
<p>Setelah kawin, si betina mencari sarang yang sesuai. Setelah          mene-mukannya, ia masuk dan segera melepaskan sayapnya. Kemudian, ia menutup          pintu masuk dan tinggal di sana sendirian tanpa makanan selama beberapa          minggu. Lalu, ia bertelur. Selama masa ini, ia memakan sayapnya. Ia memberi          makan larva yang baru menetas dengan air liurnya sendiri. Usaha yang memakan          waktu dan tenaga ini adalah salah satu contoh pengorbanan lain. Selama          sisa hidupnya, sang ratu diberi makan oleh koloninya.</p>
<p>Karena keterbatasan makanan, keturunan pertama sang ratu          bertubuh kecil. Merekalah semut pekerja pertama yang merawat keturunan          selanjutnya, dan terus berkorban dengan cara yang sama. Generasi semut          baru yang dirawat dengan baik ini kemudian tumbuh lebih besar, karena          mendapatkan gizi yang lebih baik.</p>
<p align="left">Pendiri Bank Sperma yang Pertama</p>
<p>Sebagaimana disebutkan sebelum-nya, semut jantan tidak berumur          panjang. Usia mereka berkisar antara beberapa jam sampai beberapa hari          setelah perkawinan. Meskipun demikian, pejantan yang sudah kawin ini meninggalkan          sperma yang membentuk keturu-nannya, yang lahir bertahun-tahun setelah          ia mati. Bagaimana sperma ini disimpan sehingga tetap hidup dan dapat          membuahi telur untuk menghasilkan semut baru? Mungkinkah semut telah mengembangkan          teknologi supercanggih dan membangun bank sperma?</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="3" width="145" align="right" bgcolor="#f0f0f0">
<tbody>
<tr>
<td width="180" height="332">
<p align="center"><img src="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/65u.jpg" alt="" width="143" height="200" /><br />
<span>Setelah upacara perkawinan, ratu mencari tempat yang cocok  untuk mendirikan koloninya. Ketika menemukan tempat yang diinginkannya, sang ratu  melepaskan sayapnya dan mulai membentuk koloninya dengan bereproduksi.</span></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><a name="79"></a>Setiap ratu semut memiliki bank sperma dalam  tubuhnya. Setelah menerima ejakulasi dari pejantan, sang ratu menyimpan sperma  dalam kantung oval di dekat ujung perutnya. Dalam organ spermatheca ini, setiap  sperma dinonaktifkan secara fisiologis dan disimpan dalam keadaan ini selama bertahun-tahun.  Ketika kelak sang ratu mengeluarkan sperma ini ke saluran reproduksinya, baik  satu-satu maupun dalam kelompok kecil, sperma diaktifkan kembali dan siap membuahi  telur yang masuk ke saluran dari indung telur.<a href="http://www.harunyahya.com/indo/buku/semut08.htm#dipnot">79</a> Ini berarti  bank sperma yang kita kenal 25 tahun ini melalui teknologi tinggi, telah digunakan  oleh semut sejak jaman prasejarah.</p>
<p>Mekanisme bank sperma yang baru terpikir oleh manusia sekitar          50 tahun yang lalu, telah digunakan oleh semut selama jutaan tahun. Karena          semut tidak mungkin melakukan prosedur yang digunakan manusia, seperti          mendirikan laboratorium dan memasukkan mekanisme ini ke dalam tubuhnya,          mereka pasti telah memiliki mekanisme seperti ini sejak awal. Jika kita          menduga bahwa mekanisme ini tidak mereka miliki sejak awal, pertanyaan-pertanyaan          di bawah ini akan muncul.</p>
<p>Ketika semut muncul di dunia untuk pertama kalinya, apakah          pejantannya juga mati saat upacara perkawinan? Jika tidak, mengapa sekarang          mereka mati? Apakah kematian dalam upacara perkawinan ini sejalan dengan          teori yang menyatakan bahwa di alam ini yang cocoklah yang akan menang?</p>
<p>Karena semut jantan mati tak lama setelah upacara perkawinan,          bukankah seharusnya semut sudah lama punah andai saja tidak ada tempat          penyimpanan sperma yang dibutuhkan bagi kelangsungan hidup spesies ini?</p>
<p>Jika bank sperma semut sudah ada sejak semut ada pertama          kalinya, siapakah yang memperlengkapi tubuh mereka dengan mekanisme ini?</p>
<p>Ini hanyalah beberapa contoh pertanyaan yang harus dijawab          oleh mereka yang tidak percaya akan keagungan penciptaan oleh Sang Pencipta.          Ribuan pertanyaan lain mengenai kelangsungan hidup spesies semut dapat          saja muncul, yang masing-masing mengarah ke masalah penciptaan berencana          yang tidak dapat dijawab oleh para evolusionis.</p>
<p align="left">Pengorbanan Para Pekerja</p>
<p>Telur dari sang ratu dan semut muda yang belum dewasa ini          hidup di ruang pemeliharaan dalam sarang semut. Jika suhu dan kelembapan          udara membahayakan bagi semut muda, para pekerja membawa telur dan semut          muda ke lingkungan yang lebih sesuai. Pada siang hari, mereka menyimpan          telur dekat ke permukaan agar hangat, lalu membawa telur kembali ke ruangan          yang lebih dalam pada malam hari atau ketika hujan.</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="3" width="192" align="left">
<tbody>
<tr>
<td height="226">
<div><img src="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/66.jpg" alt="" width="190" height="125" /><br />
<span>Atas: Sekelompok semut pekerja hanya bertugas memelihara  telur dan larva. Para pekerja ini sangat murah hati mengenai waktu. Mereka mengabdikan  seluruh hidupnya bagi kelangsungan spesies mereka.</span></div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Ini berarti para pekerja berusaha melindungi telur dan semut          muda dengan cermat dan berusaha agar mereka tetap nyaman. Jika hari sedang          panas, sebagian semut pekerja membawa larva berkeliling sarang untuk mendinginkannya.          Sebagian menutupi dinding sarang dengan kulit kepompong buangan untuk          mencegah kelembapan. Sebagian lagi mencari makanan. Setiap tindakan ini          menunjukkan bahwa semut ini baik hati. Seekor membawa larva berkeliling          sarang untuk men-dinginkannya, sementara seekor menyekat dinding sarang          dengan kulit kepompong teknik sekat yang modern untuk mengatur suhu. Namun,          jangan lupa bahwa semut yang bersikap sangat penyayang ini tidak memiliki          kemampuan berpikir. Bagaimanapun majunya teknologi mereka, ilmu pengetahuan          tidak akan dapat menemukan penyebab pengorbanan yang ditunjukkan serangga          kecil ini. Selain itu, pengor-banan ini sangat bertolak belakang dengan          prinsip-prinsip dasar teori evolusi.</p>
<p>Contoh-contoh ini menunjukkan betapa makhluk hidup juga          bertin-dak menurut kehendak Allah dan mereka pun mematuhi-Nya. Rahasia          ini dijelaskan dalam Al Quran sebagai berikut:</p>
<blockquote>
<p align="justify"><span>&#8220;Dan kepada Allah sajalah bersujud            segala apa yang berada di la-ngit dan semua yang makhluk yang melata            di bumi dan (juga) para malaikat, sedang mereka (malaikat)tidak menyombongkan            diri. Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan me-laksanakan            apa yang diperintahkan (kepada mereka).&#8221; (QS. An- Nahl, 16: 49-50) !</span></p>
</blockquote>
<p align="left">Harta Karun Semut</p>
<p>Semua kegiatan koloni semut berkisar seputar ratu dan telurnya.          Ratu semut yang bertugas bereproduksi ini sangat dijunjung tinggi oleh          rakyatnya. Semua keperluan sang ratu dipenuhi para pekerjanya. Hal terpenting          yang dilakukan semut pekerja adalah melayani sang ratu dan memastikan          bahwa sang ratu dan bayinya selamat.</p>
<p><a name="80"></a>Telur semut sebagai harta karun yang paling  berharga bagi koloni. Ketika semut merasakan bahaya mengancam larva, yang pertama  ia lakukan adalah memindahkannya ke tempat aman. Akan tetapi, karena bayi semut  mati jika berada di udara kering di luar sarang selama beberapa jam, para pekerja  berusaha menjaga kelembapan udara tempat larva berada. Ada berbagai teknik yang  mereka gunakan untuk hal ini. Pertama, mereka membangun sarang sedemikian rupa  untuk menjaga kelembapan udara dan tanah. Selain itu, semut yang menjadi perawat  bayi memindahkan semut muda naik-turun di dalam sarang untuk mencari tempat yang  paling sesuai. Kebutuhan bayi semut berubah-ubah sesuai usia. Misalnya, telur  dan larva membutuhkan lingkungan yang lembap, sedangkan kepompong semut harus  diletakkan di lingkungan yang benar-benar kering. Para pekerja tetap melaksanakan  tugasnya selama 24 jam tanpa henti untuk menyelesaikan kewajibannya.<a href="http://www.harunyahya.com/indo/buku/semut08.htm#dipnot">80</a></p>
<p>Semut pekerja tidak bertelur, melainkan mengabdikan dirinya          meng-urus telur-telur ratunya. Mereka menghadapi risiko kerja yang tinggi,          karena medium lembap yang dibutuhkan telur dan larva ideal bagi per-tumbuhan          bakteri dan jamur yang berbahaya bagi kesehatan semut.</p>
<p><a name="81"></a>Bagaimana para pekerja melindungi dirinya  di lingkungan yang tidak sehat ini? Selain menciptakan semut dengan tubuh yang  sempurna, Allah menganugerahi mereka teknik pertahanan diri. Kelenjar metapleural  di rongga dada semut dewasa terus-menerus menghasilkan senyawa-senyawa yang dapat  membunuh bakteri dan jamur. Oleh karena itu, koloni semut jarang sekali terserang  infeksi bakteri dan jamur.<a href="http://www.harunyahya.com/indo/buku/semut08.htm#dipnot">81</a></p>
<p align="left">Dapatkah Darwinisme Menjelaskan Pengorbanan          Semut?</p>
<p><a name="82"></a>Charles Darwin, penggagas teori evolusi,  menyatakan bahwa tujuan mendasar dari proses evolusi adalah bertahan hidup. Menurut  pan-dangan Darwin, ketika seekor hewan memiliki sifat yang meningkatkan kemampuannya  untuk bertahan hidup, hewan ini memiliki kelebihan. Karena kelebihan ini, mereka  selamat dan menghasilkan lebih banyak keturunan, sehingga akhirnya sifat ini tersebar  ke seluruh anggota spesiesnya. Oleh karena itu, evolusi akan meningkatkan pertahanan  diri, bukan pengorbanan diri.<a href="http://www.harunyahya.com/indo/buku/semut08.htm#dipnot">82</a></p>
<p>Meskipun demikian, teori Darwin mengenai seleksi alam diruntuh-kan          dengan ditemukannya berbagai contoh pengorbanan diri yang ditunjukkan          semut. Sulit sekali bagi para pendukung teori evolusi untuk menemukan          jawaban kejadian ini. Bahkan, banyak dari fenomena ini yang sudah ditemukan          sejak Darwin masih hidup. Darwin sendiri menulis dalam bukunya, <em>The          Origin of Species</em>.</p>
<p><a name="83"></a>Banyak sekali naluri hewan yang begitu  menakjubkan, sehingga proses pembentukannya mungkin dapat digunakan oleh para  pembaca sebagai sebuah alasan untuk menolak teori saya. Pada kesempatan ini, saya  ingin menyampaikan bahwa saya tidak ada hubungannya dengan asal mula kekuatan  pikiran, seperti halnya saya tidak ada hubungannya dengan kehidupan ini sendiri.<a href="http://www.harunyahya.com/indo/buku/semut08.htm#dipnot">83</a></p>
<p>Setelah adanya pengakuan yang begitu terbuka, hipotesis          yang di-kemukakan Darwin untuk menyelamatkan teorinya semakin mendapat-kan          tantangan. Berdasarkan penjelasan Darwin terhadap situasi yang membingungkan          ini, seleksi alam tidak terjadi pada level individu, melainkan pada level          kelompok, dalam kelompok di dalam kelompok.</p>
<p>Meskipun demikian, ini tidak lebih dari pendapat yang tidak          dapat dibuktikan kebenarannya, karena pendapat ini hanya berupa perkiraan          yang dikemukakan untuk menyelamatkan teorinya dan tidak didasar-kan pada          penemuan nyata maupun pengamatan. Para pendukung evo-lusi yang muncul          setelah Darwin tidak dapat menjelaskan sifat pengor-banan yang ada pada          hewan.</p>
<p>Sulit kita menjelaskan pengorbanan dan kedermawanan yang          di-lakukan semut, rayap, lebah, dan serangga sosial lainnya sebagaimana          dicontohkan sebelum ini, dengan menggunakan teori evolusi. Hanya ada satu          penjelasan mengapa seekor hewan merelakan keamanan dan kenyamanannya demi          keamanan dan kenyamanan anggota koloninya: strata sosial dalam koloni          telah ditentukan oleh perancang yang menyadari apa yang dilakukannya dan          perancang ini telah memberikan tugas yang berbeda pada setiap anggota          kelompok. Anggota kelompok mematuhi pembagian tugas ini dan, jika perlu,          mengorbankan dirinya. Yang terpenting bagi hewan-hewan ini adalah kelangsungan          hidup kelompoknya, dan pengorbanan yang dibutuhkan untuk itu tidak di-lakukan          karena kemauan serangga yang tidak memiliki kesadaran dan pertimbangan,          melainkan karena kemauan pengaturnya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/seranggakita.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/seranggakita.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/seranggakita.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/seranggakita.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/seranggakita.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/seranggakita.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/seranggakita.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/seranggakita.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/seranggakita.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/seranggakita.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/seranggakita.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/seranggakita.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/seranggakita.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/seranggakita.wordpress.com/66/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=seranggakita.wordpress.com&amp;blog=8822584&amp;post=66&amp;subd=seranggakita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://seranggakita.wordpress.com/2009/08/01/melestarikan-ras/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/99e248df202ce5cf23eac26b4fb80b8c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">seranggakita</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/65u.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/66.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>TAKTIK PERANG DAN BERTAHAN</title>
		<link>http://seranggakita.wordpress.com/2009/08/01/taktik-perang-dan-bertahan/</link>
		<comments>http://seranggakita.wordpress.com/2009/08/01/taktik-perang-dan-bertahan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Aug 2009 06:44:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>seranggakita</dc:creator>
				<category><![CDATA[semut]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://seranggakita.wordpress.com/?p=64</guid>
		<description><![CDATA[Dalam bab-bab sebelumnya telah kita lihat bahwa struktur sosial semut sangatlah maju. Makhluk yang pekerja keras, produktif, dan rela berkorban ini memiliki sebuah keistimewaan lain. Mereka mampu bertahan terhadap musuh dan menggunakan teknik yang sangat menarik ketika berjuang demi keselamatan koloninya. Ukuran semut yang kecil pada mulanya memberikan kesan bahwa mereka tidak mempunyai sistem pertahanan. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=seranggakita.wordpress.com&amp;blog=8822584&amp;post=64&amp;subd=seranggakita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam bab-bab sebelumnya telah kita lihat bahwa struktur          sosial semut sangatlah maju. Makhluk yang pekerja keras, produktif, dan          rela berkorban ini memiliki sebuah keistimewaan lain. Mereka mampu bertahan          terhadap musuh dan menggunakan teknik yang sangat menarik ketika berjuang          demi keselamatan koloninya.</p>
<p><img src="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/56a.jpg" alt="" width="225" height="106" align="left" />Ukuran          semut yang kecil pada mulanya memberikan kesan bahwa mereka tidak mempunyai          sistem pertahanan. Sulit dibayangkan bahwa makhluk-makhluk ini, yang biasanya          mati hanya dengan diinjak, dapat menjalankan tugas-tugas yang kelihatannya          jauh di luar kemampuan mereka. Meskipun demikian, tanpa meninggalkan susunan          ekologi yang telah diciptakan-Nya di muka bumi ini, Allah memberi semut-semut          ini tempat tinggal dan menganugerahi mereka dengan sistem pertahanan yang          dibutuhkan.</p>
<p>Dengan ilham dari Allah, semut menggunakan taktik dan strategi          yang hebat untuk mempertahankan koloninya dan melindungi dirinya dari          musuh yang mereka temui selagi mencari makan. Selain mengem-bangkan strategi          berburu, mereka juga berusaha agar tidak dimangsa hewan lain. Salah satu          pertempuran seperti ini terjadi antara dua koloni semut.</p>
<p align="left">Peperangan Antarkoloni</p>
<p><img src="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/56d.jpg" alt="" width="210" height="119" align="right" />Salah          satu penyebab terpenting terjadinya perang antar-koloni adalah sulitnya          berbagi sumber makanan. Dalam perang semacam ini, spesies semut yang pertama          kali menemukan makanan biasanya menang. Hal ini karena koloni semut yang          menemukan makanan tersebut mengelilingi makanannya, sehingga koloni lain          tidak bisa mencapai makanan itu. Mereka juga meninggalkan bau di sekitarnya,          sehingga anggota koloni lain tidak dapat menemukan makanan itu melalui          penciuman.</p>
<p>Sementara beberapa semut pekerja yang paling dahulu sampai          di sumber makanan melaksanakan operasi blokade, beberapa anggota koloni          tidak langsung ikut berperang. Mereka kembali ke sarang sambil meninggalkan          jejak bau sepanjang perjalanan. Ketika mereka tiba di sarang, mereka memberi          tahu anggota sarang lainnya, dengan cara menggerakkan tubuh maju-mundur          dan menyentuh antena semut lainnya dengan antenanya sendiri. Dengan taktik          cerdik ini, mereka mengumpulkan pasukan tambahan untuk membantu para penjaga.</p>
<p><img src="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/56c.jpg" alt="" width="225" height="143" align="left" />Selain          blokade biasa yang dilaksanakan pada siang hari, semut men-jadi sangat          agresif pada masa paceklik sampai-sampai saling membunuh. Sebuah koloni          semut dapat memusnahkan koloni lain dalam waktu 10-14 hari.</p>
<p>Penyebab perang lain adalah ketika suatu koloni memasuki          wilayah kekuasaan koloni lain. Semut menandai koloni mereka dengan feromon.          Ketika koloni lain memasuki daerah itu, mereka mengenali feromon yang          dikeluarkan koloni sebelumnya, sehingga biasanya tidak menetap di daerah          itu. Akan tetapi, jika koloni yang baru datang ini memutuskan untuk tetap          tinggal, peperangan tidak dapat dihindari.</p>
<p>Dalam situasi seperti ini, semut rangrang berlari ke daun          terdekat dan meninggalkan cairan sekresi tertentu. Ketika bertemu teman          sesarang, ia memberitahukan soal perang yang terjadi dengan gerakan-gerakan          terten-tu. Teman-temannya menanggapi panggilan ini dan bergerak menuju          zona peperangan mengikuti para pekerja. Dalam jangka waktu setengah jam,          lebih dari seratus semut telah mencapai arena pertempuran.</p>
<p>Singkatnya, semut menjalani hidup yang canggih, dengan batas-batas          alaminya, sistem keamanan dan informasi dalam melawan bahaya, serta pasukan          yang cukup tangguh untuk menjaga seluruh koloni. Untuk membangun sistem          seperti ini dam mendidik anggota koloni untuk menaatinya, dibutuhkan suatu          kekuasaan yang didasari kecerdasan ber-pikir, kesadaran, dan pendidikan.          Tapi tidak terlihat adanya pembuat rencana dan sistem pendidikan dalam          koloni semut. Sistem ini dirancang oleh sebuah kekuatan yang tak terlihat          dan dianugerahkan kepada semua semut sejak mereka pertama kali ada di          muka bumi ini. Dengan kata lain, Allah yang menciptakan semut telah memilih          sistem per-tahanan yang rumit bagi mereka dan mengilhami mereka program          yang mereka perlukan untuk menjalankan sistem ini.</p>
<p>Sekarang mari kita lihat sistem ini secara terperinci.</p>
<p align="left">Taktik Pertahanan</p>
<p><a name="72"></a>Dalam perang antarkoloni terdapat sejumlah  taktik yang digunakan semut. Mereka berjalan sambil meluruskan kaki seperti egrang,  meng-angkat kepala dan perut, serta terkadang sedikit menggembungkan perut. Tujuannya  adalah membuat dirinya terlihat lebih besar daripada sesungguhnya.<a href="http://www.harunyahya.com/indo/buku/semut07.htm#dipnot">72</a></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="3" width="492" align="center" bgcolor="#f0f0f0">
<tbody>
<tr>
<td>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="3" width="490" align="center" bgcolor="#f0f0f0">
<tbody>
<tr>
<td width="200" height="16"><img src="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/57.jpg" alt="" width="200" height="136" /></td>
<td width="88" height="16">Pada gambar atas dan bawah tampak semut-semut                      yang kelihatan lebih tinggi dan lebih besar daripada ukuran                      sebenarnya.</td>
<td width="200" height="16"><img src="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/58.jpg" alt="" width="200" height="140" /></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Taktik pertahanan lain yang mereka gunakan adalah &#8220;menjinakkan          musuh&#8221;. Semut jenis S. invoila mengeluarkan racun selagi bertempur, dengan          cara menggerakkan perut dan membuka rahang bawahnya perlahan-lahan. Musuhnya,          yang mencoba melindungi diri dari racun ini, membuka rahangnya dan meneteskan          air gula ke rahang semut beracun yang terbuka. Hal ini dilakukan karena          serangan semut racun menurun kalau sudah mendapatkan makanan. Pendek kata,          tujuannya adalah mengalihkan perhatian semut dan menjinakkannya.</p>
<p>Taktik ini tentu tidak terbatas pada yang disebut di sini.          Semut dapat menggunakan lebih banyak lagi teknik-teknik canggih di ajang          pepe-rangan, dengan memanfaatkan sifat-sifat fisik mereka dan kecerdasan          yang diberikan kepada mereka.</p>
<p align="left">Semut Penghasil Asam</p>
<p>Salah satu teknik terpenting semut untuk membela diri adalah          produksi racun atau asam format dalam kantung racun di tubuh mereka. Penggunaan          racun ini ampuh untuk melawan musuh. Racun mereka bahkan dapat menyakiti          manusia. Ketika menyengat, mereka menyebab-kan alergi pada sebagian orang.          Asam format juga manjur untuk meng-usir musuh.</p>
<p>Kalau kita menerima teori evolusi, kita juga harus mengakui          bahwa pada awalnya semut primitif tidak memiliki sistem racun dalam tubuh-nya.          Entah bagaimana, sistem racun ini terbentuk belakangan melalui proses          evolusi. Akan tetapi, hipotesis ini bertentangan dengan logika ka-rena          sistem racun hanya dapat bekerja bila racun dan organ penyimpan-nya telah          terbentuk. Organ ini harus memiliki struktur bersekat untuk mencegah perembesan          racun ke bagian tubuh lainnya. Selain itu, harus ada saluran bersekat          yang menghubungkan kantung racun dengan mu-lut. Selain ini semua, harus          ada juga sistem otot dan susunan mekanis agar racun dapat disemburkan          ke arah musuh (Sebenarnya, sebuah kelenjar lagi juga dibutuhkan untuk          &#8220;melumasi&#8221; daerah perputaran perut, yang menyemburkan racun).</p>
<p>Organ-organ ini tidak mungkin berkembang secara bertahap          melalui proses evolusi. Seandainya satu saja organ ini tidak ada, sistem          ini tidak akan berfungsi sehingga semut akan mati. Maka, hanya ada satu          kemungkinan: &#8220;sistem pertahanan kimiawi&#8221; ini pasti telah ada sejak awal.          Ini membuktikan bahwa terjadi perencanaan yang dilakukan secara sadar          yang juga dikenal dengan nama &#8220;Penciptaan&#8221;.</p>
<p>Ada pertanyaan lain yang tidak ditemukan jawabannya oleh          para evolusionis. Selain bisa menggunakan racun ini tanpa membahayakan          dirinya, bagaimana semut mengetahui cara memproduksi racun dalam tubuhnya          (dalam kantung racun)? Jawabannya sangat jelas dan mudah: Sebagaimana          makhluk hidup lainnya di alam semesta ini, semut dengan sistemnya yang          sempurna telah diciptakan sekaligus, tidak berubah secara bertahap sebagaimana          menurut teori evolusi. Sang Maha Pencipta telah menciptakan pusat pembuatan          racun dalam tubuh mereka dan Dia pula yang telah mengilhami mereka tentang          cara menggunakannya dengan benar. Dialah Allah, Sang Pencipta alam semesta.</p>
<p align="left">
<p align="left">Semut yang Dapat Berhitung</p>
<p>Bagaimana mungkin seekor serangga sederhana dapat mengukur          kekuatan lawan? Menariknya, semut dapat melakukannya dengan kemampuan          matematisnya.</p>
<p><a name="73"></a>Ada beberapa cara yang digunakan semut  pekerja untuk mengukur kekuatan lawannya secara tidak langsung. Salah satunya  adalah &#8220;meng-hitung kepala&#8221; ketika berpindah dari satu penyerang ke penyerang  berikutnya. Jika teman sesarangnya menang jumlah &#8211; misalnya tiga lawan satu &#8211;  mereka menyadari ketidakseimbangan ini dan semakin cenderung melawan. Jika kondisi  sebaliknya terjadi, mereka akan mundur. Metode kedua adalah &#8220;menyensus&#8221; musuh.  Jika sebagian besar semut pekerja lawan yang ditemuinya adalah pimpinan (mayor),  koloni lawannya mungkin jumlahnya lebih besar, karena koloni yang memiliki banyak  mayor biasanya adalah koloni sudah cukup tua/lama.<a href="http://www.harunyahya.com/indo/buku/semut07.htm#dipnot">73</a></p>
<p align="left">Bom Berjalan</p>
<p>Pengorbanan terbesar yang dilakukan semut demi koloninya          adalah menghancurkan koloni musuh dengan cara bunuh diri untuk membela          koloninya. Banyak jenis semut siap melakukan teknik kamikaze ini, tetapi          yang paling dramatis adalah semut pekerja dari spesies Camponotous dari          kelompok saundersi yang hidup di hutan hujan Malaysia.</p>
<p><a name="74"></a>Semut Camponotous pertama kali ditemukan  pada tahun 1970 oleh dua orang ahli entomologi. Secara anatomi dan tingkah laku,  semut ini diprogram untuk menjadi bom berjalan. Mereka memiliki dua kelenjar raksasa  yang mengeluarkan racun. Kedua kelenjar ini berada dari pangkal rahang bawah sampai  ujung belakang tubuh. Ketika semut terdesak selagi bertempur, baik oleh semut  lawan atau oleh pemangsa yang menyerang, otot perutnya berkontraksi secara cepat,  membuat dinding tubuhnya meledak, dan menyemprotkan sekresinya ke arah musuh.<a href="http://www.harunyahya.com/indo/buku/semut07.htm#dipnot">74</a></p>
<p>Pengorbanan besar seperti ini tentunya tidak dapat dijelaskan          de-ngan teori seleksi alam maupun proses sosialisasi yang dipercayai para          pendukung evolusi. Sebagaimana ditekankan sebelumnya, makhluk yang mampu          berkorban ini bukanlah seorang manusia yang memiliki kecerdasan, pendidikan,          perasaan, dan kehendak, melainkan seekor se-mut. Andaipun kita menganggap          bahwa semut telah mengalami per-ubahan fisik &#8211; meskipun ada fosil semut          yang tidak berubah sedikit pun selama 80 juta tahun &#8211; jelas sekali bahwa          perubahan fisik semata tidak cukup untuk menghasilkan kemampuan semut          di atas. Tidak ada mutasi yang dapat menyebabkan transformasi mendadak          yang membuat semut menjadi makhluk yang mampu berpikir, mempertimbangkan,          merasakan, dan meraba.</p>
<p>Andaipun kita asumsikan bahwa ada seekor semut yang pada          suatu hari mau berkorban demi membela koloninya, tidak mungkin pengorbanan          ini ada dalam gen semut dan diwariskan kepada semut lainnya.</p>
<p align="left">Semut Pedagang Budak</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="3" width="20%" align="right" bgcolor="#f0f0f0">
<tbody>
<tr>
<td height="264">
<div><img src="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/59.jpg" alt="" width="190" height="141" /><br />
<span>Keistimewaan semut pedagang budak ini adalah kebiasaannya  mencuri larva dari koloni yang mereka serang, dan menjadikan larva yang diculiknya  “budak” bagi koloninya. Dalam gambar, seekor semut tengah menculik  larva dari koloni saingannya.</span></div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><a name="75"></a>Hubungan antara semut parasit, Formica subintegra,  dan budaknya, Formica subserica, sangat menakjubkan karena menunjukkan pengaruh  sinyal kimia pada kehidupan sosial semut. &#8220;Perbudakan&#8221; adalah salah satu taktik  perang semut yang sangat cerdas dan mungkin juga yang paling menarik.<a href="http://www.harunyahya.com/indo/buku/semut07.htm#dipnot">75 </a></p>
<p>Kadang-kadang, ketika para tentara suatu koloni menyadari          bahwa mereka dapat mengalah-kan koloni lain dengan mudah, mereka mulai          mencari budak. Mereka menyerang sarang koloni lain, membunuh ratunya,          dan merampok &#8220;pot-pot madu&#8221; yang berisi nektar &#8211; maksudnya semut-semut          yang tubuhnya berisi nektar. Hal yang paling penting adalah, mereka men-culik          larva-larva dari ratu yang dibunuhnya. Larva-larva ini kelak berkembang          menjadi semut muda, yang menjadi &#8220;semut budak&#8221;. Semut budak bertugas merawat          anak semut dan mencari serta menyimpan makanan untuk koloni yang mengalahkannya.</p>
<p>Ketika sebuah koloni semut diserang oleh semut parasit,          semut tentara mereka tidak mampu mencegah pencurian telur dan kepompong          mereka akibat feromon dari semut parasit. Feromon ini mirip dengan zat          yang mereka hasilkan sendiri, yang digunakan untuk peringatan bahaya.          Oleh karena itu, ketika zat ini dikeluarkan semut parasit dalam jumlah          besar, koloni semut yang diserang semut parasit akan melarikan diri, tidak          melindungi koloninya.</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="3" width="197" align="left" bgcolor="#f0f0f0">
<tbody>
<tr>
<td>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="197">
<tbody>
<tr>
<td width="195"><img src="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/60.jpg" alt="" width="195" height="153" /></td>
</tr>
<tr>
<td width="195">Semut pedagang budak tidak hanya                    menculik larva dari koloni saingan. Semut madu mencuri “pot-pot                    madu” koloni lain dan membawanya ke sarang mereka.</td>
</tr>
<tr>
<td width="195"><img src="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/61a.jpg" alt="" width="195" height="120" /></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Sebagaimana diketahui, setiap spesies semut mengeluarkan          fero-mon yang berbeda. Feromon-feromon ini digunakan untuk menandai daerah          kekuasaan, mengumpulkan informasi mengenai lokasi dan jumlah musuh, sebagai          komando untuk menyerang dalam perang, serta sebagai tanda bahaya.</p>
<p>Ada satu hal yang menarik. Semut parasit tahu tanda bahaya          koloni semut musuhnya. Mereka meniru tanda bahaya ini dan menggunakan-nya          untuk tujuan tertentu. Akibatnya, koloni musuh hancur di-siplinnya akibat          feromon tiruan yang dikeluarkan semut parasit, dan lari ketakutan tanpa          sempat menyusun sistem pertahanannya. Artinya, semut parasit menghancurkan          sistem pertahanan musuh dengan taktik yang sangat cerdik, seolah-olah          telah disiapkan oleh seorang ahli strategi perang yang andal. Selain itu,          semut parasit sudah memiliki prasarana informasi dan produksi zat-zat          kimia yang dibutuhkan untuk melak-sanakan strategi ini sejak lahir &#8211; sejak          pertama mereka diciptakan.</p>
<p><a name="76"></a>Beberapa spesies semut memiliki budak yang  melakukan segalanya bagi mereka. Contohnya adalah semut Amazon merah, Polyergus.  Semua semut Amazon adalah dari jenis tentara. Rahang bawah mereka besar dan tajam,  khusus dibuat untuk berperang. Mereka tidak dapat mencari makan ataupun merawat  bayi. Semut ini menyerang sarang spesies semut hitam berukuran kecil dan menculik  kepompong dan larvanya. Semut yang terlahir dari kepompong ini dibawa pulang oleh  penculiknya, disuruh melakukan berbagai pekerjaan untuk semut Amazon, dan tinggal  bersama koloni Amazon, meskipun sarang mereka berdekatan. Bahkan, ketika koloni  semut Amazon harus bermigrasi ke tempat lain, mereka memerintahkan budak-budaknya  untuk melaksanakan kepin-dahan mereka, sehingga koloni ini dapat bergerak cepat.<a href="http://www.harunyahya.com/indo/buku/semut07.htm#dipnot">76</a></p>
<p>Semut dapat membela diri terhadap makhluk hidup yang berukuran          besar sekalipun karena kemampuannya meninggalkan jejak. Salah satu contoh          yang tepat adalah pertempuran semut dengan capung. Semut-semut yang melihat          capung dapat berkumpul berkat sistem pelacak-annya, kemudian bersama-sama          menyerang dan membunuhnya. Dalam contoh lain, dengan cara yang sama mereka          mengalahkan ulat yang menyerang seekor anggota koloni, meskipun ukuran          ulat ini lebih besar daripada ukuran mereka.</p>
<p>Mungkin kelihatannya biasa saja apabila makhluk hidup menyerang          atau bertarung dengan makhluk lain demi mempertahankan hidup, atau demi          makanan. Akan tetapi, jika seekor hewan bekerja sama dengan hewan lain,          dari spesies yang sama, untuk bersama-sama melawan musuh, dan jika mereka          mengomunikasikan taktik perang satu sama lain, hal ini patut mendapat          perhatian.</p>
<p>Kecerdasan, perencanaan, dan pertimbangan dibutuhkan dalam          memilih taktik, bertempur secara teratur dan disiplin, dan menggunakan          sistem komunikasi untuk menjaga keteraturan dan disiplin tersebut. Misalnya,          strategi perang dewasa ini ditentukan berdasarkan penga-laman manusia          selama bertahun-tahun. Perwira angkatan bersenjata menjalani berbagai          latihan di akademi militer dan mempelajari taktik-taktik seperti ini.          Mereka juga perlu membangun sistem komunikasi yang khusus dibuat untuk          menjalankan strategi mereka.</p>
<p>Meskipun demikian, para tentara yang kita bicarakan sebelumnya,          yang menentukan tugas dan taktik penyerangan dengan menggunakan sistem          komunikasi kimiawi, yang menyerang musuh bersama-sama, dan, jika perlu,          yang mengorbankan dirinya sewaktu-waktu demi kepen-tingan semut lain dalam          pasukan, mereka tidak pernah mendapatkan pelatihan maupun menerima informasi.          Mereka adalah semut yang panjangnya hanya beberapa milimeter dan tidak          memiliki kemampuan berpikir.</p>
<p align="left">Pakar Penyamaran</p>
<p>Misteri spesies semut Basiceros baru berhasil dipecahkan          akhir-akhir ini. Semula para ilmuwan menganggap semut ini termasuk spesies          langka karena baru menemukan spesies ini satu kali dan tidak pernah menemukannya          lagi.</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="3" width="204" align="right" bgcolor="#f0f0f0">
<tbody>
<tr>
<td>
<table style="height:368px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="202" align="left">
<tbody>
<tr>
<td width="200"><img src="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/62.jpg" alt="" width="200" height="152" /></td>
</tr>
<tr>
<td width="200">Dalam gambar di sebelah kiri                      dan bawah, kita dapat melihat ahli kamuflase dari dunia semut.                      Tubuh semut Basiceros ini ditutupi rambut khusus dengan ujung                      bercabang. Oleh karena itu, mereka sulit sekali ditemukan.</td>
</tr>
<tr>
<td width="200" height="141">
<div><img src="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/63a.jpg" alt="" width="188" height="142" /></div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Akan tetapi, seorang peneliti memecahkan misteri semut ini          pada tahun 1985. Ia menemukan bahwa semut ini sama sekali bukan spesies          langka. Seorang peneliti bernama La Selva, yang memecahkan misteri ini,          menggambarkan semut Basiceros sebagai ahli pembuat ilusi, karena mereka          dapat menjadi &#8220;tidak terlihat&#8221; kapan saja.</p>
<p>Apa yang membuat mereka tidak terlihat?</p>
<p><a name="77"></a>Berbeda dengan spesies semut lain, tubuh  spesies Basiceros ditutupi dua lapis bulu yang ujungnya bercabang. Ketika mereka  berjalan di tanah, segala jenis debu, tanah, dan potongan rumput menempel pada  bulu ini. Perbedaan lainnya antara semut ini dan semut lain adalah, mereka jarang  membersihkan kotoran yang menempel. Maka, sebagaimana ditunjuk-kan pada gambar,  mereka benar-benar sesuai dengan lingkungan tempat tinggalnya. Jika dilihat dari  luar, sulit sekali menemukan mereka. Semut ini hanya dapat dilihat ketika mulai  berjalan. Akan tetapi, meskipun sudah begini pun, mereka berjaga-jaga untuk melindungi  diri dari burung, kadal, bahkan manusia. Mereka adalah semut terlambat di muka  bumi ini. Ketika diganggu, semut ini dapat berdiri diam selama beberapa menit.<a href="http://www.harunyahya.com/indo/buku/semut07.htm#dipnot">77</a></p>
<p>Teknik kamuflase yang digunakan sepesies semut ini sangat          menge-jutkan, karena tidak mungkin seekor semut membangun sistem pertahan-an          dengan cara menentukan karakter fisiologisnya sendiri. Semua keistimewaan          ini (tubuh yang ditutupi rambut, tidak membersihkan diri sebagaimana layaknya          semut lain, serta bergerak sangat lambat) pasti telah ditentukan sebelumnya,          sehingga semut yang terlahir ke dunia ini telah dilengkapi dengan berbagai          karakter tersebut.</p>
<p>Akibatnya, kita menghadapi sebuah kebenaran besar. Spesies  semut ini juga telah diciptakan oleh Allah dengan segala sifat yang telah dirancang  sebelumnya, sehingga menunjukkan sifat-Nya sebagai Sang Pencipta pada kita.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/seranggakita.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/seranggakita.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/seranggakita.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/seranggakita.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/seranggakita.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/seranggakita.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/seranggakita.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/seranggakita.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/seranggakita.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/seranggakita.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/seranggakita.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/seranggakita.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/seranggakita.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/seranggakita.wordpress.com/64/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=seranggakita.wordpress.com&amp;blog=8822584&amp;post=64&amp;subd=seranggakita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://seranggakita.wordpress.com/2009/08/01/taktik-perang-dan-bertahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/99e248df202ce5cf23eac26b4fb80b8c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">seranggakita</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/56a.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/56d.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/56c.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/57.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/58.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/59.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/60.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/61a.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/62.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/63a.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>SIMBIOSIS SEMUT</title>
		<link>http://seranggakita.wordpress.com/2009/08/01/simbiosis-semut/</link>
		<comments>http://seranggakita.wordpress.com/2009/08/01/simbiosis-semut/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Aug 2009 06:42:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>seranggakita</dc:creator>
				<category><![CDATA[semut]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://seranggakita.wordpress.com/2009/08/01/simbiosis-semut/</guid>
		<description><![CDATA[Ada logika mendasar yang dapat digunakan untuk menganalisis bukti-bukti penciptaan makhluk hidup. Logika ini dapat di-jelaskan dengan contoh sederhana. Misalkan Anda sedang berjalan di tanah tandus. Tiba-tiba Anda menemukan anak kunci logam di tanah. Anda memungut kunci itu tanpa tahu kegunaannya dan terus berjalan. Tak lama kemudian, Anda menemukan rumah kosong beberapa ratus meter dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=seranggakita.wordpress.com&amp;blog=8822584&amp;post=63&amp;subd=seranggakita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada logika mendasar yang dapat digunakan untuk menganalisis          bukti-bukti penciptaan makhluk hidup. Logika ini dapat di-jelaskan dengan          contoh sederhana.</p>
<p>Misalkan Anda sedang berjalan di tanah tandus. Tiba-tiba          Anda menemukan anak kunci logam di tanah. Anda memungut kunci itu tanpa          tahu kegunaannya dan terus berjalan. Tak lama kemudian, Anda menemukan          rumah kosong beberapa ratus meter dari tempat Anda menemukan anak kunci,          lalu Anda mencoba membuka gembok rumah itu dengan anak kunci yang Anda          temukan, barangkali saja cocok.</p>
<p>Jika anak kunci tersebut dapat membuka pintu dengan mudah,          kesimpulan apa yang dapat Anda tarik?</p>
<p>Tentu saja sederhana. Anda menarik kesimpulan bahwa anak          kunci tersebut adalah pasangan gembok pintu rumah itu. Artinya, anak kunci          yang Anda temukan telah dirancang secara khusus untuk membuka gembok itu.          Tidak sulit ditebak bahwa tukang yang samalah yang membuat gembok beserta          kuncinya itu. Jadi, kunci itu sesuai dengan gemboknya karena memang telah          dirancang untuk bersesuaian.</p>
<p>Akan tetapi, kalau ada orang berkata, &#8220;Anda salah. Anak          kunci yang Anda temukan sama sekali tidak ada hubungannya dengan gembok          itu. Kebetulan saja mereka cocok. Menurut Anda bagaimana?&#8221; Tentu Anda          menganggap pendapatnya tidak masuk akal, karena ada jutaan gembok dan          jutaan anak kunci di dunia ini yang tidak cocok satu sama lain. Dari jutaan          anak kunci dan gembok yang berbeda-beda, hampir mustahil ada gembok dan          kunci yang benar-benar cocok, yang terletak berdekatan tanpa sengaja.</p>
<p>Apalagi seandainya anak kunci itu cukup rumit, banyak tonjolan          dan lekukannya, artinya bukan lurus dan sederhana seperti kunci kamar.          Kemungkinan &#8220;kebetulan&#8221; semakin tidak masuk akal, karena semua detail          lekukan dan tonjolan anak kunci harus juga ada pada gembok, sehingga kemungkinan          terjadinya &#8220;kebetulan&#8221; ini hanya sepersekian juta kali.</p>
<p>Jika pada satu pintu ada tiga gembok, dan Anda menemukan          bukan hanya satu, melainkan tiga anak kunci yang terletak berdekatan,          akankah Anda mempercayai pendapat bahwa anak-anak kunci ini hanyalah kepingan          logam yang kebetulan saja cocok dengan gembok-gembok itu? Selain itu,          Anda mungkin menganggap orang yang berpendapat seperti itu punya masalah          kejiwaan atau mencoba menyembunyikan sesuatu.</p>
<p>Contoh di atas menyampaikan pesan yang sederhana, namun          sangat berarti. Jika ada dua benda yang benar-benar cocok, yakni semua          detail pada kedua benda ini serasi dan selaras, pasti ada kesengajaan          dalam proses perancangannya. Anak kunci cocok dengan gembok karena sengaja          dirancang oleh seorang tukang yang ahli. Kaset video dapat dimasukkan          dan digunakan dalam pemutar video karena memang telah dirancang dengan          tujuan itu.</p>
<p>Berdasarkan penjelasan di atas, kita dapat sampai pada kesimpulan          di bawah ini. Jika terdapat keselarasan antara dua makhluk hidup yang          ditunjukkan dengan adanya kesesuaian antara organ-organ tubuhnya, dapat          dikatakan bahwa keselarasan ini adalah bukti proses penciptaan secara          sadar dan terencana. Keselarasan yang ada menunjukkan bahwa proses penciptaan          ini dilakukan secara sadar dan tidak terjadi secara kebetulan. Selain          itu, karena kesadaran dan rencana ini bukan berasal dari hewan-hewan itu          sendiri, keberadaan Sang Pencipta yang &#8220;merancang&#8221; makhluk-makhluk ini          secara sadar tidak dapat dipungkiri lagi.</p>
<p>Sekarang kita dapat kembali memasuki dunia semut, menggunakan          logika dasar ini. Topik dalam bab ini adalah beberapa makhluk hidup yang          hidup selaras bersama semut.</p>
<p align="left">Hewan yang Hidup Bersama Semut</p>
<p>Sejak lebih dari seabad yang lalu diketahui bahwa sejumlah          spesies serangga hidup bersimbiosis dengan semut. Sebagian besar dari          spesies ini merampok makanan dari koloni semut, sementara sebagian lainnya          menggantungkan sebagian atau seluruh hidupnya pada koloni semut. Spesies          yang hidup sebagai parasit termasuk berbagai serangga, misalnya kumbang,          kutu, lalat, dan tawon.</p>
<p>Sebagian parasit ini hidup di sarang semut dan menarik keuntungan          dari kehidupan sosial semut. Dalam beberapa kasus, semut tidak ber-keberatan          meskipun serangga larva dan telurnya dimakan parasit ini. Bahkan, serangga          ini tidak hanya diperbolehkan memasuki sarang, larva mereka juga diberi          makan dan dibesarkan sebagaimana layaknya larva semut.</p>
<p>Mengapa semut membiarkan saja tindakan agresif dari serangga          parasit? Dan bagaimana mungkin serangga ini dapat tinggal di sarang semut          yang telah memiliki sistem pertahanan yang hebat selama bertahun-tahun?          Mari kita analisis fenomena yang menarik ini.</p>
<p>Sebagaimana diketahui, dalam komunitas semut terdapat sistem          komunikasi yang rumit. Dengan sistem ini, semut dapat membedakan anggota          koloni mereka dengan pendatang. Kemampuan ini berfungsi sebagai &#8220;sistem          pertahanan bersama&#8221;. Namun, serangga pendatang dapat masuk ke sarang semut          dengan berbagai cara. Hal ini menun-jukkan bahwa mereka telah berhasil          memecahkan sandi komunikasi dan identifikasi yang digunakan semut. Dengan          kata lain, mereka mampu berkomunikasi dengan bahasa semut, baik secara          mekanis maupun kimiawi.</p>
<p align="left">Penyamaran</p>
<p>Ketika dua ekor semut bertemu, ia melakukan gerakan tertentu,          yaitu menyentuh kawannya dengan antena serta mencium feromonnya. Kemudian,          kedua semut melanjutkan perjalanan. Mereka melakukan gerakan ini untuk          saling mengenali dan untuk melindungi diri dari makhluk asing.</p>
<p>Semut pekerja melakukan hal yang sama ketika bertemu serangga          yang tinggal di sarang mereka. Kadang-kadang mereka menyadari bahwa serangga          yang ditemuinya bukan dari golongan mereka dan mengusirnya keluar sarang.          Akan tetapi, kadang-kadang mereka memperlakukan serangga lain seolah-olah          ia juga seekor semut. Biasanya semut menerima serangga asing seperti ini          jika serangga tersebut mampu menyamar secara kimiawi.</p>
<p><a name="44"></a>Dapat dipastikan bahwa serangga menyamar  secara kimiawi, karena semut terbukti mengusir serangga lain yang berbeda secara  kimiawi, meskipun bentuk fisiknya mirip dengan mereka. Namun, parasit tertentu  yang sama sekali tidak mirip dengan semut diterima sebagai warga sarang semut.<a href="http://www.harunyahya.com/indo/buku/semut06.htm#dipnot">44</a> Sulit dijelaskan bagaimana spesies-spesies serangga belajar meniru ciri khas kimiawi  semut. Hal ini hanya dapat dimengerti apabila serangga ini memang dirancang untuk  memiliki feromon yang mirip dengan semut. Serangga tidak mampu memahami reaksi  kimia, meskipun ia hidup selama jutaan tahun. Oleh karena itu, serangga ini pasti  memperoleh ciri khas tersebut dari Sang Pencipta.</p>
<p align="left">Serangga Penghasil Hidrokarbon dan Semut          Api</p>
<p>Salah satu spesies serangga, Scarabaeid, dapat hidup bersama          semut api, karena kedua spesies ini menghasilkan hidrokarbon yang sama.          Serangga sering dianggap bermusuhan dengan semut, karenanya meng-herankan          bahwa terdapat hubungan harmonis antara kedua spesies ini. Bagaimanakah          kesesuaian ini bisa terjadi?</p>
<p><a name="45"></a>Serangga ini menghasilkan hidrokarbon yang  juga dihasilkan oleh semut. Selain itu, mereka juga menghasilkan sejumlah hidrokarbon  yang tinggi berat molekulnya. Ketika serangga meninggalkan sarang semut, senyawa-senyawa  yang sama dengan hidrokarbon semut tidak lagi di-produksi, tetapi senyawa hidrokarbon  yang berat yang mereka miliki tetap diproduksi. Bila suatu saat nanti serangga  ini mendatangi koloni spesies semut api lain, mereka akan memproduksi bau yang  sama dengan koloni yang ini.<a href="http://www.harunyahya.com/indo/buku/semut06.htm#dipnot">45</a></p>
<p><a name="46"></a>Ketika pertama kali tiba di sarang semut  api, serangga ini meng-gunakan cangkang tubuhnya yang tebal dan berpura-pura mati  untuk melindungi diri. Dalam beberapa hari, serangga ini mampu meniru hidrokarbon  yang diproduksi semut, sehingga diperbolehkan masuk ke sarang semut.<a href="http://www.harunyahya.com/indo/buku/semut06.htm#dipnot">46</a></p>
<p>Bagaimana mungkin spesies serangga ini mampu meniru berbagai          bau dan memproduksinya di dalam tubuh? Bagaimana serangga ini bisa tahu          bahwa dengan menghasilkan bau tertentu ia dapat menipu semut sehingga          diperbolehkan masuk ke dalam sarang mereka? Dapatkah serangga melakukan          semua ini sendiri?</p>
<p>Tentu saja tidak. Serangga tidak mungkin dapat mengenali          ciri khas fisik dan kimiawi semut. Sangat tidak masuk akal apabila dikatakan          bahwa serangga ini telah mengalami evolusi, dengan cara hidup bersama          semut dalam waktu lama sehingga memiliki kemampuan memproduksi bau yang          dihasilkan semut-semut ini. Pembentukan ciri khas yang begitu rumit tidak          mungkin dihasilkan dari mutasi maupun kebetulan. Satu-satunya kesimpulan          dari semua ini adalah adanya Sang Pencipta, Yang telah memberi serangga          ini kemampuan untuk mengenali dan meniru. Dialah Satu-Satunya yang mampu          membuat semut dan serangga lain hidup bersama secara selaras dan Dia pula          yang mampu mencegah kedua makhluk ini untuk saling menyerang. Dialah,          Allah, Sang Pencipta kedua spesies ini.</p>
<p align="left">Pengunjung Semut Tentara</p>
<p>Ada sejumlah spesies kutu yang hidup pada tubuh semut tentara.          Spesies-spesies kutu ini hidup dari darah yang mereka peroleh dari daerah          mirip membran pada punggung semut yang menjadi inangnya, atau dari cairan          berlemak yang dihasilkan tubuh inangnya. Terkadang kutu ini hidup di ujung          kaki belakang semut, sehingga pada saat-saat tertentu mereka merelakan          tubuhnya digunakan sebagai bagian dari kaki semut.</p>
<p><a name="47"></a>Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, semut  tentara membentuk rantai dengan cara berpegangan pada tungkai kawannya saat mereka  membuat sarang sementara dari rantai tersebut. Dalam analisis labora-torium, ditemukan  bahwa pada semut yang memegang kaki kawannya yang berkutu, ditemukan kaki belakang  kutu tersebut mengambil bentuk yang sama dengan cakar semut serta melakukan fungsi  yang sama pula. Kutu ini memiliki alat cengkeram yang berbentuk gigi pada punggung-nya.  Punggung ini berbentuk sedemikian rupa sehingga mereka dapat beradaptasi dengan  tubuh semut.<a href="http://www.harunyahya.com/indo/buku/semut06.htm#dipnot">47</a></p>
<p>Di antara ribuan spesies yang hidup di alam semesta ini,          tidak mungkin dua makhluk dengan sistem yang saling melengkapi ini bertemu          secara kebetulan. Kemungkinan kedua spesies ini- yang saling meng-gantungkan          hidupnya &#8211; pada suatu hari bertemu, melihat bahwa tubuh mereka yang sesuai          untuk hidup bersama, lalu memutuskan untuk bersim-biosis, adalah nol.          Oleh karena itu, keselarasan yang begitu sempurna ini adalah salah satu          contoh yang mendetail betapa sempurna hasil ciptaan Allah. Meskipun menyangkut          hal yang sangat kecil, detail seperti ini terlalu berharga untuk dilupakan.          Contoh-contoh yang dapat kita saksikan ribuan, bahkan jutaan kali setiap          hari ini, telah diciptakan agar manusia dapat melihat kekuatan yang tak          terbatas, ilmu dan kehalusan ciptaan Allah.</p>
<p align="left">Larva Lalat yang Cerdas</p>
<p>Tubuh semut merupakan tempat hidup yang sesuai bagi parasit.          Oleh karena itu, banyak spesies parasit yang memilih tubuh semut sebagai          rumah mereka. Salah satu contoh parasit ini adalah spesies lalat, Stronggydaster          globula.</p>
<p><a name="48"></a>Larva lalat ini (&#8220;endoparasit&#8221; atau parasit  interior) hidup pada tubuh bagian belakang ratu semut. Keberadaan larva lalat  tampaknya tidak mempengaruhi tingkah laku ratu semut, kecuali aktivitas bertelurnya  yang terhenti. Ketika mening-galkan tubuh inangnya, larva parasit memasuki fase  pupa. Pupa ini dirawat semut seolah-olah mereka adalah pupa semut. Akan tetapi,  ketika lalat mulai dapat terbang, perlakuan koloni semut berubah dan lalat tersebut  dipaksa meninggalkan sarang. Kemudian ratu semut mati setelah parasit-parasit  ini meninggalkan sarang.<a href="http://www.harunyahya.com/indo/buku/semut06.htm#dipnot">48</a></p>
<table style="height:280px;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="432" align="center" bgcolor="#f0f0f0">
<tbody>
<tr>
<td width="95" height="26"><img src="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/39a.jpg" alt="" width="95" height="274" /></td>
<td height="26">
<div>
<p>Pada gambar ini terlihat enam spesies parasit                  yang hidup pada semut tentara. Parasit-parasit ini menumpang hidup                  di tubuh semut dengan berbagai jenis adaptasi simbiosis. (1) Parasit                  pertama hidup dari cairan tubuh semut inangnya. (2) Parasit kedua                  adalah sejenis kutu yang hidup di ujung kaki inangnya. (3) Spesies                  parasit yang satu ini mengelabuhi semut dan memakan larva mereka.                  (4) Spesies ini menghabiskan sebagian besar waktunya di tubuh                  semut pekerja. (5) Parasit ini memilih ujung dagu semut sebagai                  rumahnya. (6) Spesies parasit ini hidup di pangkal antena semut.</p></div>
</td>
<td width="95" height="26"><img src="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/39b.jpg" alt="" width="95" height="280" /></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Larva lalat yang dapat tinggal dan hidup pada tubuh semut          merupakan fenomena yang menarik. Tidak mungkin seekor makhluk yang baru          lahir mampu memilih tubuh ratu semut sebagai rumah-nya. Induk lalat memilih          tubuh ratu semut sebagai tempat bertelur karena ia mengetahui dan mengenal          tubuh dan cara hidup semut. Dalam habitatnya ada ratusan spesies lain          yang bisa ia jadikan tempat bertelur. Namun, induk lalat mampu memilih          dan menentukan tempat yang sesuai bagi kepentingan bayinya, yaitu pada          tubuh ratu semut. Meskipun demikian, tidak mungkin induk lalat dapat mengantisipasi          apakah lingkungan yang dipilihnya mampu menjamin keamanan telurnya dan          apakah semut dalam koloni itu akan merawat telur lalat. Lalat adalah makhluk          yang berbeda sama sekali dengan semut, sehingga tidak mungkin induk lalat          dapat mengetahui kehidupan semut.</p>
<p>Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa keputusan yang tepat          ini bukan hasil &#8220;ramalan&#8221; induk lalat, melainkan karena dalam diri hewan          kecil ini terdapat sebuah program, atau ilham. Dialah Allah yang meletakkan          larva lalat di tempat yang paling sesuai untuknya. Dialah Allah yang memiliki          kekuasaan mutlak atas lalat dan semut serta memiliki pengetahuan yang          tidak terbatas mengenai mereka. Dialah Sang Pencipta, Pemilik dan Penguasa          semua makhluk hidup.</p>
<p align="left">Misteri Kupu-Kupu Biru</p>
<p>Pada tahun 1979, kupu-kupu biru besar musnah dari tempat          per-kembangbiakannya yang terakhir di Inggris. Para ahli, yang mempelajari          spesies kupu-kupu ini, cukup lama tidak berhasil mengetahui mengapa kupu-kupu          jenis ini musnah, padahal banyak sekali habitat yang cocok untuk perkembangbiakan          mereka berupa padang rumput liar, yang banyak ditumbuhi tanaman thyme          tempat kupu-kupu bertelur. Sebenarnya, rahasianya terletak pada siklus          hidup kupu-kupu yang menakjubkan.</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="3" width="500" align="center" bgcolor="#f0f0f0">
<tbody>
<tr>
<td>
<table style="height:324px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="482" align="center">
<tbody>
<tr>
<td><img src="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/405.jpg" alt="" hspace="5" vspace="5" width="160" height="160" /></td>
<td>
<p>Gambar kiri menunjukkan kupu-kupu biru besar                      setelah mening-galkan sarang semut. Gambar kanan menunjukkan                      larva kupu-kupu biru sebelum bertemu semut merah.</td>
<td><img src="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/406.jpg" alt="" hspace="5" vspace="5" width="160" height="160" /></td>
</tr>
<tr>
<td height="38"><img src="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/407.jpg" alt="" width="160" height="160" /></td>
<td height="38">Dalam gambar kanan bawah,                      ulat yang menyamar dibawa oleh semut ke sarangnya. Gambar                      kiri bawah menunjukkan ulat kupu-kupu biru yang hidup bersama                      larva semut di dalam sarang.</td>
<td height="38"><img src="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/409.jpg" alt="" hspace="5" vspace="5" width="160" height="160" /></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Setelah menetas, ulat memakan daun thyme selama kurang lebih          tiga minggu. Kemudian ia jatuh ke tanah dan mengeluarkan cairan yang menarik          semut merah. Ketika semut merah muncul, ulat mendongakkan tubuhnya dan          menggembungkan kulit di belakang kepalanya, untuk menipu agar semut mengira          ia adalah larva semut. Kemudian ulat tersebut dibawa semut kembali ke          sarangnya, dan hidup di sarang semut selama hampir satu tahun. Ulat ini          hidup dengan memakan larva semut dan berhibernasi selama musim dingin.          Pada musim semi, ulat ini membuat kepompong sutra. Selagi di dalam kepompong,          perlahan-lahan ulat berubah menjadi kupu-kupu dewasa, sampai akhirnya          meninggalkan sarang pada pertengahan musim panas.</p>
<p><a name="49"></a>Temuan mengenai parasitisme ini menyingkapkan  tabir misteri punahnya spesies kupu-kupu. Akibat perubahan ekologi di wilayah  tersebut, semut merah bermigrasi dari situ dan ulat yang menetas dibunuh oleh  spesies semut lainnya, yang tidak dapat ditipu oleh penyamaran ulat.<a href="http://www.harunyahya.com/indo/buku/semut06.htm#dipnot">49</a></p>
<p>Ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab. Mungkinkah simbiosis          yang terjadi antara semut dan kupu-kupu ini terjadi secara kebetulan?          Bagaimana mungkin kupu-kupu &#8211; dalam bentuk ulat, yang bahkan belum dewasa          &#8211; mengetahui cara mengelabui seekor semut? Bagaimanakah organ-organ yang          menyamarkan ulat seperti larva semut bisa terbentuk? Karena para evolusionis          tidak menerima teori pen-ciptaan, mereka membantah dan mengatakan bahwa          organ-organ ini terjadi secara kebetulan. Namun demikian, mustahil suatu          kebetulan bisa menghasilkan kemiripan sesempurna ini. Kemiripan ini tak          mungkin terbentuk berangsur-angsur secara bertahap, karena ulat yang belum          bisa menyamar akan diburu oleh koloni semut dan tidak mungkin bertahan          hidup. Karena seekor ulat tidak mungkin mampu menentukan bentuk tubuh          secara sadar, kemungkinan satu-satunya adalah adanya sebuah Kekuasaan          Sang Pencipta yang memberinya bentuk sehingga menyerupai larva semut.</p>
<p align="left">Parasit yang Diberi Makan dari Mulut Semut</p>
<p><a name="50"></a>Ada sejenis parasit bernama Dinarda yang  selalu mengelilingi sarang semut dan memakan mangsa yang dibawa oleh koloni semut.  Mereka juga memakan cairan nutrisi milik koloni. Parasit tersebut mondar-mandir  di ruang sarang tempat para pekerja dan pemburu yang baru tiba itu berbagi makanan.  Parasit ini menyentuh ujung mulutnya ketika bertemu seekor semut sehingga semut  itu membagi makanannya. Cara ini sebenarnya sangat berbahaya bagi Dinarda, karena  semut akan menyerangnya jika menyadari bahwa parasit itu bukan anggota koloni.  Dinarda memiliki suatu cara untuk bertahan jika ini terjadi. Ketika menyadari  bahwa ia akan diserang semut, ia mengangkat perutnya dan menyemprotkan cairan  pembius ke arah semut. Akibatnya, serangan semut terhenti dan parasit berhasil  melarikan diri.<a href="http://www.harunyahya.com/indo/buku/semut06.htm#dipnot">50</a></p>
<p align="left">Imigran yang Cerdik</p>
<p><a name="51"></a>Atemeles adalah spesies serangga yang dibesarkan  di sarang semut Formica selama musim panas dan berpindah ke sarang semut spesies  lain, Myrmica. Setelah menghabiskan musim dingin di sarang yang baru, mereka pindah  kembali ke sarang asalnya di musim panas. Perpindahan ini tentu saja beralasan.  Formica tidak berkembang biak selama musim dingin, sehingga tidak banyak makanan  yang disimpan selama musim ini. Sebaliknya, spesies Myrmica berkembang biak di  musim dingin sehingga banyak menyimpan makanan di musim ini.<a href="http://www.harunyahya.com/indo/buku/semut06.htm#dipnot">51</a></p>
<table style="height:202px;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="3" width="306" align="right" bgcolor="#f0f0f0">
<tbody>
<tr>
<td width="144" height="141"><img src="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/41.jpg" alt="" width="144" height="200" /></td>
<td width="160" height="141">Di atas ini terlihat                bagaimana serangga bertukar makanan dengan semut. Pada gambar atas,                serangga menyentuh semut dengan antenanya. Gambar tengah menunjukkan                serangga menepuk mulut semut dengan kaki depannya. Pada gambar di                bawah, semut memberikan setetes makanan cair pada serangga yang                sedang menyamar.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><a name="52"></a>Atemeles tidak kesulitan bermigrasi dari  sarang ke sarang. Semut Formica membuat sarangnya di hutan sedangkan semut Myrmica  ber-sarang di padang rumput. Atemeles yang meninggalkan sarang Formica telah menemukan  metode yang sangat penting agar ia tidak tersesat. Ia bergerak ke arah sinar matahari  dan menemukan padang rumput di mana Myrmica bersarang. Ketika sampai di padang  rumput, masalah lain menanti mereka. Mereka harus bisa membedakan sarang semut  Myrmica dengan sarang semut lain. Penelitian menunjukkan bahwa Atemeles menemukan  sarang yang tepat dengan mencium bau yang dihasilkan koloni Myrmica.<a href="http://www.harunyahya.com/indo/buku/semut06.htm#dipnot">52</a> Singkat kata, serangga imigran ini tidak hanya mampu menentukan arah dengan menggunakan  cahaya, tapi juga mampu mem-bedakan bau koloni-koloni semut.</p>
<p><a name="53"></a>Serangga imigran ini sangat menarik karena  mereka diterima oleh kedua spesies semut dan dengan cepat mampu beradaptasi dengan  lingkungan sarang yang baru. Wasmann, seorang ilmuwan yang telah meneliti semut  selama bertahun-tahun, percaya bahwa serangga ini dapat bersimbiosis secara canggih  dengan metode adaptasi yang belum diketahui. Serangga ini memiliki sebuah kemampuan  yang mereka gunakan sehingga mereka dapat masuk ke sarang yang mereka inginkan.  Spesies ini mempunyai sebuah kelenjar yang menghasilkan zat-zat yang mereka gunakan  untuk melindungi diri mereka. Mereka juga menye-kresikan zat kimia yang dapat  melemahkan musuh-musuh mereka ketika mereka diserang. Zat kimia ini sangat keras  sehingga ketika serangga ini menyemprotkan zat tersebut pada semut yang sarangnya  sudah lama mereka tinggali, sikap semut menjadi lebih &#8220;lunak&#8221; pada mereka. <a href="http://www.harunyahya.com/indo/buku/semut06.htm#dipnot">53</a></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="3" width="155" align="left" bgcolor="#f0f0f0">
<tbody>
<tr>
<td width="153" height="152">
<div><img src="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/42.jpg" alt="" width="153" height="200" /><br />
<span>Pada gambar di sebelah kanan, seekor serangga Atemeles berhasil  menipu semut</span></div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Aktivitas serangga imigran ini memunculkan berbagai pemi-kiran.          Serangga yang tahu waktu yang tepat untuk pindah serta sarang yang ditujunya,          pasti mengenali segala aspek kehidupan semut. Bagaimana perjalanan migrasi          ini dimulai? Pertama-tama, serangga imigran harus mampu menentukan bahwa          sarang yang akan diting-galinya adalah sarang semut, bukan sarang serangga          lainnya. Kemudian, serangga imigran juga harus dapat memilih spesies semut          yang tepat dari sekitar 8.800 spesies semut yang ada di dunia dan menyadari          bahwa persediaan makanan di dalam sarang yang dipilihnya menurun selama          musim dingin. Setelah itu, serangga ini harus menemukan sarang yang banyak          menyimpan makanan selama musim dingin. Makhluk yang harus membuat semua          keputusan ini adalah serangga yang mungkin tidak akan pernah kita jumpai          selama hidup kita. Secara logis, apakah seekor serangga mampu membuat          keputusan seperti ini?</p>
<p>Seandainya kita meyakini bahwa sistem ini telah berkembang          sede-mikian rupa, bukan berarti bahwa tidak ada pertanyaan lain yang mun-cul.          Bagaimana mungkin serangga ini dapat menemukan jalan ke sarang yang tepat          saat ia berpindah sarang? Bagaimana mungkin seekor serang-ga dengan ukuran          seperseribu ukuran manusia dapat menemukan jalan di dalam hutan sementara          hal itu tidak mudah dilakukan bahkan oleh seseorang yang sangat cerdas          sekalipun?</p>
<p>Jawaban, &#8220;bergerak ke arah cahaya&#8221; tidak memberikan penjelasan          yang sesungguhnya, karena cahaya bisa datang dari 2-3 arah yang ber-lainan.          Jika sekadar mengikuti arah cahaya, para imigran ini tetap harus menjelajahi          wilayah seluas beberapa meter persegi sebelum menemukan sarang yang dicari          (bagi makhluk seukuran serangga, wilayah seluas beberapa meter persegi          sama dengan daerah seluas beberapa kilometer persegi bagi kita). Pada          saat inilah proses pengenalan bau dimulai. Proses ini juga sangat menakjubkan.          Dapat dibayangkan betapa sulitnya menge-nali satu jenis bau dari bau-bau          lainnya di dalam hutan yang dihuni ratus-an koloni semut, yang selain          itu juga terdapat ribuan bau lainnya. Yang lebih menakjubkan lagi, serangga          yang telah hidup di tempat lain sepanjang musim panas masih ingat bau          sarang yang ditujunya.</p>
<p>Mari kita pikirkan kejadian berikut ini. Andaipun kita yang          meletak-kan seekor serangga Atemeles dan meletakkannya di depan sarang          semut yang sesuai, tetap sangat sulit bagi serangga ini untuk dapat hidup          di sarang tersebut, karena semut juga memiliki kemampuan pengenalan yang          sangat peka. Semut tidak akan menerima semut lain yang tidak sekoloni.          Semestinya mereka menganggap serangga pendatang ini musuh dan mengusirnya          dari sarang. Namun, hal ini tidak terjadi dan Atemeles diperlakukan dengan          cukup baik. Kemungkinan besar hal ini disebabkan oleh zat kimia yang diproduksi          tubuh serangga ini. Bagaimana mungkin serangga imigran ini mengetahui          bahwa dirinya dapat mempengaruhi koloni semut dengan zat ini dan menyadari          bahwa efeknya akan meng-ubah sikap permusuhan koloni semut? Apakah mungkin          Atemeles me-nentukan sendiri dengan tepat zat kimia apa yang diproduksinya?</p>
<p>Tentu saja ini mustahil. Yang terjadi di sini sudah jelas.          Perbuatan serangga ini membutuhkan kecerdasan yang tinggi dan kemampuan          untuk memilih. Akan tetapi, tentu saja kedua hal ini tidak mungkin dimiliki          seekor makhluk yang bahkan tidak memiliki otak. Harus diakui bahwa sumber          kecerdasan dalam tindakan serangga ini berada &#8220;di luar&#8221; dirinya.</p>
<p>Para evolusionis menggunakan kata &#8220;naluri&#8221; untuk keluar          dari jalan buntu seperti ini. Mereka juga menyatakan bahwa perilaku hewan          berasal dari motif-motif tertentu yang tidak diketahui sumbernya. Akan          tetapi, pendapat seperti ini hanya dapat digunakan untuk menutupi kesalahan          mereka, tidak mengubah apa-apa. Gambarannya cukup jelas. Ada motif-motif          tertentu yang menggerakkan hewan ini yang dihasilkan oleh suatu rencana          yang cerdas. Karena rencana cerdas tidak mungkin dihasilkan oleh hewan          itu sendiri, motif ini pasti bersumber pada sebuah kekuatan yang berkuasa          atas hewan ini. Kekuatan ini adalah milik Dia Yang tak terlihat, Yang          mampu berkuasa atas dunia nyata dengan Maha Bijaksana dan mencerminkan          pengetahuan itu dalam mengenai makhluk hidup, seperti serangga, yang tidak          memiliki kesadaran.</p>
<p align="left">Serangga yang Berpura-pura Mati</p>
<p>Sarang semut menyajikan persediaan makanan, perlindungan          dari penyerang, dan kondisi hidup yang ideal bagi suatu spesies serangga          yang hidup di gurun pasir di sebelah selatan Amerika Serikat dan Meksiko.          Begitu berhasil memasuki sarang semut, serangga ini langsung menuju ruang          perkembangbiakan dan memakan larva semut.</p>
<p>Serangga ini telah mengembangkan berbagai teknik untuk masuk          ke dalam sarang semut. Beberapa spesies langsung saja masuk lewat lubang          semut, kemudian melalui gundukan ranting dan masuk ke dalam sarang. Serangga          ini memiliki cangkang yang melindungi tubuh mereka dengan baik, sehingga          semut tidak dapat membunuh mereka. Koloni semut hanya dapat menyerang          mereka bersama-sama lalu mengusir mereka dari sarangnya.</p>
<p><a name="54"></a>Serangga yang gagal masuk tidak pernah  menyerah. Mereka berpu-ra-pura mati sehingga menarik perhatian semut. Kemudian,  semut-semut itu membawa pulang serangga yang berpura-pura mati ini sebagai makanan.  Untuk mengelabui semut, serangga ini pandai berpura-pura mati, dengan cara menarik  antenanya ke belakang serta membuat kakinya tampak kaku.<a href="http://www.harunyahya.com/indo/buku/semut06.htm#dipnot">54</a></p>
<p><a name="55"></a>Setelah mencapai ruang penyimpanan telur,  entah mengapa semut meninggalkan serangga ini. Penelitian menunjukkan bahwa selagi  serangga ini memakan telur semut, cairan yang dikeluarkan bulunya menarik perhatian  semut di tempat lain. Demikianlah sikap permusuhan semut berkurang dan mereka  tidak lagi dapat melindungi telurnya.<a href="http://www.harunyahya.com/indo/buku/semut06.htm#dipnot">55</a></p>
<p><a name="56"></a>Serangga &#8220;cerdas&#8221; ini juga meninggalkan  larvanya di sarang semut. Larva serangga tumbuh di tengah tumpukan potongan tanaman.  Meski-pun mereka tidak memiliki mekanisme pertahanan melawan semut, larva ini  tidak diserang oleh kawanan semut, sampai suatu saat mereka mampu bertahan dari  serangan semut dan melarikan diri dengan cara yang terampil.<a href="http://www.harunyahya.com/indo/buku/semut06.htm#dipnot">56</a></p>
<p align="left">Larva Lalat yang Mengenali Semut</p>
<p>Dalam subbab berikut ini kita akan menyaksikan contoh penciptaan          yang sempurna dan mengagumkan, yaitu larva lalat yang dapat menyamar.</p>
<p><a name="57"></a>Larva-larva lalat syrphid (Microdon) hidup  jauh di dalam sarang semut selama musim dingin, sedangkan pada musim semi mereka  pindah ke permukaan sarang untuk membentuk kepompong (pupa). Dalam penelitian  ditemukan bahwa semua larva menghilang begitu menetas sehingga dianggap telah  mati dan hanya tertinggal seekor larva yang menggantung di permukaan luar kepompong  semut. Pembesaran menun-jukkan bahwa bentuk larva semakin membulat, seolah-olah  ia berusaha mengejan untuk mengubah bentuknya. Tiba-tiba larva ini menghilang.  Larva telah memasukkan kait pada mulutnya ke dalam kepompong sutra dan membuat  lubang yang cukup besar agar ia bisa masuk. Larva-larva yang seolah-olah menghilang  sebenarnya berada di dalam kepompong, memakan pupa semut dan berubah ke tingkat  larva selanjutnya. Larva Microdon pada tingkatan selanjutnya, menggulung dirinya  searah panjang tubuhnya sehingga tidak dapat dibedakan dari kepompong semut. Setelah  proses transformasi ini, semut-semut pekerja yang kebingungan berdatangan dan  membawa bayi yang menyamar ke dalam sarangnya yang aman.<a href="http://www.harunyahya.com/indo/buku/semut06.htm#dipnot">57</a></p>
<p>Ini adalah contoh kasus mimikri yang unik. Semut mengira          larva lalat ini adalah kepompong semut. Pada saat penelitian dilakukan,          ditemukan bahwa zat kimia pembentuk kutikula luar dari larva lalat yang          keras hampir persis sama dengan zat pada larva semut. Dengan kata lain,          larva lalat juga dapat meniru kepompong semut secara kimiawi.</p>
<p>Analisis kimia membuktikan bahwa kejadian ini benar-benar          mimikri secara kimia. Bagaimana cara larva Microdon melakukan penyamaran          ini?</p>
<p><a name="58"></a>Pada bagian bawah tubuh larva terdapat  tonjolan besar yang belum diketahui fungsinya. Diduga tonjolan ini mengandung  kelenjar atau muara kelenjar yang mengeluarkan zat kimia yang digunakan larva  untuk menyamar menjadi inangnya.<a href="http://www.harunyahya.com/indo/buku/semut06.htm#dipnot">58</a></p>
<p>Bagaimana mungkin seekor makhluk yang bahkan tidak mengerti          &#8220;kimia&#8221; dapat melakukan penyamaran seperti ini? Selain itu, hanya larva          lalat Microdon yang memiliki sistem pertahanan seperti ini, sedangkan          serangga dewasa tidak memilikinya. Karena serangga dewasa tidak dapat          menyamar seperti halnya larva, tentunya penyamaran ini bukan sesuatu yang          merupakan hasil pemikiran mereka sendiri. Berarti larva memiliki kemampuan          ini sejak lahir.</p>
<p>Susunan kimiawi yang menyebabkan larva dapat menyamar sebagai          semut tidak mungkin terbentuk secara kebetulan di tubuh larva. Satu-satunya          kesimpulan yang dapat ditarik dari kejadian ini adalah bahwa larva lalat          Microdon telah memiliki kemampuan ini sejak menetas.</p>
<p align="left">Semut Pemakan Kayu dan Serangga Daun</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="3" width="134" align="right" bgcolor="#f0f0f0">
<tbody>
<tr>
<td width="132" height="97"><img src="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/46.jpg" alt="" width="132" height="200" /></p>
<p align="center"><span>Tidak diragukan  lagi, &#8220;penangkaran hewan&#8221; yang dibentuk semut adalah sebuah contoh simbiosis yang  sangat menarik di dunia serangga.</span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Sampai subbab ini, yang dijelaskan buku ini mengenai semut          sudah memberikan gambaran umum mengenai dunia semut. Akan tetapi, yang          tertulis ini baru sebagian contoh saja, karena banyak sekali spesies di          dunia semut yang dilengkapi dengan berbagai ciri-ciri yang tidak kita          ketahui. Salah satunya adalah &#8220;semut susu&#8221; atau juga dikenal sebagai semut          pemakan kayu.</p>
<p>Semut pemakan kayu ini memakan cairan daun yang diperolehnya          dari serangga daun, Aphid(*).</p>
<p>Kerjasama antara semut dan aphid merupakan salah satu contoh          simbiosis yang paling menarik dari dunia serangga.</p>
<table style="height:313px;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="3" width="175" align="left" bgcolor="#f0f0f0">
<tbody>
<tr>
<td height="311">
<div><img src="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/45a.jpg" alt="" width="170" height="107" /><br />
<span>Semut “Penangkar Hewan”. Selain sifat-sifatnya  yang menarik, semut ini juga “menangkarkan hewan”. Sebagaimana terlihat  dalam gambar, semut membentuk “koloni” aphid sendiri dan menggunakan  “koloni” ini untuk mendapatkan makanan. Sebagai balasan, mereka memelihara  “koloni” aphid, menjaganya serta melindunginya dari musuh. Tidak diragukan  lagi, “penangkaran hewan” yang dibentuk semut adalah sebuah contoh  simbiosis yang sangat menarik di dunia serangga.</span></div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><a name="59"></a>Aphid yang diletakkan pada daun oleh semut  menghisap cairan dari akar tumbuhan. Dalam tubuh aphid, cairan tumbuhan diubah  menjadi &#8220;nektar&#8221;. Semut menyukai nektar dan tahu bagaimana caranya agar aphid  memberikan makanan ini kepada mereka. Bila seekor semut mulai lapar, ia mendekati  aphid dan menepuk-nepuknya dengan sensor dan antenanya. Aphid sangat menyukai  hal ini sehingga mengeluarkan setetes nektar dan memberikannya kepada semut. Sebagai  balasan, semut melindugi dan memelihara aphid dengan baik.<a href="http://www.harunyahya.com/indo/buku/semut06.htm#dipnot">59</a></p>
<p>Pada musim gugur, semut mengumpulkan telur aphid dan menyim-pannya          di sarang mereka sampai telur-telur ini menetas. Kemudian, bayi aphid          diletakkan di akar tumbuhan, sehingga mereka dapat menghisap cairan tumbuhan          dan menyediakan nektar bagi semut.</p>
<p>Pertanyaannya adalah: Dari sekian ribu makhluk hidup di          dunia ini, bagaimana cara semut susu mengetahui sifat aphid? Kemudian          bagai-mana mungkin semut dapat memilih aphid dari begitu banyak pilihan          makhluk hidup lainnya? Tentu saja, tak mungkin kita menilai sebagai rantai          kebetulan hal berikut ini: cairan yang keluar dari tubuh aphid kebetulan          cocok dengan apa yang dibutuhkan semut. Semut juga tidak mungkin mengetahui          secara kebetulan bahwa aphid akan memberikan nektar jika semut menepuk-nepuknya.          Sekali lagi, pasangan ini di-rancang, selaras, dan karenanya jelas diciptakan.</p>
<p align="left">Tanaman yang Hidup Bersama Semut</p>
<p><a name="60"></a>Di dalam kantung tanaman kantong semar  yang hidup di sebelah India Timur, Nepenthes bicalcarata, hidup koloni semut.  Tanaman ini bentuknya seperti teko dan memangsa serangga yang menghinggapi-nya.  Meskipun demikian, semut bebas bergerak dan mengambil sisa-sisa serangga dan bahan  makanan lainnya dari tanaman ini.<a href="http://www.harunyahya.com/indo/buku/semut06.htm#dipnot">60</a></p>
<p><img src="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/48.jpg" alt="" width="129" height="200" align="right" />Kerja          sama ini menguntungkan kedua belah pihak, semut dan tumbuhan. Meskipun          semut mungkin saja dimakan Nepenthes, mereka dapat membangun sarang pada          tanaman ini. Tumbuhan juga menyisakan jaringan tertentu dan sisa-sisa          serangga untuk semut. Dan sebagai balasannya, semut melindungi tumbuhan          dari musuhnya.</p>
<p>Begitulah contoh simbiosis tanaman dan semut. Struktur anatomi          dan fisiologi semut dan tanaman inangnya telah dirancang sedemikian rupa          untuk memudahkan hubungan timbal balik antara keduanya. Meskipun para          pembela teori evolusi menyatakan bahwa hubungan antarspesies ini berkembang          secara berangsur-angsur selama jutaan tahun, tetapi tentu saja pernyataan          yang mengatakan bahwa dua makhluk yang tidak memiliki kecerdasan ini dapat          sepakat meren-canakan suatu sistem yang menguntungkan kedua belah pihak          tidak masuk akal.</p>
<p>Lalu, apa yang menyebabkan semut hidup pada tumbuhan?</p>
<p><a name="61"></a>Semut cenderung tinggal pada tumbuhan karena  adanya cairan ber-nama &#8220;nektar residu&#8221; yang dikeluarkan tumbuhan. Cairan nektar  ini merupakan daya tarik bagi semut untuk mendatangi tumbuhan. Banyak spesies  tumbuhan yang terbukti mengeluarkan cairan ini pada waktu-waktu tertentu. Misalnya,  pohon ceri hitam menghasilkan cairan ini hanya tiga minggu dalam setahun. Tentu  pengeluaran cairan pada waktu ini bukan kebetulan karena waktu tiga minggu ini  bertepatan dengan satu-satunya waktu sejenis ulat menyerang pohon ceri hitam.  Semut yang ter-tarik pada nektar dapat membunuh ulat ini serta melindungi tumbuhan.<a href="http://www.harunyahya.com/indo/buku/semut06.htm#dipnot">61</a></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="3" width="202" align="right" bgcolor="#f0f0f0">
<tbody>
<tr>
<td width="200" height="283">
<div><img src="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/47.jpg" alt="" width="200" height="151" /><br />
<span>Pada gambar di samping, kita dapat melihat tumbuhan kantong  semar sebagai “perangkap serangga”. Namun, serangga-serangga tertentu  lolos dari jebakan tumbuhan kantong semar. Misalnya, seperti ditunjukkan pada  halaman berikutnya, semut dapat hidup berdampingan dengan kantong semar. Secara  ajaib, tumbuhan ini tidak mempedulikan keberadaan semut.</span></div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Hanya dengan menggunakan akal sehat, kita dapat melihat bahwa          hal ini adalah bukti hasil penciptaan. Akal sehat tidak mungkin bisa menerima          bahwa pohon ini dapat memperhitungkan kapan bahaya akan menyerang lalu          memutuskan bahwa cara terbaik untuk melindungi dirinya adalah dengan cara          menarik semut serta mengubah struktur kimianya. Pohon ceri tidak punya          otak. Oleh karena itu, ia tidak dapat berpikir, memperhitungkan, maupun          mengubah komposisi kimianya. Bila kita menganggap bahwa prosedur yang          rasional ini adalah sebuah karakter yang diperoleh dari suatu kebetulan          yaitu dasar dari logika evolusi tentunya hal ini tidak masuk akal. Jelas          sekali bahwa pohon ini telah melakukan sesuatu yang didasarkan pada kecerdasan          dan ilmu pengetahuan.</p>
<p>Oleh karena itu, satu-satunya kesimpulan yang dapat kita          tarik adalah bahwa sifat tumbuhan ini telah terbentuk karena adanya sebuah          Kehendak yang telah menciptakannya. Bila kita merujuk pada segala bentuk          pengaturan yang dibuat-Nya, jelas sekali bahwa Dia tidak hanya berkuasa          atas pohon, tetapi juga atas semut dan ulat. Jika penelitian dilakukan          lebih jauh lagi, tentunya dapat diketahui bahwa Dia berkuasa atas semesta          alam dan telah mengatur setiap komponen alam secara terpisah namun serasi          dan selaras, sehingga membentuk sebuah sistem sempurna yang kita kenal          sebagai &#8220;keseimbangan ekologi&#8221;. Bila kita berpikir lebih jauh dan meneliti          bidang-bidang lain, seperti geologi dan astronomi, kita akan sampai pada          gambaran yang serupa. Ke mana pun kita melangkah, kita akan menyaksikan          berjuta sistem yang berfungsi dengan selaras dan teratur sempurna. Semua          sistem ini menunjukkan keberadaan Sang Pengatur. Meskipun demikian, tidak          satu pun kompo-nen pembentuk alam ini yang mampu berfungsi sebagai Sang          Pengatur itu.</p>
<blockquote>
<p align="justify"><span>&#8220;Maka apakah Dia yang menciptakan            itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa)? Maka mengapa            kamu tidak meng-ambil pelajaran?&#8221; (QS. An-Nahl, 16:17) !</span></p>
</blockquote>
<p>Oleh karena itu sang pengatur haruslah Dia Yang Maha Tahu          dan Mahakuasa atas alam semesta. Al Quran menggambarkan Sang Pengua-sa          sebagai berikut:</p>
<p>&#8220;Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang          Mem-bentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling Baik. Bertasbih          kepadanya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa          lagi Mahabijaksana.&#8221; (QS. Al-Hasyr, 59:24) !</p>
<p align="left">Pohon Akasia dan Semut</p>
<p>Pohon Akasia yang tumbuh di daerah tropis dan subtropis          di-lindungi oleh duri-duri. Suatu spesies semut yang hidup pada pohon          akasia Afrika membuat lubang dengan menggerogoti dinding duri dan hidup          secara permanen di dalam pohon akasia. Setiap koloni semut menghuni duri-duri          pada di lebih dari satu pohon atau lebih, serta memakan nektar daun akasia.          Koloni ini juga memakan ulat dan orga-nisme lain yang mereka temukan di          pohon.</p>
<p><a name="62"></a>Nektar batang akasia sangat kaya akan minyak  dan protein. Thomas Belt, yang pertama kali menyelidiki hal ini, menyatakan bahwa  keli-hatannya satu-satunya fungsi nektar adalah menyediakan nutrisi bagi semut.  Semut, yang hidup di pohon-pohon ini, mengambil gula dari nektar dan memberikannya  kepada larva mereka.<a href="http://www.harunyahya.com/indo/buku/semut06.htm#dipnot">62</a></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="3" width="220" align="right" bgcolor="#f0f0f0">
<tbody>
<tr>
<td>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="217" align="left">
<tbody>
<tr>
<td width="215"></td>
</tr>
<tr>
<td width="215"><img src="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/49a.jpg" alt="" vspace="2" width="215" height="119" /><img src="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/50a.jpg" alt="" vspace="2" width="215" height="115" /></td>
</tr>
<tr>
<td width="215" height="2">Simbiosis antara                      akasia dan semut mungkin merupakan salah satu contoh simbiosis                      yang paling menarik di dunia tumbuhan dan serangga.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="left">Apa yang diharapkan pohon dari semut sebagai<br />
&#8220;balas jasa&#8221;?</p>
<p><a name="63"></a>Semut pekerja yang berkerumun di permukaan  tumbuhan sangat agresif kepada serangga lainnya, dan juga pada hewan segala ukuran.  Kalau hewan lain menyentuh pohon yang mereka tinggali, mereka akan menyerang bersama-sama  dan menggigit dengan gigitan yang menya-kitkan. Selain itu, tumbuhan lain yang  berjarak kurang dari satu meter dari pohon akasia yang dihuni semut dibantai dan  diserang, kulit batang pohon diserang, serta ranting dan dahan yang menyentuh  pohon akasia juga dihancurkan.<a href="http://www.harunyahya.com/indo/buku/semut06.htm#dipnot">63</a></p>
<p><a name="64"></a>Telah dibuktikan bahwa pohon akasia yang  tidak didiami semut lebih mudah diserang dan dilukai oleh serangga lainnya, jika  diban-dingkan dengan pohon yang dihuni koloni semut. Dalam sebuah eksperimen diamati  bahwa tumbuhan liar yang tumbuh berdiameter 40 cm dari pohon akasia diserang oleh  semut, dimakan dan diinjak-injak sampai hancur. Semut juga bahkan menyerang dahan  dan daun tumbuh-an lain yang menyentuh bayangan pohon akasia. Seluruh koloni semut  sangat sigap ketika membersihkan dan mengawasi tumbuhan. Para ilmuwan sampai pada  kesim-pulan berikut: semut disewa oleh pohon akasia sebagai &#8220;tentara khusus&#8221;.<a href="http://www.harunyahya.com/indo/buku/semut06.htm#dipnot">64</a> Karena kedua belah pihak tidak mungkin bernegosiasi untuk mencapai keputusan tersebut,  keputusan ini pasti telah diambil oleh Dia yang menyebabkan kedua belah pihak  mencapai persetujuan.</p>
<p align="left">Hotel Semut</p>
<p><a name="65"></a>Pada sejumlah tumbuhan, terdapat lubang-lubang  dalam yang seca-ra biologi dikenal dengan nama &#8220;domatia&#8221;. Satu-satunya fungsi  domatia adalah sebagai tempat berlindung bagi koloni semut. Domatia memiliki lubang-lubang  yang bisa digunakan sebagai tempat keluar-masuknya semut, atau tirai jaringan  tipis. Dalam ruang-ruang ini juga terdapat &#8220;makanan jadi&#8221; (yaitu makanan yang  diproduksi pohon, khusus untuk dikumpulkan oleh semut serta dimakan). Satu-satunya  fungsi &#8220;makanan jadi&#8221; adalah untuk memberi makan semut, karena tampaknya makanan  ini sama sekali tidak dimanfaatkan oleh tumbuhan.<a href="http://www.harunyahya.com/indo/buku/semut06.htm#dipnot">65</a></p>
<p><img src="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/52.jpg" alt="" width="200" height="171" align="left" />Pendek          kata, domatia adalah sebuah struktur khusus yang dibentuk agar semut dapat          bertahan hidup. Suhu dan kelembapan domatia sangat ideal keseimbangannya          bagi semut. Semut hidup dengan nyaman di tempat istimewa ini yang seolah-olah          dibuat khusus bagi mereka ini, sebagaimana halnya hotel berkualitas dibuat          untuk kesenangan manusia.</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="3" width="211" align="right" bgcolor="#f0f0f0">
<tbody>
<tr>
<td height="83">
<div><img src="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/53.jpg" alt="" width="200" height="146" /><span><br />
Pada gambar di atas, seekor semut terlihat di permukaan tumbuhan yang menjadi  tempat persembunyiannya yang ideal. Lubang pada tanaman berfungsi sebagai “pintu”  bagi semut.</span></div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Tidak mungkin bagi kita untuk menyatakan bahwa struktur ini          terjadi secara kebetulan, dan bahwa tumbuhan memproduksi makanan bagi          semut secara kebetulan, serta melakukannya berdasarkan kebutuhan.</p>
<p>Kerja sama semut dan tumbuhan hanyalah salah satu bukti          dari keseimbangan yang menakjubkan yang dibuat oleh Sang Pencipta Yang          Maha Esa di dunia ini. Selain itu, hubungan ini juga timbal balik. Layanan          yang diberikan semut pada pohon dan layanan pohon pada semut, keduanya          merupakan faktor penting bagi tumbuh-tumbuhan di dunia ini. Semut meningkatkan          kadar karbon dalam tanah karena mereka menanaminya, menambahkan nutrisi          tanah dari kotoran dan sisa-sisa mereka, serta menjaga suhu dan kelembapan          lingkungannya pada kadar yang sesuai. Oleh karena itu, spesies tanaman          yang hidup berdekatan dengan sarang semut tumbuh lebih subur dibandingkan          yang hidup di tempat lain.</p>
<p align="left">Tanaman Penghasil Zat Kimia dan Semut Penghasil          Nitrogen</p>
<p>Suatu spesies semut, Philidris, dan tumbuhan inangnya, Dischidia          major, menghasilkan sejumlah zat kimia yang rumit sepanjang hidup mereka.</p>
<p>Tumbuhan ini tidak memiliki akar di bawah tanah. Oleh karena          itu, tumbuhan ini melilitkan dirinya pada tumbuhan lain agar dapat berdiri          tegak. Tumbuhan ini memiliki cara yang sangat menarik untuk mening-katkan          jumlah karbon dan nitrogen yang mereka dapatkan.</p>
<p><a name="66"></a>Semut memiliki tempat penyimpanan dalam  tumbuhan ini, tempat mereka memelihara larva dan menyembunyikan sampah-sampah  or-ganik mereka (seperti semut mati, potongan tubuh serangga, dan se-bagainya),  yang disebut &#8220;daun semut&#8221;. Tumbuhan menggunakan sam-pah-sampah ini sebagai sumber  nitrogen. Selain itu, permukaan-dalam dari ruang daun menyerap karbon dioksida  yang dihasilkan semut, sehingga mengurangi jumlah air yang menguap melalui pori-pori  daun.<a href="http://www.harunyahya.com/indo/buku/semut06.htm#dipnot">66</a> Pencegahan penguapan air ini sangat penting bagi  tumbuhan penghasil zat kimia yang hidup di daerah tropis ini, karena tumbuhan  ini tidak pernah dapat mendapatkan kebutuhan airnya langsung dari tanah karena  tidak memiliki akar. Oleh karena itu, semut menyediakan dua kebutuhan penting  tumbuhan sebagai balasan dari &#8220;kebaikannya&#8221; mem-berikan tempat berlindung pada  semut.</p>
<p align="left">Semut yang Memberi Makan Inangnya</p>
<p>Spesies semut tertentu memberi makan tumbuhan inangnya.          Sebagai contoh, tubuh tumbuhan Myrmecodia dan Hydnophytum, yang dipenuhi          benjolan memberikan ruang-ruang bersekat bagi semut untuk bersarang. Semut          yang hidup di lekukan-lekukan ini berbeda satu de-ngan yang lain. Ruang-ruang          yang dihuninya berdinding mulus. Mereka menyimpan sisa sampah serangga          di ruang lain, yang berdinding kasar. Riset membuktikan dinding yang kasar          menyerap nutrisi, sedangkan dinding mulus tidak berpori. Oleh karena itu,          tumbuhan menyerap sisa sampah serangga yang dibawa masuk oleh semut. Dengan          kata lain, semut telah memilih ruang-ruang yang tepat.</p>
<p><a name="67"></a>Para ilmuwan melakukan sebuah uji menarik.  Pertama-tama mereka memberi makan larva lalat buah dengan ragi (yeast) yang telah  diradiasi. Kemudian mereka meletakkan larva-larva ini pada tanaman yang dihuni  koloni semut. Ketika semut menemukan larva, mereka langsung memba-wanya ke ruang  berdinding kasar. Selama dua minggu selanjutnya, para ilmuwan mengamati level  radioaktif pada tumbuhan, untuk membukti-kan bahwa sampah sisa serangga didistribusikan  melalui saluran-salur-an dalam tubuh tumbuhan setelah diasimilasi. Para ilmuwan  membuk-tikan bahwa zat-zat radioaktif dibawa ke seluruh tumbuhan, karena tumbuhan  ini telah menyerap nutrisi yang tersedia.<a href="http://www.harunyahya.com/indo/buku/semut06.htm#dipnot">67</a></p>
<p align="left">Tumbuhan Piper dan Semut Coklat</p>
<p><a name="68"></a>Hubungan antara tumbuhan piper dan semut  mungkin paling menarik dibandingkan dengan contoh-contoh lain yang sudah kita  kaji sebelumnya. Tumbuhan bernama piper ini (sejenis tanaman mini dari famili  lada hitam) tumbuh di hutan tropis Amerika Tengah. Tumbuhan ini menyediakan makanan  dan tempat berlindung bagi semut coklat (Pheidole bicornis). Pada saat pohon piper  muda baru berdaun lengkap dua atau tiga buah, salah satu pangkal daunnya gelembung  kosong di antara cabang dan daun biasanya berisi ratu Pheidole. Ratu semut membentuk  koloni pada tunas tumbuhan piper dengan cara mengunyah pangkal daun dan membuat  lubang, serta bertelur di sana. Ketika telur-telurnya pertama kali menetas menjadi  larva, sang ratu dan anak-anaknya menempati salah satu pangkal daun. Ketika koloni  mulai ber-kembang, para semut pekerja secara bertahap membuat lubang pada jaringan  di bagian tengah tangkai daun, sehingga seluruh tanaman ber-ubah menjadi tempat  tinggal koloni semut.<a href="http://www.harunyahya.com/indo/buku/semut06.htm#dipnot">68</a></p>
<p><a name="69"></a>Tumbuhan ini juga merupakan sumber makanan  bagi semut. Per-mukaan dalam dari pangkal daun menghasilkan makanan satu-sel bagi  semut. Semut mencabut remah-remah yang kaya akan minyak dan protein dari dinding  pangkal daun, kemudian memberikannya pada larva mereka.<a href="http://www.harunyahya.com/indo/buku/semut06.htm#dipnot">69</a></p>
<p>Makanan bergizi ini mungkin tidak dapat ditemukan oleh semut          di tempat lain. Makanan ini disediakan secara khusus oleh piper. Semut-semut          ini berpindah ke pohon piper yang memberikan pelayanan terbaik, tempat          berlindung, dan makanan bagi mereka setiap tahunnya, serta membangun sarang          mereka di bagian tumbuhan yang paling sesuai bagi mereka.</p>
<p align="left">Piper yang &#8220;Cerdas&#8221;</p>
<p><a name="70"></a>Tumbuhan piper yang berfungsi sebagai sumber  makanan, juga me-miliki keistimewaan lainnya. Spesies tumbuhan lain tetap menghasilkan  makanan meskipun koloni semut telah meninggalkannya, sedangkan tumbuhan piper  hanya memproduksi makanan ketika koloni semut ma-sih menetap di pohon itu. Para  ilmuwan telah menyadari bahwa tumbuh-an berhenti memproduksi makanan ketika semut  coklat (Phedoles)<a href="http://www.harunyahya.com/indo/buku/semut06.htm#dipnot">70</a> tidak ada.</p>
<p align="left">Tolong-menolong</p>
<p>Perbuatan tumbuhan piper bukanlah pengorbanan sepihak. Selama          mereka hidup bersama, semut juga memproduksi nutrisi yang dibutuh-kan          oleh inangnya.</p>
<p>Ketika semut bergerombol pada batang tumbuhan yang membusuk,          semut dibawa jaringan tumbuhan bagian dalam yang lunak dalam bentuk ammonia          hidrat. Cairan ini sangat menguntungkan bagi tumbuhan, karena meningkatkan          efisiensinya. Selain itu, ketika anggota koloni semut bernapas, mereka          mengeluarkan karbon dioksida sehingga konsen-trasinya pada tumbuhan meningkat          dan pohon tumbuh lebih sehat.</p>
<p>Sejumlah penelitian telah dilakukan untuk memahami apakah          semut piper menyediakan makanan bagi tumbuhan inangnya. Terbukti bahwa          semut Pheidole membawa serta partikel-partikel tertentu seperti spora,          potongan rumput liar, dan serpihan kulit ngengat, ketika semut sedang          mencari makan. Semut menyimpan makanan yang mereka bawa dalam kantung          kecil tempat mereka memelihara larvanya, kemudian tumbuhan mengambil mineral          yang dibutuhkannya dari makanan ini.</p>
<p align="left">Pheidole Sang Pakar Strategi</p>
<p>Sifat semut Pheidole cukup ramah. Mereka bergerak perlahan-lahan          dan tidak pernah menyerang maupun menggigit. Akan tetapi, semut ini menggunakan          strategi licik untuk melindungi dirinya dan inangnya, pohon piper.</p>
<p><a name="71"></a>Kebanyakan serangga, seperti ulat yang  memakan dedaunan, ber-telur di atas pohon. Semut segera membuang sumber bahaya  ini. Telur rayap yang diletakkan pada daun tumbuhan piper dapat ditemukan oleh  semut pekerja dalam waktu satu jam. Kemudian para pekerja ini me-munguti telur  satu demi satu. Mereka membawa telur-telur ini ke tepi daun dengan dagu dan mejatuhkannya  ke bawah. Para ilmuwan men-coba meletakkan telur rayap di ruang larva semut, agar  larva memakan-nya. Tetapi hasilnya tetap sama, dan semut pekerja segera membuang  apa pun yang dapat membahayakan diri mereka dan inang mereka.<a href="http://www.harunyahya.com/indo/buku/semut06.htm#dipnot">71</a></p>
<p align="left">Aphid Penyerang</p>
<p>Makhluk lain yang membahayakan piper adalah aphid gandum          yang suka menyerang, Ambates melanobs. Aphid gandum menyerang sebagian          besar tumbuhan yang tidak ditinggali oleh koloni semut dan membunuh tumbuhan          ini dengan cara melubangi batang pohon dari dalam. Akan tetapi, penyerang          kecil ini tidak mungkin berhasil apabila tumbuhan dijaga oleh semut. Semut          menyerang larva aphid yang lunak dan tidak memiliki pertahanan tubuh ketika          mereka mulai melubangi bagian dalam batang. Semut yang bertugas menjaga          tumbuhan bertugas melawan segala jenis serangan serta melindungi keseimbangan          ekologi dengan kemampuan mereka ini.</p>
<p>Keharmonisan dalam kehidupan tumbuhan dan semut tidak mungkin          terjadi secara kebetulan. Gambaran yang kita dapatkan dari informasi yang          diberikan melalui seluruh bab ini menunjukkan pada kita spesies-spesies          yang berbeda satu sama lain, tetapi diciptakan untuk dapat bekerja sama          dengan baik.</p>
<p>Pada awal bab ini, kami telah memberikan contoh keharmonisan          seperti ini. Hubungan antara anak kunci dan gembok yang sesuai. Hanya          ada satu penjelasan dari keharmonisan yang terjadi antara dua obyek ini.          Gembok dan anak kunci dibuat oleh ahli yang sama, artinya keduanya memang          sengaja dibuat berkesesuaian. Dalam contoh kerjasama yang kita temui di          alam, logika yang sama juga berlaku. Semut dan tumbuhan bekerja sama karena          mereka adalah produk rancangan secara sadar. Semut tidak mempunyai kekuasaan          terhadap tumbuhan, demikian juga sebaliknya. Karena keduanya tidak mungkin          mengeluarkan gagasan, mereka hanya menjalani kehidupannya menurut ilham          yang diberikan oleh Penciptanya, sehingga mampu memelihara hubungan timbal          balik dalam kehidupan mereka.</p>
<p>Tugas bagi manusia adalah menyadari kekuasaan Sang Pencipta          dan Si Pemilik kekuasaan ini. Tetapi sayangnya begitu banyak manusia yang          tidak memikirkannya, bahkan tidak pula memedulikannya. Ayat di bawah ini          menyatakan dengan kalimat yang sebaik-baiknya mengenai penciptaan sempurna          yang dilakukan Allah dan kebutaan manusia dalam memandangnya:</p>
<p>&#8220;Hai Manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah          olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru se-lain Allah          sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka          bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari          mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat          lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah. Mereka          tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah benar-benar          Maha-kuat lagi Mahaperkasa.&#8221; (QS. Al-Hajj, 22:73-74) !</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/seranggakita.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/seranggakita.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/seranggakita.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/seranggakita.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/seranggakita.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/seranggakita.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/seranggakita.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/seranggakita.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/seranggakita.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/seranggakita.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/seranggakita.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/seranggakita.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/seranggakita.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/seranggakita.wordpress.com/63/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=seranggakita.wordpress.com&amp;blog=8822584&amp;post=63&amp;subd=seranggakita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://seranggakita.wordpress.com/2009/08/01/simbiosis-semut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/99e248df202ce5cf23eac26b4fb80b8c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">seranggakita</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/39a.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/39b.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/405.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/406.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/407.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/409.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/41.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/42.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/46.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/45a.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/48.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/47.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/49a.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/50a.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/52.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/53.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>SPESIES SEMUT</title>
		<link>http://seranggakita.wordpress.com/2009/08/01/spesies-semut/</link>
		<comments>http://seranggakita.wordpress.com/2009/08/01/spesies-semut/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Aug 2009 06:37:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>seranggakita</dc:creator>
				<category><![CDATA[semut]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://seranggakita.wordpress.com/2009/08/01/spesies-semut/</guid>
		<description><![CDATA[Meski tampak serupa, semut terbagi dalam banyak spesies berdasarkan gaya hidup dan ciri-ciri fisiknya. Makhluk hidup ini sebenarnya memiliki sekitar 8.800 spesies. Setiap spesies juga memiliki sifat yang patut dikagumi. Sekarang mari kita bahas beberapa spesies tersebut, gaya hidup dan ciri-cirinya. Semut Pemotong Daun Semut pemotong daun sedang bekerja. Ciri-ciri khusus semut pemotong daun, yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=seranggakita.wordpress.com&amp;blog=8822584&amp;post=62&amp;subd=seranggakita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Meski tampak serupa, semut terbagi dalam banyak spesies berdasarkan          gaya hidup dan ciri-ciri fisiknya. Makhluk hidup ini sebenarnya memiliki          sekitar 8.800 spesies. Setiap spesies juga memiliki sifat yang patut dikagumi.          Sekarang mari kita bahas beberapa spesies tersebut, gaya hidup dan ciri-cirinya.</p>
<p align="left">Semut Pemotong Daun</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="3" width="202" align="right" bgcolor="#f0f0f0">
<tbody>
<tr>
<td><span><img src="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/19.jpg" alt="" width="200" height="193" /><br />
Semut pemotong daun sedang bekerja.</span></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><a name="19"></a>Ciri-ciri khusus semut pemotong daun, yang  juga disebut &#8220;Atta&#8221;, adalah kebiasaan mereka membawa potongan daun yang mereka  potong di atas kepalanya. Semut ini bersembunyi di bawah daun, yang sangat besar  dibandingkan ukuran tubuh mereka. Daun ini mereka tahan dengan dagu yang terkatup  rapat. Oleh karena itu, perjalanan pulang semut pekerja setelah bekerja seharian  memberi pemandangan sangat menarik. Orang yang melihatnya akan merasa seolah lantai  hutan menjadi hidup dan berjalan. Di hutan hujan, pekerjaan mereka mengambil sekitar  15 persen produksi daun.<a href="http://www.harunyahya.com/indo/buku/semut05.htm#dipnot">19</a> Alasan mereka membawa potongan  daun tentu saja bukan untuk perlindungan dari matahari. Semut ini juga tidak memakan  potongan daun. Lalu, bagaimana mereka memanfaatkan begitu banyak daun?</p>
<p><a name="20"></a>Ternyata Atta menggunakan daun untuk memproduksi  jamur. Daun itu sendiri tidak dapat mereka makan karena di dalam tubuh mereka  tak ada enzim yang dapat mencerna selulosa dalam daun. Semut pekerja menumpuk  potongan daun setelah ia kunyah, dan ia simpan di ruang-ruang dalam sarang di  bawah tanah. Di ruangan ini mereka menanam jamur di atas daun. Dengan ini, mereka  memperoleh protein yang mereka butuhkan dari pucuk jamur.<a href="http://www.harunyahya.com/indo/buku/semut05.htm#dipnot">20</a></p>
<p><span style="font-family:Comic Sans MS;"><em><span style="color:#ff0000;"><span style="font-family:Comic Sans MS;"><span style="font-size:xx-small;"><img src="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/29a.jpg" alt="" width="283" height="204" align="left" /></span></span></span></em></span><a name="22"></a>Namun,  jika Atta disingkirkan, kebun itu biasanya mulai rusak dan segera tersaingi jamur  liar. Lalu, bagaimana Atta, yang membersihkan kebunnya hanya sebelum &#8220;penanaman&#8221;,  terlindung dari jamur liar? Cara menjaga kultur murni jamur tanpa harus selalu  disiangi tampaknya bergantung pada air liur yang dimasukkan semut ke dalam kompos  saat mereka mengunyah. Diduga air liur tersebut mengandung antibiotik yang menghambat  pertumbuhan jamur yang tak diinginkan. Air liur juga mungkin mengandung zat pendukung  pertumbuhan untuk jamur yang tepat.<a href="http://www.harunyahya.com/indo/buku/semut05.htm#dipnot">22 </a>Yang harus direnungkan  adalah: Bagaimana semut ini belajar membudidayakan jamur? Apakah mungkin, pada  suatu hari seekor semut kebetulan mengambil daun dengan mulutnya dan mengunyah-nya?  Lalu secara kebetulan lagi ia menempatkan cairan yang kini mirip bubur ini di  atas lapisan daun kering yang benar-benar secara kebetulan merupakan lahan yang  cocok? Dan semut lain membawa potongan jamur dan menanamnya di situ? Dan akhirnya  semut itu tahu di situ akan tumbuh sejenis makanan yang dapat mereka makan, sehingga  mereka mulai membersihkan kebun, membuang bahan yang tak perlu, dan me-manennya?  Lalu mereka menyampaikan proses ini kepada seluruh kolo-ni satu per satu? Selain  itu, mengapa mereka membawa semua daun itu ke sarang meskipun tak dapat mereka  makan?</p>
<p>Selanjutnya, bagaimana semut ini mampu menciptakan air liur          yang mereka gunakan saat mengunyah daun untuk memproduksi jamur? Kalaupun          misalnya mereka entah bagaimana dapat membentuk air liur ini, dengan informasi          apa mereka dapat memproduksi antibiotik dalam air liur mereka yang mencegah          terbentuknya jamur liar? Bukankah diperlukan pengetahuan ilmu kimia yang          signifikan untuk bisa mencapai proses seperti itu? Andaipun mereka memiliki          pengetahuan itu &#8211; yang mustahil terjadi &#8211; bagaimana mereka bisa mene-rapkannya          dan mem-buat air liur mereka memiliki ciri-ciri zat antibiotik ini?</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="3" width="580" align="center" bgcolor="#f0f0f0">
<tbody>
<tr>
<td height="316"><img src="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/28a.jpg" alt="" width="200" height="267" align="left" /><span>Akibat                simbiosis antara semut pemotong daun dan jamur, semut memperoleh                protein yang mereka butuhkan untuk gizi dari tunas jamur yang mereka                tanam di daun. Di atas terlihat kebun jamur yang dirawat semut. </span></p>
<p><a name="21"></a>1) Di dalam sarang, pekerja yang  lebih kecil memotong daun kecil-kecil.</p>
<p>2) Kasta berikut mengunyah potongan ini menjadi                pulp dan memupuknya dengan simpanan cairan feses yang kaya enzim.</p>
<p>3) Semut-semut lain menyediakan pasta daun subur                di atas lapisan daun kering di ruang baru.</p>
<p>4) Kasta lain mengangkut potongan jamur dari ruang                lama dan menanamnya dalam pasta daun. Potongan jamur dioleskan pada                pasta daun seperti lapisan gula kue.<br />
5) Kasta kerdil berkerumun  membersihkan dan menyiangi kebun, lalu memanen jamur untuk dimakan semut lain.<a href="http://www.harunyahya.com/indo/buku/semut05.htm#dipnot">21</a><a name="22."></a></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Jika kita pikirkan bagai-mana semut dapat mewujudkan peristiwa          mukjizat ini, akan muncul ratusan pertanyaan serupa, yang satu pun tak          ada jawabannya.</p>
<p>Di lain pihak, jika di-berikan satu penjelasan, semua pertanyaan          ini bisa dijawab. Semut telah di-rancang dan diprogram untuk mengerjakan          tugas yang mereka laksanakan. Peristiwa yang diamati tadi sudah cukup          untuk membuktikan bahwa semut dimunculkan, dengan mengetahui ilmu pertanian.          Pola perilaku kompleks seperti ini bukanlah fenomena yang bisa berkembang          bertahap seiring waktu. Pola-pola ini adalah hasil dari pengetahuan yang          komprehensif dan kecerdasan yang tinggi. Maka dari itu, klaim evolusionis          bahwa perilaku menguntungkan diseleksi seiring waktu dan organ yang diperlukan          berkembang melalui mutasi, kini tampak sama sekali tidak masuk akal. Tentu          hanya Allah yang memberikan pengetahuan ini kepada semut dari hari pertama,          dan Yang menciptakan mereka dengan segala segi yang menakjubkan ini. Allahlah          sang Pencipta. Berbagai keunikan semut Atta yang di atas memberikan suatu          gambaran yang akan sering kita temui di seluruh buku ini. Kita membicarakan          suatu makhluk hidup tanpa kemampuan berpikir, tetapi tetap saja dapat          menyelesaikan tugas besar yang memperlihatkan adanya kecerdasan tinggi.          Hal ini tak terbayangkan oleh manusia.</p>
<p align="left">Lalu, apa arti semua ini?</p>
<p>Jawabannya hanya satu dan sederhana: Jika hewan ini tidak          memi-liki kemampuan berpikir untuk memungkinkannya melakukan apa yang          ia lakukan, berarti ada kecerdasan, ada Kebijakan sosok lain. Sang Pencipta,          yang menciptakan semut, menjadikan pula hewan ini mampu melakukan hal-hal          di luar kapasitasnya sendiri. Demikianlah Dia me-nunjukkan keberadaan-Nya          dan keunggulan dalam ciptaan-Nya. Semut bertindak menurut ilham Allah          dan kecerdasan yang ditampilkan sebenarnya adalah kearifan Allah.</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="3" width="333" align="center" bgcolor="#f0f0f0">
<tbody>
<tr>
<td width="323" height="209"><span><img src="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/26.jpg" alt="" width="130" height="200" align="left" /><img src="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/20.jpg" alt="" width="170" height="159" align="left" /></span></p>
<p align="center">
<p><span></p>
<p>Dalam  gambar di bawah, seekor Atta, ditemani penjaganya yang berukuran kecil, membawa  selembar daun.</span></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Sebenarnya, hal serupa terlihat di seluruh dunia hewan.          Kita ber-temu berbagai makhluk yang menampilkan kecerdasan yang sangat          tinggi meskipun mereka tak memiliki pikiran yang mandiri atau kapa-sitas          nalar. Semut adalah salah satu hewan yang paling mencolok dan seperti          hewan lain, sebenarnya bertindak sesuai dengan program yang diberikan          oleh Kehendak yang melatihnya. Ini mencerminkan kearifan dan kekuasaan          si Pemilik Kehendak, yakni Allah.</p>
<p>Sekarang mari kita lanjutkan meninjau keterampilan unggul          semut, yang memiliki pengetahuan dasar.</p>
<p align="left">Metode Pertahanan Atta yang Menarik</p>
<p>Pekerja berukuran sedang dari koloni semut pemotong daun          melewatkan hampir seluruh hari mereka membawa daun. Mereka jadi sulit          membela diri selama kegiatan ini, karena mereka memegang daun dengan dagu          yang biasa mereka gunakan untuk membela diri. Jadi, jika mereka tak mampu          membela diri, siapa yang melindungi mereka?</p>
<p>Telah diamati bahwa semut pekerja pemotong daun selalu berjalan          ditemani pekerja yang berukuran lebih kecil. Pada mulanya ini diper-kirakan          hanya kebetulan. Lalu, alasan di balik hal ini diteliti dan temuan-nya,          yang merupakan hasil analisis yang panjang, adalah contoh kerja sama yang          menakjubkan.</p>
<p><a name="23"></a>Semut berukuran sedang, yang bertu-gas  membawa daun, menggunakan sis-tem pertahanan yang menarik untuk melawan jenis  lalat musuh. Lalat musuh ini memilih tempat khusus untuk berte-lur pada kepala  se-mut. Tempayak yang menetas dari telur ini akan mema-kan kepala semut, dan pada  akhirnya memenggalnya. Tanpa asistennya yang kecil, semut pekerja tak berdaya  melawan spesies lalat yang selalu siap menyerang ini. Dalam keadaan normal, semut  mampu mengusir lalat yang mencoba mendarat di tubuh mereka dengan rahang setajam  gunting. Namun, ia tak dapat melaku-kannya selagi membawa daun. Oleh karena itu,  ia menaruh semut lain pada daun yang dibawanya untuk membelanya. Jika diserang,  para penjaga kecil ini bertarung melawan musuh.<a href="http://www.harunyahya.com/indo/buku/semut05.htm#dipnot">23</a></p>
<p align="left">Jalan Raya Atta</p>
<p>Jalan yang digunakan Atta, saat membawa pulang daun yang          me-reka potong, mirip jalan raya mini. Semut yang merayap perlahan di          jalan ini mengumpulkan semua ranting, kerikil kecil, rumput, dan tumbuhan          liar dan menyingkirkannya ke satu sisi. Dengan demikian, mereka membuat          jalan bersih bagi mereka sendiri. Setelah lama bekerja secara intensif,          jalan raya ini menjadi lurus dan mulus, seolah dibangun dengan alat khusus.</p>
<table style="height:184px;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="3" width="202" align="left" bgcolor="#f0f0f0">
<tbody>
<tr>
<td width="215" height="182">
<p align="center"><img src="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/23.jpg" alt="" width="200" height="71" /> <span>Selagi membawa daun yang mereka potong, Atta membersihkan  jalan yang mereka gunakan dari segala macam potongan ranting, kerikil, dan sisa  rumput. Jadi, mereka menyiapkan semacam “jalan raya” bagi diri mereka  sendiri. </span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><a name="24"></a>Koloni Atta terdiri atas pekerja sebesar  butir pasir, prajurit yang beberapa kali lipat lebih besar, dan &#8220;pelari maraton&#8221;  berukuran sedang. Pelari maraton ini berlari membawa potongan daun ke sarang.  Semut-semut ini begitu rajin sehingga, dengan ukuran manusia, setiap pekerja bagaikan  orang yang berlari menempuh jarak satu mil per empat menit sepanjang 50 km, sambil  memanggul 227 kg di bahunya.<a href="http://www.harunyahya.com/indo/buku/semut05.htm#dipnot">24</a></p>
<p><a name="25"></a>Dalam sarang Atta, ada ruang-ruang sebesar  kepalan tangan sedalam hingga 6 meter. Pekerja mini bisa memindahkan sekitar 40  ton tanah saat menggali sejumlah besar ruangan dalam sarang mereka yang besar.<a href="http://www.harunyahya.com/indo/buku/semut05.htm#dipnot">25</a> Pembangunan sarang selama beberapa tahun oleh semut ini memiliki tingkat kesulitan  dan standar profesionalisme tinggi yang setara dengan pembangunan Tembok Besar  Cina oleh manusia.</p>
<p>Inilah bukti bahwa Atta tidak bisa dipandang sebagai makhluk          seder-hana yang biasa. Semut, pekerja sangat keras, mampu merampungkan          tugas rumit yang sulit dilakukan manusia. Sesungguhnya satu-satunya Pemilik          kekuasaan yang bisa memberi mereka keterampilan seperti ini adalah Allah.          Sungguh tidak logis jika kita mengatakan bahwa mereka memperoleh semua          keterampilan ini sendiri dan dengan kemauan sendiri.</p>
<p align="left">Teknik Semut Atta Memotong Daun</p>
<p><span><img src="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/kolaj4.jpg" alt="" width="298" height="358" align="right" /></span><a name="26"></a>Saat  semut memotong daun dengan mandibula (rahang), seluruh tubuhnya bergetar. Para  ilmuwan mengamati bahwa getaran ini mem-buat daun diam, sehingga memudahkan pemotong-an.  Pada saat yang sama, bunyi ini dapat menarik perhatian para pekerja lain &#8211; semuanya  betina &#8211; ke tempat tersebut untuk me-nyelesaikan memotong seluruh daun.<a href="http://www.harunyahya.com/indo/buku/semut05.htm#dipnot">26</a> Si semut menggosokkan dua organ kecil pada perutnya untuk menghasilkan getaran  ini, yang bisa didengar manu-sia sebagai bunyi yang sangat lirih. Getaran ini  di-kirim melalui tubuh hingga mencapai mandibula se-mut yang mirip arit. Dengan  menggetarkan bokongnya secara cepat, semut ini memotong daun berbentuk sabit dengan  menggetarkan mandibula, mirip dengan pisau listrik.</p>
<p>Teknik ini memudahkan pemotongan daun. Namun, diketahui          bahwa getaran ini juga memiliki tujuan lain. Seekor semut yang memotong          daun akan menarik semut lain ke tempat yang sama karena banyak tumbuhan          lain di daerah tempat tinggal Atta beracun. Karena menguji setiap daun          oleh masing-masing semut merupakan prosedur yang berisiko tinggi, mereka          selalu pergi ke tempat di mana semut lain telah berhasil merampungkan          tugas mereka.</p>
<p align="left">Semut Penenun</p>
<p>Semut penganyam hidup di pohon, membangun sarang dari daun.          Dengan mengombinasikan daun, mereka mampu membentuk satu sarang di beberapa          pohon, sehingga bisa mendukung populasi yang jauh lebih besar.</p>
<p><a name="27"></a>Tahap-tahap pembangunannya menarik. Pertama,  pekerja mencari sendiri-sendiri lokasi di wilayah koloni yang cocok untuk perluasan.  Kalau menemukan batang yang cocok, mereka menyebar ke dedaunan batang tersebut  dan menarik dedaunan itu dari samping. Setelah berhasil membengkokkan sebagian  daun, para pekerja di dekatnya bergerak menghampiri dan menarik daun itu bersama-sama.  Jika daunnya lebih lebar daripada ukuran semut, atau jika perlu menarik dua daun  sekaligus, para pekerja membentuk jembatan hidup di antara dua titik yang akan  disatukan. Setelah itu, sebagian semut dalam rantai ini menaiki pung-gung semut  di sebelahnya, sehingga memendekkan rantai, dan ujung-ujung daun pun disatukan.  Ketika daun sudah berbentuk tenda, sebagian semut terus memegang daun dengan kaki  dan rahang, sementara yang lain kembali ke sarang lama dan membawa ke situ larva  yang dibesarkan secara khusus. Para pekerja menggosokkan larva maju-mundur pada  penyatuan daun, dengan menggunakan larva sebagai sumber sutra. Dengan sutra yang  disekresikan dari lubang di bawah mulut larva, daun-daun pun menempel di tempat  yang diperlukan. Artinya, larva diguna-kan sebagai mesin jahit.<a href="http://www.harunyahya.com/indo/buku/semut05.htm#dipnot">27</a></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="3" width="500" align="center" bgcolor="#f0f0f0">
<tbody>
<tr>
<td width="190"><img src="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/27c.jpg" alt="" width="190" height="143" /></td>
<td width="190"><img src="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/27b.jpg" alt="" width="190" height="143" /></td>
<td width="153"><img src="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/27.jpg" alt="" width="153" height="143" /></td>
</tr>
<tr>
<td colspan="3" height="37">Fase-fase pembangunan sarang              oleh semut penenun… Dalam fase pertama, si semut memilih daun              yang tepat pada pohon yang mereka ingin jadikan tempat membangun sarang,              dan menyatukannya dengan menarik dari dua sisi. Kemudian, mereka membawa              larva produsen sutra, seperti yang ditunjukkan di bawah, dan menjahit              daunnya menjadi satu dengan menggunakan larva tersebut sebagai mesin              jahit.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="3" width="192" align="right" bgcolor="#f0f0f0">
<tbody>
<tr>
<td height="138">
<div><img src="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/28.jpg" alt="" width="190" height="175" /><br />
<span>Sarang daun yang disiapkan untuk memenuhi semua persyaratan.</span></div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><a name="28"></a>Larva ini, yang dibesarkan untuk tali sutranya,  memiliki kelenjar sutra yang lebih besar dari rata-rata, tetapi mudah dibawa karena  ukuran-nya lebih kecil. Larva ini memberikan semua sutranya untuk kebutuhan koloni,  alih-alih menggunakannya sendiri. Alih-alih memproduksi sutra perlahan-lahan dari  kelenjar sutra tersebut, mereka menyekresi sutra da-lam jumlah besar pada satu  saat tertentu, dan bahkan tidak membangun kepompong sendiri. Selama sisa hidupnya,  semut pekerja akan melaku-kan apa-apa yang biasa dilakukan larva untuk mereka.  Kenyataannya, larva ini hidup hanya sebagai &#8220;produsen sutra&#8221;.<a href="http://www.harunyahya.com/indo/buku/semut05.htm#dipnot">28</a></p>
<p>Bagaimana semut dapat mengembangkan kerja sama seperti ini          tak bisa dijelaskan oleh para ilmuwan. Hal lain yang tak dapat dijelaskan          adalah bagaimana perilaku ini pertama kali muncul selama masa evolusi          yang diduga orang. Prinsip-prinsip dasar evolusi tidak akan dapat men-jelaskan          bagaimana hal-hal yang begitu canggih dan bermanfaat seperti halnya fenomena          sayap serangga, mata vertebrata, dan mukjizat biologis lainnya bisa berkembang          melalui evolusi dari makhluk hidup pertama. Ini merupakan jalan buntu          bagi para pembela evolusi.</p>
<p><img src="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/27a.jpg" alt="" width="225" height="124" align="left" />Tentu          saja tidak logis kalau kita mengatakan bahwa pada suatu hari para larva          berkumpul dan berkata, &#8220;Sebagian di antara kita harus memproduksi sutra          untuk memenuhi kebutuhan seluruh koloni, jadi mari kita sesuaikan berat          dan kelenjar sutra kita untuk itu.&#8221; Teori seperti ini tentu bukan teori          yang cerdas. Oleh karena itu, kita harus mengakui bahwa larva itu diciptakan          dengan mengetahui apa yang harus dilakukan. Dengan kata lain, Allah, yang          menciptakan larva ini, membentuk mereka sedemikian sehingga mereka cocok          untuk tugas mereka.</p>
<p align="left">Semut Pemanen</p>
<p>Sebagian semut, seperti yang telah disebutkan, adalah &#8220;petani&#8221;          kawakan. Di antaranya bisa disebut semut pemanen, selain Atta yang kita          bahas sebelumnya.</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="3" width="347" align="center" bgcolor="#f0f0f0">
<tbody>
<tr>
<td height="262">
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="3" width="345" align="center" bgcolor="#f0f0f0">
<tbody>
<tr>
<td width="35%"><img src="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/29.jpg" alt="" width="142" height="170" /></td>
<td width="65%"><img src="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/30.jpg" alt="" width="200" height="170" /></td>
</tr>
<tr>
<td width="35%" height="2">Semut pemanen membawa benih berkarbohidrat                    ke ruangan khusus dan mengubahnya menjadi bentuk yang digunakan                    sebagai gizi bagi pekerja.</td>
<td width="65%" height="2">Di ruang-ruang dalam gambar di atas,                    benih yang akan digunakan pada musim kemarau disimpan oleh semut                    panen.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Mekanisme pemberian makan di antara semut pemanen ini cukup          canggih dan rumit, jika dibandingkan dengan mekanisme pemberian makan          jenis semut lain. Mereka mengumpulkan benih dan menyim-pannya dalam ruangan          yang disiapkan secara khusus. Benih-benih ini, yang mengandung karbohidrat,          digunakan untuk memproduksi gula yang akan memberi makan larva dan pekerja          lain. Sementara banyak semut menggunakan benih dan biji sebagai makanan,          hanya semut pemanen yang memiliki sistem yang berdasarkan pada pengumpulan          dan pemrosesan benih.</p>
<p><a name="29"></a>Semut ini mengumpulkan benih pada musim  tumbuh dan menyim-pannya untuk digunakan pada musim kemarau. Di ruangan khusus  dalam sarang, mereka menyortir benih dari benda-benda lain yang keliru dibawa  pulang. Beberapa kelompok semut tinggal dalam sarang jam demi jam, mengunyah isi  benih sehingga menghasilkan sesuatu yang disebut roti semut. Dulu diduga bahwa  semut menggunakan proses, yang di-pelajari melalui pengalaman, untuk mengubah  karbohidrat benih menjadi gula yang akan mereka makan. Kini diketahui bahwa air  liur melimpah yang mereka sekresikan selagi mengunyah inilah yang melaksanakan  pengubahan ini.<a href="http://www.harunyahya.com/indo/buku/semut05.htm#dipnot">29</a></p>
<p>Semut yang kita bahas di sini tentu saja belum pernah dididik          tentang ilmu kimia. Mereka pun tak mungkin tahu bahwa air liur mereka          akan mengubah benih yang mereka kumpulkan secara acak menjadi gula yang          dapat mereka makan. Namun, kehidupan semut ini bergantung pada serangkaian          perubahan kimiawi yang tak mereka ketahui dan tak mungkin bisa mereka          ketahui. Kalau manusia pun tidak tahu proses perubahan yang terjadi dalam          tubuh semut ini &#8211; dan baru memahami perinciannya dalam beberapa tahun          terakhir &#8211; bagaimana semut bisa makan melalui metode ini selama beribu-ribu          tahun?</p>
<p align="left">Semut Madu</p>
<p><img src="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/31d.jpg" alt="" width="200" height="172" align="left" />Banyak          jenis semut yang diberi makan de-ngan buangan pencerna-an aphid (serangga          daun) yang disebut &#8220;madu&#8221;. Zat ini sebenarnya tidak berkaitan dengan madu          biasa. Akan tetapi, bu-angan pencernaan kutu ini &#8211; yang memakan getah          tumbuhan &#8211; dina-mai demikian karena mengandung gula dalam kadar tinggi.          Jadi, para pekerja spesies ini, disebut semut madu, mengumpulkan madu          dari kutu, biji (coccidae), dan bunga. Metode semut mengumpulkan dari          kutu sangat menarik. Si semut mendekati kutu dan mulai mendorong perutnya.          Kutu memberikan setetes buangan kepada semut. Semut mulai mendorong perut          kutu lagi untuk mendapat madu lebih banyak, lalu menyedot cairan yang          keluar. Lalu bagaimana mereka memanfaatkan makanan bergula ini, dan apa          manfaat makanan ini bagi mereka kemudian?</p>
<p>Ada pembagian kerja yang hebat di antara semut madu pada          fase ini. Sebagian semut digunakan sebagai &#8220;guci&#8221; untuk menampung nektar          yang dikumpulkan para pekerja lain!…</p>
<p><img src="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/31b.jpg" alt="" width="142" height="200" align="right" /><a name="30"></a>Dalam  setiap sarang terdapat satu ratu, para pekerja, dan juga para penampung madu.  Koloni semut jenis ini biasanya terletak di dekat pohon ek kerdil, yang dapat  diambil nektarnya oleh para pekerja. Pekerja menelan nektar itu dan membawanya  ke sarang. Nektar itu lalu ia keluarkan dari mulutnya dan ia tuangkan ke mulut  pekerja muda yang akan menampung madu ini. Pekerja muda ini, yang dinamai pot  madu, menggunakan tubuh mereka sendiri untuk menyimpan makanan cair manis yang  sering diperlukan koloni untuk melewati masa sulit di gurun pasir. Mereka diberi  makanan hingga membengkak sampai sebesar bluberi. Lalu mereka bergantungan di  langit-langit ruangan seperti bola kuning, sampai mereka dipanggil untuk memuntahkan  nektar itu untuk saudaranya yang lapar.<a href="http://www.harunyahya.com/indo/buku/semut05.htm#dipnot">30</a> Selagi menempel  pada langit-langit, mereka mirip dengan kelompok anggur kecil dan tembus cahaya.  Jika mereka jatuh, para pekerja langsung mengem-balikannya ke posisi semula. Madu  dalam pot madu beratnya hampir 8 kali lipat berat si semut.</p>
<p><img src="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/31c.jpg" alt="" width="176" height="107" align="left" />Pada          musim dingin atau musim kemarau, pekerja-biasa mengunjungi pot madu untuk          memenuhi kebutuhan makanan sehari-hari. Semut pekerja menempelkan mulutnya          pada mulut si &#8220;pot&#8221;, yang mengeluarkan setetes madu dari tempat penyimpanannya          de-ngan mengerutkan otot. Pekerja memakan madu yang bernilai gizi tinggi          ini sebagai makanan pada musim sulit.</p>
<p>Sungguh menarik dan menakjub-kan bahwa ada makhluk hidup  yang berat tubuhnya mencapai 8 kali lipat beratnya sendiri, setelah memutuskan  untuk menjadi pot madu, dan mampu hidup bergantung pada kakinya tanpa cedera.  Mengapa mereka merasa perlu menerima tugas yang begitu sulit dan berbahaya? Apakah  mereka memikir-kan sendiri teknik penyimpanan yang unik ini, dan mengendalikan  perkembangan tubuh mereka sesuai dengan itu? Pikirkan saja, semen-tara manusia  tak bisa mengendalikan perkembangan sekecil apa pun pada tubuhnya, bagaimana bisa  semut, yang tak memiliki otak dalam arti sebenarnya, melakukan ini sendiri?</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="3" width="204" align="right" bgcolor="#f0f0f0">
<tbody>
<tr>
<td width="200" height="197">
<div><img src="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/33.jpg" alt="" width="200" height="125" /><br />
<span>Seperti yang diperlihatkan pada gambar di atas, pot madu  yang telah membengkak karena menyimpan makanan ini bentuknya mirip seperti anggur.</span></div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Semut madu menampilkan perilaku yang tak dapat dijelaskan          teori evolusi. Sangat tidak masuk akal mempertahankan bahwa mereka mengembangkan          metode penyimpanan madu dan organ yang dibutuh-kannya secara kebetulan.          Malah, dalam sumber-sumber ilmiah, kita ba-nyak menemukan pernyataan realistis          mengenai hal ini dan topik-topik serupa. Misalnya saja, ambil penjelasan          Prof. Etienne Rabaud, Direktur Institut Biologi dari Universitas Paris:</p>
<blockquote><p><a name="31"></a>Contoh-contoh ini (misalnya  semut madu) menunjukkan dengan jelas bahwa tidak mungkin berbagai organ berkembang  untuk melaksanakan fungsi-fungsi tertentu makhluk hidup, meskipun wujud mereka  sebelumnya telah menimbulkan perilaku dan tugas tertentu yang dilaksanakan dan  kadang tidak. Ini menunjukkan bahwa organ tidak berkembang dari penyesuaian diri  makhluk hidup dengan kondisi hidupnya. Sebaliknya, kondisi hidup muncul dari wujud  semula organ tersebut dan dari fungsi-fungsi yang telah kita lihat. Pertanyaan  berikut bisa ditanyakan seperti pernah ditanyakan Darwin: Apakah peristiwa membersihkan,  menyiangi individu yang sudah tak mampu hidup, atau adaptasi organ menuruti kondisi  baru, terjadi dalam evolusi ini? Menurut kami, peristiwa itu mem-buktikan bahwa  evolusi seperti ini, atau perubahan seperti ini, tidak terjadi. Malah, yang terjadi  adalah fenomena yang sama sekali berbeda.<a href="http://www.harunyahya.com/indo/buku/semut05.htm#dipnot">31</a></p></blockquote>
<p>Penjelasan Profesor Rabaud ini menunjukkan dengan jelas          kesim-pulan yang dapat dicapai oleh siapa saja yang berpikir dengan hati          nuraninya sejenak. Satu-satunya Pencipta yang merupakan sumber sejati          pengetahuan dan kecerdasan telah menciptakan segala makhluk hidup dengan          organ dan perilaku yang sempurna. Kebenaran ini telah di-ungkapkan dalam          Al Quran sebagai berikut:</p>
<p>&#8220;Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang          Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling Baik. Bertasbih kepada-Nya          apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.&#8221;          (QS. Al Hasyr, 59: 24) !</p>
<p align="left">Semut Kayu</p>
<p><a name="32"></a>Semut kayu terkenal dengan bukit yang mereka  bangun dari daun cemara dan cabang tipis di atas sarang bawah tanah mereka. Sarang  ini biasanya ditemukan di sekitar batang pohon. Bagian sarang yang di atas tanah,  terbuat dari ranting, tangkai daun, dan daun cemara, adalah atap sarang. Atap  ini, yang mencapai dua tinggi meter, mencegah peresapan air hujan ke dalam dan  mengatur suhu sarang dalam cuaca yang sangat panas atau sangat dingin.<a href="http://www.harunyahya.com/indo/buku/semut05.htm#dipnot">32</a></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="3" width="205" align="left" bgcolor="#f0f0f0">
<tbody>
<tr>
<td width="200" height="208">
<div><img src="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/34.jpg" alt="" width="200" height="136" /><br />
<span>Dalam gambar ditunjukkan sebuah sarang semut kayu. Tinggi  sarang yang dibangun semut kayu dari daun cemara dan ranting dapat mencapai kira-kira  dua meter.</span></div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Semut kayu, seperti semut lain, juga rajin bekerja. Mereka          selalu saja menghias ulang sarang. Mereka memindahkan lapisan permukaan          semula ke lapisan bawah secara bertahap dan mereka menaikkan material          dari lapisan bawah untuk mengganti lapisan atas. Ada pengamatan menarik          tentang perubahan yang dibuat semut pada sarang. Cat biru disemprotkan          ke puncak bukit sarang dan empat hari kemudian diamati bahwa puncak bukit          sudah kembali coklat. Partikel biru ditemukan 8-10 cm di bawah permukaan.          Dalam sebulan partikel ini turun hingga kedalaman 40 cm. Selanjutnya,          partikel ini mencapai lagi permukaan.</p>
<p>Nah, apakah semut melakukan proses pemindahan sinambung          ini hanya untuk iseng? Tidak. Para peneliti menjelaskan mengapa semut          kayu melakukan tindakan terus-menerus ini: Gerakan terus-menerus ini mengeringkan          zat lembap di dalam lapisan permukaan dan mencegah terbentuknya jamur.          Kalau tidak, sarang semut ini akan dihuni jamur yang berbahaya.</p>
<p>Dalam situasi seperti ini ada dua kemungkinan. Salah satunya          adalah zaman dulu sekali, dengan penelitian sendiri, semut menemukan fakta          bahwa jamur berkembang dalam lingkungan lembap (sesuatu yang ditemukan          manusia sebagai hasil penelitian ilmiah jangka panjang), dan mengembangkan          metode paling rasional untuk melenyapkan masalah ini! Kemungkinan lain          adalah pemikiran dan penerapan proses yang sempurna ini hanya mungkin          melalui ilham oleh kecerdasan yang lebih tinggi. Kasus pertama jelas mustahil.          Dia yang telah mengilhami semut untuk melindungi diri mereka dari jamur          dan menunjukkan caranya tentu saja adalah Allah yang Mahakuasa.</p>
<p align="left">Pelbagai Metode Reproduksi Semut Kayu</p>
<p>Para pejantan dan ratu semut kayu bersayap. Namun, mereka  tidak melakukan penerbangan kawin seperti spesies semut kecil lain. Perkawinan  dilakukan di permukaan sarang atau tempat lain yang dekat. Setelah kawin, ratu  mencabut sayapnya dan melakukan salah satu dari tiga hal berikut:</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="3" width="202" align="right" bgcolor="#f0f0f0">
<tbody>
<tr>
<td width="544" height="315"><img src="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/35.jpg" alt="" width="200" height="156" />Semut kayu dipersenjatai dengan baik untuk perang.                Saat berhadapan dengan bahaya, semut kayu membengkokkan bagian bawah                perutnya dari antara kakinya dan menyemprotkan asam format kepada                musuhnya. Atau, saat bertarung, ia menggigit musuhnya dengan dagunya                yang tajam dan menyuntikkan asam dalam luka tersebut. Dengan keunikan                ini, hewan ini bertindak seperti senjata kimiawi.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><a name="33"></a>(1) Ia kembali ke sarang tempatnya semula  hidup sebagai larva dan meninggalkan telurnya di sana.</p>
<p>(2) Kadang ia meninggalkan sarang dengan diangkut para pekerja,          mencari tempat baru untuk membangun sarang.</p>
<p>(3) Jika pergi sendiri, ia memasuki sarang semut lebih kecil  dari spesies yang berhubungan, misalnya semut hitam Formica Fusca, dan menggantikan  ratu di sana. Ratu meninggalkan telurnya untuk dirawat para pekerja F. Fusca di  sana. Untuk beberapa lama, di sarang terdapat pekerja tamu dan pekerja tuan rumah.  Namun, karena tuan rumah tak punya ratu, lambat laun para pekerjanya mati dan  ratu kayu memperoleh sarang jadi tanpa perlu melakukan apa-apa.<a href="http://www.harunyahya.com/indo/buku/semut05.htm#dipnot">33</a></p>
<p>Dalam taktik semut kayu ratu yang dibahas pada bagian 3,          diamati adanya kesadaran yang jernih. Namun, jelas kesadaran itu tak mungkin          dimiliki semut itu sendiri. Semut ratu belum pernah melihat tempat lain          selain beberapa meter persegi dalam sarangnya. Dia masuk ke dalam koloni          yang belum pernah ia lihat atau ketahui sebelumnya, dan ia tahu siapa          yang harus ia singkirkan dalam koloni tersebut. Ia melakukan hal ini dengan          mengatasi segala rintangan. Semua faktor ini membuktikan tanpa ragu lagi          bahwa semut ratu ini bertindak menuruti ilham. Fenomena yang disebut di          atas adalah bukti jelas akan kekuasaan dan kekuatan Allah atas segala          makhluk hidup.</p>
<p align="left">Semut Legiun</p>
<p>Salah satu hewan yang paling ditakuti di hutan adalah semut          legiun. Komunitas semut ini dinamai &#8220;pasukan&#8221; karena tindakan mereka me-miliki          disiplin militer sejati.</p>
<p>Semut legiun adalah hewan karnivora. Mereka melahap segala          sesuatu yang terlihat. Setiap semut panjangnya 6-12 milimeter, tetapi          jumlah mereka yang besar dan disiplin mereka mengimbangi keku-rangan mereka          dari segi ukuran.</p>
<p><a name="34"></a>Sinar matahari langsung dapat membunuh  semut legiun dalam wak-tu singkat. Oleh karena itu, mereka berjalan di malam hari  atau dalam bayang-bayang. Karena peka cahaya, mereka menggali terowongan pan-jang  saat bergerak maju. Sebagian besar semut berlari dalam terowongan ini tanpa keluar.  Hal ini tidak mengurangi kecepatan mereka, karena mereka dapat menggali terowongan  sangat cepat dengan rahang mereka yang kuat. Karenanya, mereka lari secara cepat  dan rahasia. Semut legiun bergerak sebagai pasukan yang sangat besar, melintasi  segala hambatan kecuali api dan air, meskipun mereka buta sama sekali.<a href="http://www.harunyahya.com/indo/buku/semut05.htm#dipnot">34</a></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="3" width="172" align="left">
<tbody>
<tr>
<td width="170" height="202"><img src="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/36.jpg" alt="" width="170" height="123" /><br />
Semut legiun yang telah membentuk sarang sementara                dengan saling bergantung pada kaki.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><a name="35"></a>Semut legiun mengoyak mangsanya di tempat  mereka bertemu, dan membawa potongan mangsa kecil-kecil ke sarang sementara. Makanan  yang dibutuhkan koloni semut legiun cukup banyak. Kebutuhan sehari-hari koloni  ukuran sedang, yang terdiri atas 80.000 semut dewasa dan 30.000 larva, kira-kira  sekitar 2,27 liter makanan produk hewan.<a href="http://www.harunyahya.com/indo/buku/semut05.htm#dipnot">35</a></p>
<p><a name="36"></a>Karena tidak memiliki sarang tetap, semut  legiun selalu berpindah-pindah. Gerakan dan migrasi koloni bergantung pada daur  produksi telur. Ratu menghasilkan sekitar 25-35.000 telur selama dua hari setiap  bulan. Beberapa hari sebelum bertelur, koloni berhenti dan berkumpul di daerah  luas. Semut saling bergantungan dengan kaki yang berbentuk kait dan membentuk  sarang sementara. Ruang kosong di tengah meru-pakan ruangan, yang siap untuk didiami  ratu dan generasi baru. Wajarnya, kaki dan sendi semut di puncak harus menerima  beban berlebihan. Namun, karena tubuh mereka dibentuk mampu dibebani berat beberapa  ratus kali dari berat mereka sendiri, mereka dapat menahan seluruh koloni tanpa  masalah.<a href="http://www.harunyahya.com/indo/buku/semut05.htm#dipnot">36</a></p>
<p><a name="37"></a>Guna berburu seefisien mungkin, semut menye-suaikan  gerakan mereka dengan kebutuhan anak-anak semut yang sedang berkembang, berganti-ganti  antara fase menetap dan berpindah-pindah. Pada masa istira-hat sekitar 20 hari,  ratu yang gemuk dan tidak dapat bergerak menghasilkan 50.000 hingga 100.000 telur  sementara anak-anak lain berada dalam tahap kepom-pong yang diam. Sebagian besar  hari dilewatkan para pekerja mencari makanan untuk mereka sendiri dan ratu, melakukan  serangan singkat dari sarang dengan pola seperti mawar. Pada setiap serangan mereka  mengubah arah sebesar rata-rata 123 derajat, sehingga menghindari menyisir lahan  yang sama.<a href="http://www.harunyahya.com/indo/buku/semut05.htm#dipnot">37</a></p>
<p align="left">Semut bisa tidak keliru menghitung 123 derajat,  sesuatu yang tak dapat dihitung manusia tanpa alat. Ini seolah menunjukkan pengetahuan  matematika yang teliti. Namun, semut tidak mengenal matema-tika, berhitung pun  tak dapat. Ini menunjukkan bahwa tindakan mereka dilakukan menurut ilham istimewa,  dan tidak secara sadar.</p>
<table style="height:268px;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="3" width="300" align="center" bgcolor="#f0f0f0">
<tbody>
<tr>
<td width="391" height="266"><img src="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/37.jpg" alt="" width="62" height="180" align="left" /><span>Dengan                saling berkaitan, semut pasukan menciptakan sarang hidup. Karena                senantiasa bergerak, koloni semut pasukan tidak membuat rumah permanen                di tanah atau pohon. Akan tetapi, setiap malam pekerja berkumpul                untuk membuat naungan dari tubuh mereka sendiri. Pertama, beberapa                ekor semut memilih benda di dekat tanah, misalnya batang, lalu bergantung                dari benda itu dengan saling berkaitan cakar. Semut lain tiba, berlari                menuruni untaian, dan mengaitkan cakar sampai untaian menjadi tali                yang dapat bergabung menjadi kumpulan selebar satu meter yang disebut                bivak; rumah mereka merupakan seluruh koloni dari 200.000 hingga                750.000 individu. Di tengah-tengah sang ratu beristirahat bersama                anak-anaknya. Pada pagi hari semut mulai melepaskan kaitan untuk                keluar dan mencari mangsa.</span></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Saat larva pertama menetas, para pekerja me-ngumpulkan makanan          sementara komunitas tetap di tempat. Potongan makanan langsung diberikan          ke-pada larva. Siapnya ratu bertelur lagi biasanya ber-samaan dengan transisi          larva sebelumnya ke tahap kepompong. Pada tahap ini komunitas berhenti          lagi. Serempaknya waktu bertelur ratu dan pindahnya larva ke tahap pupa          menunjukkan perencanaan secara sadar karena ini mengurangi waktu berhentinya          pasukan.</p>
<p><a name="38"></a>Perkembangan larva mendorong semut yang  lebih tua untuk memulai daur migrasi baru. Inilah cara kerjanya: larva menghasilkan  sekresi ketika dijilat dan dibersihkan para pekerja. Penelitian menunjukkan bahwa  cairan ini efektif dalam keputusan untuk bermigrasi.<a href="http://www.harunyahya.com/indo/buku/semut05.htm#dipnot">38</a></p>
<p>Tidak logis kalau kita mengklaim bahwa larva, yang menjadi          semut pun belum, sudah terpikir untuk menyekresi cairan itu dan mengarahkan          seluruh koloni untuk memenuhi kebutuhan mereka. Satu-satunya hal yang          dapat ditangkap pengamat yang pandai adalah keberadaan Sang Pencipta tertinggi,          serta informasi dan kekuasaan-Nya di sekeliling kita.</p>
<p align="left">Semut Beludru</p>
<p>Semut beludru yang hidup di gurun pasir memiliki tubuh berbulu          banyak. Bulu alami mereka merupakan lapisan yang mengisolasi panas. Ia          menyimpan panas selama malam-malam dingin di gurun pasir, dan melindungi          diri dari panas di siang hari. Karena bersayap, semut beludru jantan bisa          menghindari panasnya pasir dengan terbang. Akan tetapi, semut beludru          betina harus berjalan di pasir yang panas karena tak punya sayap. Mereka          memerlukan bulu ini agar terlindung dari panas yang berasal dari tanah          maupun dari matahari.</p>
<p>Lalu, bagaimana menjelaskan adanya serangga yang memiliki          &#8220;bulu&#8221; untuk melindungi diri dari kondisi cuaca yang berbahaya? Mustahil          kita mengklaim bahwa hewan memperolehnya dengan beradaptasi dengan alam          sebagai proses evolusi, karena ini menimbulkan banyak pertanyaan yang          tetap tidak terjawab: Apakah semut beludru betina mati karena suhu tinggi          sebelum memiliki bulu ini? Jika memang demikian, bagaimana mereka bisa          menunggu selama beberapa generasi agar memperoleh bulu &#8220;secara kebetulan&#8221;?          Melalui kebetulan macam apa mereka mendapatkan tubuh ini?</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="3" width="177" align="left" bgcolor="#f0f0f0">
<tbody>
<tr>
<td height="430">
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="3" width="11%" align="left" bgcolor="#f0f0f0">
<tbody>
<tr>
<td height="77"><img src="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/38.jpg" alt="" width="176" height="180" /></td>
</tr>
<tr>
<td height="77"><span><img src="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/38b.jpg" alt="" width="175" height="117" /></span></td>
</tr>
<tr>
<td height="2">Gambar ini memperlihatkan dua semut beludru dari                    dua macam spesies. Hal yang sama dari semut beludru adalah mereka                    memiliki “bulu” untuk melindungi mereka dari panasnya                    lingkungan yang mereka tinggali.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Pertanyaan ini tentu saja tak berjawab, karena serangga ini          mustahil memperoleh &#8220;bulu&#8221; yang melindungi mereka dari panas melalui meka-nisme          yang terus diajukan evolusionis. Semut tak dapat hidup tanpa bulu ini          dan mereka tidak punya waktu untuk menunggu mutasi yang jarang sekali          terjadi &#8211; yang semuanya berbahaya. Jelas bahwa hewan ini telah dirancang          sejak awal untuk bertahan dalam iklim yang mereka tinggali.</p>
<p><a name="39"></a>Semut beludru betina mencari sarang serangga  atau sarang lebah jenis apa pun, yang dapat mereka gunakan setelah meninggalkan  tempat mereka kawin. Jika sudah menemukannya, mereka memasuki sarang. Mereka diperlengkapi  dengan cara menangkis upaya pengusiran. Pada akhirnya mereka terus tinggal dalam  sarang, karena semut beludru memiliki kaki kuat dan perisai yang memungkinkan  mereka masuk ke sarang lebah sekalipun. Cangkang luar mereka sangat tebal dan  keras. Para ahli zoologi mengatakan bahwa mereka mengalami kesulitan untuk menusuk  dada semut beludru dengan jarum baja.<a href="http://www.harunyahya.com/indo/buku/semut05.htm#dipnot">39</a></p>
<p><a id="40" name="40"></a>Setelah masuk, semut ratu beludru yang  memiliki segala macam ke-lengkapan untuk tinggal dalam sarang lebah, mulai memakan  simpanan madu. Selain itu, ia meninggalkan telurnya dalam sel pupa atau kepompong  lebah. Larva semut yang menetas memakan pupa inangnya, dan kelak menjadi pupa  juga. Lebah meninggalkan sarang pada akhir musim panas. Semut beludru melewatkan  musim dingin dalam sarang ini sebagai pupa. Menurut satu catatan, ada sarang lebah  yang berisi 76 semut beludru dan hanya dua ekor lebah.<a href="http://www.harunyahya.com/indo/buku/semut05.htm#dipnot">40</a> Contoh ini menunjukkan betapa semut beludru betina efektif dan berhasil dalam  menangani lebah betina. Dengan menggunakan taktik halus, semut ratu beludru menduduki  sarang dari dalam dan merebut kendali sarang itu.</p>
<p>Yang patut dicatat adalah bahwa semut beludru sangat mengenal          lebah, dan lebih lagi, tahu betul cara mengelabuhinya. Jadi, mungkinkah          ada sosok selain sang Pencipta lebah Yang mengilhami si ratu dengan ciri-ciri          fisik, gaya hidup, dan struktur sarang seperti lebah? Satu-satunya penjelasan          logis adalah menerima keberadaan Pencipta tunggal yang telah menciptakan          semut, lebah, dan, sesung-guhnya, segala makhluk hidup.</p>
<p align="left">Semut Api</p>
<p><a name="41"></a>Semut api adalah se-rangga merah berukuran  kecil. Namun, mereka mampu me-lakukan hal-hal besar. Ratu semut jenis ini, yang  memiliki 20 varietas di Amerika saja, dapat memproduksi hingga 5.000 telur sehari.  Sementara banyak koloni spesies semut memiliki beberapa ratus pekerja, koloni  spesies ini memiliki sekitar setengah juta pekerja. Satu ratu semut api yang sudah  kawin dapat memproduksi sebuah koloni dengan 240.000 pekerja.<a href="http://www.harunyahya.com/indo/buku/semut05.htm#dipnot">41</a></p>
<p>Pekerja semut api menyerang mangsa dengan sangat agresif          meng-gunakan jarum beracun. Telah diamati bahwa semut api muda dapat mencederai          atau bahkan membunuh reptil atau bayi menjangan. Selain itu, semut agresif          ini dapat memadamkan listrik dengan merusak kabel. Pernah mereka menyerang          Amerika Selatan dan mengakibatkan keru-sakan yang mengerikan. Jurnal dan          majalah tahun itu menginformasikan bahwa semut-semut ini mengunyah putus          kabel listrik sehingga listrik padam, menggagalkan panen senilai miliaran          dolar, meruntuhkan jalan tol dan menyengat manusia, mengakibatkan shock          alergi yang melum-puhkan. Mereka melakukan semua ini dengan rahang mereka          yang kuat. Mereka bahkan menggali terowongan di bawah jalan menyebabkan          jalan dan jalan tol runtuh, juga kerusakan lain di lingkungan.</p>
<p align="left">Perlindungan dari Kuman</p>
<p>Para ahli Amerika telah mencoba berbagai cara untuk mencegah          kerusakan karena semut api. Mereka mencoba menyebarkan penyakit menular          dalam koloni dengan menyuntikkan kuman ke dalam lalat yang dimakan semut.          Namun, secara menakjubkan, diamati bahwa lalat ber-kuman itu sama sekali          tidak mencederai semut. Dalam analisis di-temukan bahwa semut memiliki          salah satu sistem pertahanan yang paling menarik di dunia makhluk hidup:          struktur di dalam leher yang melindungi mereka dari kuman…. Berkat struktur          ini, bakteri di dalam makanan apa pun yang dimakan semut tertahan di leher          dan tidak dapat memasuki tubuh.</p>
<p><a name="42"></a>Namun, bukan itu saja sistem perlindungan  semut api sebagai produk kecerdasan tertinggi. Mereka juga menyemprotkan cairan  antimikroba yang diproduksi dalam kantung racun mereka di sekitar sarang dan pada  larva. Dengan demikian, sarang dan larva menjadi sama sekali bebas kuman.<a href="http://www.harunyahya.com/indo/buku/semut05.htm#dipnot">42</a></p>
<p>Walau dilengkapi sistem pertahanan luar biasa, semut-semut          ini jelas tidak menyadarinya. Dapatkah manusia yang berhati nurani mengklaim          bahwa sistem semacam ini berevolusi secara kebetulan? Juga tak dapat diklaim          bahwa semut menemukan sendiri sistem ini. Lalu siapa yang menempatkan          saringan dalam leher semut? Siapa yang mengilhami mereka memproduksi cairan          antimikroba? Tak diragukan lagi, Yang Menciptakan ciri-ciri, yang tak          dapat diciptakan manusia, semut, dan keberuntungan acak, adalah Allah          yang Mahatahu.</p>
<p align="left">Semut Pekerja Keras</p>
<p>Semut api spesialis pertahanan juga rajin dan punya keterampilan          tinggi. Mereka dapat membangun bukit setinggi 30 cm dan selebar 60 cm,          atau menggali terowongan labirin hingga sedalam 1,5 m di bawah tanah.          Di wilayah-wilayah tertentu, semut api membangun bukit-bukit kecil hingga          lebih dari 350 buah. Kemampuan makhluk sekecil itu mem-bangun sarang sebesar          itu tentu bergantung pada kerajinannya. Jadi, apakah kekuatan yang menjadikan          semut sebagai salah satu makhluk hidup terajin di dunia? Sangat menakjubkan          bahwa mereka bekerja sepanjang hari tanpa berhenti atau beristirahat,          dan membangun sarang yang tersebar di wilayah yang luas. Tak satu pun          berkata, &#8220;Aku bekerja terlalu keras hari ini, biarkan aku beristirahat          sebentar,&#8221; atau &#8220;Aku tak mau bekerja hari ini. Biarkan aku duduk di pojok          saja.&#8221; Inilah topik yang harus direnungkan dengan seksama. Jangan dilupakan          bahwa manusia adakalanya menyerah karena lelah, bahkan saat mereka tahu          mereka harus menyelesaikan tugas, dan adakalanya mereka tidak memaksakan          diri karena mereka lelah atau merasa malas. Namun, semut menun-jukkan          kemauan dan upaya besar untuk merampungkan tugas yang mereka mulai hingga          berhasil. Dia yang memberi semut kemauan dan tekad ini, yang lebih kuat          daripada manusia, tentu saja adalah satu-satunya penguasa segala sesuatu:          Allah.</p>
<p align="left">Penguasa Taktik yang Dapat Menembus Sistem          Pertahanan</p>
<p><a name="43"></a>Musuh semut api yang paling menyeramkan  adalah Solenopsis davgeri, suatu spesies semut parasit. Jadi, makhluk hidup yang  dapat menembus sistem pertahanan bertingkat mereka, yang bahkan sulit dipahami  manusia, adalah spesies semut lain. Tak diketahui bagaimana semut parasit ini  dapat menyusup ke dalam sarang semut api. Namun, begitu mereka masuk, semut parasit  langsung menyerang ratu dan bergantung pada antena, kaki, atau lehernya. Karena  semut pekerja biasanya harus menghancurkan setiap penyerang, fakta bahwa mereka  tidak melakukan apa-apa pada makhluk yang satu ini sulit dijelaskan. Namun ada  jawaban sederhana. Saat menempel pada leher ratu, si parasit meniru feromon ratu.  Selanjutnya, para pekerja bersusah payah memberi makan parasit yang telah menundukkan  ratu mereka.. Ratu mereka mati, sedang mereka mengira telah memberinya makan.<a href="http://www.harunyahya.com/indo/buku/semut05.htm#dipnot">43</a></p>
<p align="left">Semut Gurun</p>
<p>Sebagian besar makhluk hidup mustahil hidup di dalam pasir          membara bersuhu 65<sup>o</sup> C, termasuk manusia. Namun, ada semut yang dapat terus          hidup pada suhu ini. Nah, bagaimana Namib ocymyrmex, yang merupakan semut          gurun hitam berukuran sedang dan berkaki panjang, hidup dalam panas tinggi          ini?</p>
<p>Bagi semut Namib, hari biasa di gurun tidak dimulai pada          satu waktu tertentu. Yang memulai hari-hari adalah suhu permukaan pasir          standar setelah mencapai 30<sup>o</sup> C. Tepat pada suhu ini semut mulai keluar          dari sarang bawah tanah untuk mencari makanan. Karena tubuh mereka sangat          dingin, mereka tak dapat bergerak lurus dan berjalan terseok-seok. Namun,          ketika suhu meningkat, semakin banyak semut keluar dan mereka mulai bergerak          lebih lurus dan cepat. Lalu lintas tertinggi keluar-masuk sarang adalah          pada suhu 52,2<sup>o</sup> C. Ketika suhu melebihi ini, gerakan terus berlanjut,          tetapi ketika suhu mencapai 67,8<sup>o</sup> C, lalu lintas berhenti. Suhu ini dicapai          sekitar sejam sebelum tengah hari. Ketika suhu mulai turun pada sore hari,          pencarian makanan dimulai lagi dan berlanjut sehingga suhu permukaan jatuh          hingga 30<sup>o</sup> C.</p>
<p>Semut mungkin mencari makanan sekitar enam hari jauhnya          dari sarang tanpa dimangsa hewan apa pun. Pada masa ini mereka membawa          pulang makanan yang beratnya 15-20 kali lipat berat mereka sendiri.</p>
<p>Semut, yang tak bisa pulang ke sarang ketika suhu di padang          pasir sangat tinggi, menggunakan metode yang cukup menarik untuk ber-lindung          dari panas. Suhu udara menurun jika jarak semakin jauh ke atas pasir.          Misalnya jika suhu pasir 67,8<sup>o</sup> C, suhu udara sedikit di atasnya adalah          55<sup>o</sup> C. Jadi, jika suhu permukaan pasir di atas 52,2<sup>o</sup> C, semut mendaki          benda seperti tumbuhan dan berdiam di situ sementara untuk mendingin.          Suhu tubuh semut yang kecil bisa cepat turun hingga mencapai suhu sekitar.          Dalam batang pohon, suhu bervariasi antara 30 hingga 38,3<sup>o</sup> C. Jeda pendinginan          ini memungkinkan semut mencari makanan dalam panas membara, meskipun terputus-putus.</p>
<p>Pada suhu tinggi, jika tidak dapat menemukan tempat dingin          dalam beberapa detik, semut akan mati kepanasan. Malah, jika suhu pasir          di atas 52,2<sup>o</sup> C, mereka mengambil resiko setiap kali meninggalkan sarang.          Lalu, bagaimana semut gurun melepaskan dari kematian tak terhin-darkan          ini? Karena mereka tidak mengukur suhu dengan termometer, kita dapat berkata          bahwa mereka tercipta dengan mengetahui apa harus dilakukan pada suhu          apa dan mengetahui hal-hal ini sejak pertama kali mereka meninggalkan          sarang.</p>
<p>Ya, semut gurun telah diciptakan dan dilengkapi dengan kemam-puan  khusus untuk hidup di gurun. Allah, yang telah menciptakan rahang tajam untuk  semut pemotong daun, telah mengilhami semut gurun dengan pengetahuan cara melindungi  diri.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/seranggakita.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/seranggakita.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/seranggakita.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/seranggakita.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/seranggakita.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/seranggakita.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/seranggakita.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/seranggakita.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/seranggakita.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/seranggakita.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/seranggakita.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/seranggakita.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/seranggakita.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/seranggakita.wordpress.com/62/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=seranggakita.wordpress.com&amp;blog=8822584&amp;post=62&amp;subd=seranggakita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://seranggakita.wordpress.com/2009/08/01/spesies-semut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/99e248df202ce5cf23eac26b4fb80b8c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">seranggakita</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/19.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/29a.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/28a.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/26.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/20.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/23.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/kolaj4.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/27c.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/27b.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/27.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/28.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/27a.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/29.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/30.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/31d.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/31b.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/31c.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/33.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/34.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/35.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/36.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/37.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/38.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.harunyahya.com/indo/buku/images_semut/38b.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
